Ramadhan Kariim

Salah satu keistimewaan Ramadhan adalah adanya sebuah malam yang disebut Lailatul Qadr. Malam itu disebut juga sebagai malam seribu bulan mengacu pada QS Al Qadr sebagai berikut:

“1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. 2. dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu? 3. malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. 4. pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. 5. malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar.”

Tidak ada yang tahu pasti kapan Allah Yang Maha Pemurah menurunkan “harta karun” tersebut. Namun, Allah SWT memberikan petunjuk melalui sabda Rasulallah SAW, “Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan” (HR Bukhari  dan Muslim). Maka tak heran umat Islam pun berbondong-bondong memadati masjid, melakukan i’tikaf, menghidupkan malam-malam dengan memperbanyak amalan pada 10 hari terakhir hanya untuk satu tujuan; memperoleh kemuliaan malam Lailatul Qadr.

Dalam konteks perburuan suci tersebut, tidak sedikit dari kita yang beraksi secara instan. Tidak dapat dipungkiri bahwa kemuliaan yang melekat pada Lailatul Qadr terkait dengan kemuliaan Al Quran. Dengan perspektif tersebut, bagaimana mungkin kita mendapatkan keberkahan malam Lailatul Qadr jika selama bulan Ramadhan atau bahkan selama hidup, kita mengasingkan Al Quran.

Dapat disimpulkan bahwa memperoleh kemuliaan malam Lailatul Qadr tidaklah sekedar menghidupkan malam-malam tertentu saja melainkan selayaknya dipersiapkan sejak awal Ramadhan melalui interaksi dengan Al Quran. Interaksi tersebut tidak sekedar menjadikan Al Quran sebagai hiasan di lemari tetapi dengan memeliharanya melalui bacaan dan hafalan serta menjaga keberkahannya melalui aplikasi di prilaku sehari-hari. Jika kita semua sepakat dengan perspektif ini maka Lailatul Qadr adalah salah satu momentum terwujudnya generasi Qurani.

Sejatinya Allah SWT telah memasang radar di setiap qolbu manusia untuk menangkap dan memaknai setiap petunjukNya yang tersebar baik dalam bentuk ciptaanNya (makhluk) maupun dalam bentuk rangkaian kejadian. Adanya radar hati tersebut merupakan karunia tertinggi dari Allah sebagai Al Hadiy yang hanya diturunkan kepada manusia untuk digunakan dalam mengelola perjalanan hidupnya dalam menjadi hambaNya yang terbaik.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, dosa-dosa yang kita lakukan membuat radar hati tersebut menjadi kotor. Setitik demi setitik debu menempel di mata radarnya, semakin hari semakin tebal sampai akhirnya kita tidak lagi mempunyai kepekaan terhadap petunjuk Allah. Bahkan ketika Allah Yang Maha Baik itu mencubit kita untuk mengingatkan ketika kita salah arah, kita tetap saja bebal dan menganggapnya sebagai sial belaka.

Ramadhan adalah bulan ampunan. Inilah saat terbaik jika kita menginginkan debu-debu yang membutakan radar hati tersebut sirna sehingga hidayah menjadi terang benderang di hadapan kita. Inilah bulan ketika ampunan dan penghapusan dosa diobral bagi siapa saja yang serius ingin mendapatkannya. Hal ini telah dijanjikan Allah melalui sabda Rasulallah SAW, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan kesungguhan, niscaya akan diberikan ampunan kepadanya atas dosa-dosanya yang telah lalu” (HR Bukhari dan Muslim).

Tidakkah kita mendamba radar hati yang tajam, yang firasatnya sesuai kehendak Allah. Itulah mereka yang bahagia di setiap episode hidupnya. Bukan karena harta atau hal-hal duniawi lainnya melainkan karena setiap keinginan yang diolah melalui radar hatinya sesuai dengan kehendak dan takdir Allah.

Salah satu karunia Allah kepada kita adalah ditanamkannya nafsu dalam diri ini. Dengan nafsulah kita mampu bertahan hidup. Bayangkan kita hidup di dunia dengan raga seperti ini, lalu tidak mempunyai kemauan makan dan minum sama sekali, dijamin kita akan mati. Jadi, nafsu yang diinstall sebagai salah satu software dalam diri kita merupakan salah satu penunjang hidup yang utama.

Namun, setan yang jenius itu kemudian melihat nafsu sebagai pintu masuk mereka dalam menundukkan manusia agar sebanyak-banyaknya cucu Adam menemani mereka di neraka. Setan kemudian menghembus-hembus nafsu menjadi besar dan meraksasa. Itulah ketika dikatakan hidup kita ini ditunggangi nafsu. Makan tidak sekedar untuk mempertahankan hidup tetapi untuk memenuhi nafsu yang udah menggelembung tadi. Rumah, mobil, gadget dan segala properti kita kejar untuk dipunya tidak sekedar untuk memenuhi kebutuhan berkarya sebagai khalifah tetapi menjadi ajang kompetisi duniawi yang begitu menyenangkan dan menggairahkan.

Disinilah peran penting PUASA yang kita jalani selama ramadhan ini. Puasa mengembalikan posisi pandang kita terhadap nafsu pada posisi yang seharusnya. Siapapun kita pasti akan mengalami reposisi nafsu dalam diri asal benar-benar menjalani puasa sebulan ini. Bersyukurlah bagi yang puasa tidak sekedar lapar dan dahaga, karena pasti dampak puasanya tidak sekedar reposisi nafsu tetapi bahkan telah mengembalikan dirinya sendiri sebagai majikan dan penunggang nafsu.

