Page 2 of 24

dscf0382

Hafa, anak tengah. Tidak hanya unik gayanya, tapi juga pola pikir dan pola belajarnya. Ini semua memberikan tantangan sendiri dalam mendidiknya.

Pendidikan tidak sekedar menambahkan pengetahuan belaka. Pendidikan adalah membangun manusia sesuai karakter khasnya, berdasarkan potensi terbesarnya. Pendidikan tidak sekedar mengajar, tetapi juga mengasuh.

Buka puasa mengajarkan satu hikmah bahwa semua perjuangan itu ada etapenya. Ada terminal dan pemberhentiannya. Ada ujungnya.

Mengapa kita kuat berpuasa?
Secara teknis, karena kita tahu bahwa kita akan menjumpai buka puasa.
Secara teknis, kita tahu bahwa haus kita ini ada akhirnya.
Secara teknis, kita tahu bahwa lapar kita akan ada akhirnya.
Maka, Alhamdulillah, kita semua kuat menahan lapar dan dahaga.

Begitulah, ketika kita punya visi-misi hidup yang terukur.

Maka, kita akan punya stamina yang lebih panjang untuk menjalankan riyadoh-riyadoh, menjalani masa-masa sulit, menjalani, mungkin, masa-masa sedang menunggu bagaimana kejutan Allah akan terjadi setelah kita bersedekah dahsyat.

Maka, Saudara-Saudaraku semua, selamat menikmati hikmah buka puasa. Tentukan goals hidup kita, di mana kita akan raih dan nikmati perjuangan, karena kita yakin Allah akan menyampaikan kita pada visi, misi, dan mimpi kita itu…

Berapa kali dalam sehari kita mengucap ALHAMDULILLAH?

Tak terhitung berapa kali kita mengucap hamdalah. Namun, berapa persen diantaranya yang kita ucap dengan menghadirkan rasa dan penghayatan?

Alhamdulillah adalah sebuah ungkapan pujian. Praise to Allah, Rabb, Tuhan Penguasa alam semesta.

Kita memuji sesuatu biasanya karena 2 hal. Pertama, karena sesuatu tersebut memiliki keunggulan atau kelebihan atau kesempurnaan tertentu. Untuk kasus ini kita biasa keluar ungkapan, “wow hebat”, “wah luar biasa”, dan sejenisnya.

Kedua, karena sesuatu tersebut memberikan keuntungan untuk kita. Mungkin ga ada keunggulan tertentu, tapi pemberian ini pas sesuai kebutuhan kita. Dengan berbunga kita biasa mengucapkan terima kasih.

Nah, Allah SWT memiliki dua alasan tadi untuk melahirkan pujian dari hamba-hambaNya. Pertama, Allah itu sempurna. Bahkan lebih dari itu, Allah adalah pencipta kesempurnaan. Kedua, Allah adalah Pemelihara alam raya, penjaga dan pelindung, serta yang tiada henti memenuhi kebutuhan kita.

Maka, ucapan hamdalah seyogyanya kita hadirkan dengan rasa. Ucapan yang diungkapkan dari hati yang penuh kekaguman yang amat sangat, dari seorang pribadi yang sedang berterimakasih banget banget.

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamiin
All praises is due to Allah, Lord of the worlds.

image

Tidak berhenti cerita tentang Muhammad diperdengarkan. Ribuan bahkan jutaan kisah tentangnya sudah banyak dituliskan.

Ya, Muhammad adalah mata air jernih yang tidak pernah berhenti mengalirkan keteladanan akhlak, kekuatan kasih sayang, dan keteguhan keimanan.

Apa sebenarnya rahasia di balik itu semua?

Muhammad adalah manusia langit. Beliau adalah makhluk bumi yang terpilih untuk bisa berbicara dengan malaikat, bahkan bercakap langsung dengan Allah Tuhan Semesta.

Maka, layaklah Muhammad menjadi manusia yang keimannya paling kokoh dan keyakinannya paling menjulang.

Sebegitu hebatnya ia sebagai manusia langit, ternyata kasih sayangnya membumi.

Ya, Muhammad masih tetap manusia bumi.

Suatu ketika, seorang sahabat sedang berbelanja di pasar. Tiba-tiba, seorang lelaki mendekap dari belakang dan membuat sahabat itu tidak berdaya sampai agak susah bernafas.

Sambil meronta sang sahabat berteriak, “Hai, siapa kamu?! Jangan main-main!”

Lelaki yang merangkul itu kemudian berkata sambil tertawa, “Coba tebak siapa aku?”

Mendengar suara emas itu, sang sahabat tidak lagi meronta.

Justru, ia mendekatkan tubuhnya ke laki-laki itu sambil berkata, “Terus saja engkau memelukku, Wahai Sang Rasul. Aku tidak akan melepaskan diriku lagi.”

Puluhan kisah lain menceritakan kepada kita bagaimana manusia langit itu adalah juga manusia bumi yang ada di tengah-tengah kita, bersahabat dan bercanda bersama kita.

Dia tidak bertahta di atas singasana.

Dia justru berkelana merasakan penderitaan umatnya.

Dia tidak memikirkan kemuliaan dirinya, tetapi sebaliknya, keselamatan kita yang menjadi sumber kegelisahannya.

Yang badannya sampai gemetar karena memikirkan kita.

Sudahkah hati kita berdebar ketika mendengar namanya?

Hidup …

Satu demi satu huruf aku eja untuk mendefinisikan tentang hidup. Tiga belas ribu lima ratus hari kumengeja, tapi tetap saja aku tidak paham apa itu hidup. Ya, hari ini dan juga esok hari, juga lusa dan seterusnya, aku masih akan terus mengeja sampai kudapat dengan sempurna definisi tentang hidup.

Hidup …

Tak pernah kulihat bentuknya secara utuh. Selama ini kumelihat dengan kacamata waktu. Hari demi hari kujalani, melihat bagian demi bagiannya. Pernah suatu hari, dengan rasa penasaran yang tak tertahan lagi, kunaiki gedung tertinggi untuk melihat ke bawah, berharap bentuk utuhnya terlihat. Tapi, tetap saja aku tak berhasil melihatnya.

Hidup …

Pasti ada seseorang yang mengenalnya, pikirku. Lalu kutemui pujangga, kujumpai cendekia, juga kutanyai ulama. Wow, mereka berkisah sangat antusius tentang hidup. Aku menyimak semua kisah itu sampai akhir. Tapi, tetap saja aku tidak mendapati makna. Mereka memang mengenal hidup, tetapi ternyata yang diceritakan padaku hanyalah potretnya belaka.

Hidup …

Tampaknya memang benar bisikan nuraniku waktu itu. Aku harus bertanya pada ibu kandungnya untuk tahu tentang hidup. That’s it. Aku harus mengenal ibu kandungnya hidup, harus mulai banyak bicara dengannya, karena tampaknya inilah jalan satu-satunya sehingga aku akan dapat menjawab pertanyaan tentang hidup.

Depok, 18 Desember 2014
00.01 WIB