Kita kita telah di penghujung bulan suci ini. Satu hal yang penting untuk menjadi renungan akhir adalah kesadaran tentang nafsu ini. Bahwa nafsu adalah tunganggan kita. Bahwa kita harus menjaga nafsu pada fungsinya sebagai penyokong hidup jasad semata. Bahwa kita harus tahu betul posisi musuh abadi kita, setan laknat, yang terus meneropong nafsu ini sebagai kelemahan terbesar kita. Bahwa, seiring dengan berakhirnya bulan suci ini, kita harus memasang TEKAD untuk mengendalikan nafsu. Titik.

Salah satu isu hangat di masyarakat di setiap ramadhan adalah masalah penetapan 1 Syawal. Berbagai pertanyaan mengemuka, “kapan nih jadinya lebaran?” atau “lebaran nanti beda-beda nggak ya?”. Kesemuanya itu sedikit banyak menunjukkan perlunya pemahaman kita tentang 1 Syawal dan beberapa metode yang digunakan untuk menentukannya.

Tentu kita sudah mafhum bahwa 1 Syawal adalah penanggalan Hijriyah atau Qomariyah atau penanggalan berdasarkan bulan. Berbeda dengan terbit dan tenggelamnya matahari yang memiliki regularitas lebih ‘ajeg‘, terbit dan tenggelamnya bulan terus bervariasi secara dinamis setiap bulan dan setiap harinya. Maka, diperlukan perhitungan atau pengamatan setiap saat untuk dapat menentukan secara pasti kapan tanggal 1 di setiap bulan Hijriyah dimulai.

Nah, terkait dengan penetapan 1 Syawal, dasar dari semua metode penetapan adalah hadist Nabi, “Berpuasalah kalian apabila melihatnya (bulan) dan berbukalah kalian apabila melihatnya (bulan)” [HR. Bukhari & Muslim]. Jadi, kita diperintahkan untuk melihat bulan di ufuk barat di setiap tanggal 29 Ramadhan. Jika terlihat, berarti maghrib itu sudah masuk 1 Syawal dan besoknya Idul Fitri. Jika tidak terlihat, berarti belum 1 Syawal, maka kita menggenapkan Ramadhan menjadi 30 hari, dan berarti Idul Fitri jatuh pada lusanya.

Perkembangan astronomi dan ilmu yang menyertainya (ilmu falak) membawa kita pada metode yang sekarang kita kenal dengan hisab (perhitungan). Dengan teknik ilmu falak, kita dapat mengetahui posisi benda-benda langit termasuk posisi bulan dan matahari pada waktu tertentu.

Untuk menentukan 1 Syawal, kita menghitung terlebih dahulu kapan terjadinya Ijtimak (new moon), yaitu saat dimana matahari-bumi-bulan berada dalam satu garis lurus. Semua perhitungan pada kasus tahun ini menyatakan bahwa Ijtimak terjadi pada 29 Agustus 2011 pukul 10.04 WIB tadi. Dari sudut pandang Ijtimak tersebut, sebenarnya sore ini kita sudah bertanggal 1 Syawal 🙂

Selanjutnya, mengacu pada hadist di atas, kita harus memastikan syarat kedua, apakah bulan tersebut “ada” di atas ufuk barat dalam perspektif kita berdiri. Dengan kata lain, pada saat matahari tenggelam, bulan belum tenggelam alias masih terbit walau hanya beberapa menit. Kondisi sebaliknya, jika bulan telah tenggelam ketika matahari tenggelam, dapat dipastikan bulan tidak ada di atas ufuk meski sudah Ijtimak.

Nah, dari sinilah terjadi beberapa perbedaan pendapat. Pendapat pertama, Wujudul Hilal, yang berpendapat bahwa 1 Syawal terpenuhi ketika berdasar hitungan bulan ada di atas ufuk. Berdasarkan perhitungan, maghrib nanti bulan sudah terbit pada ketinggian 1 derajat 48 menit di atas ufuk. Berdasar pendapat inilah, maka beberapa pihak telah menetapkan bahwa 30 Agustus merupakan 1 Syawal.

Pendapat kedua, Imkanurrukyat, yang berpendapat bahwa 1 Syawal terpenuhi ketika berdasar hitungan bulan ada di atas ufuk dan punya ketinggian yang memungkinkan untuk dilihat. Dalam konteks pendapat kedua ini, ada yang mengatakan ketinggian bulan harus minimal 2 derajat untuk memenuhi syarat visibilitas. Nah, karena ketinggian bulan dari ufuk maghrib ini ‘hanya’ 1’48” maka pendapat kedua menggenapkan Ramadhan menjadi 30 hari atau 1 Syawal jatuh pada 31 Agustus 2011.

Metode hisab digunakan beberapa pihak sebagai metode utama. Artinya mereka tidak melakukan lagi pengamatan bulan secara langsung (rukyat). Namun, sampai saat ini masih banyak pihak yang menjadikan metode rukyat sebagai metode utama. Artinya, hisab adalah pendukung dilakukannya pengamatan bulan secara langsung. Dengan rukyat sebagai metode utama, apapun hasil perhitungan hisab, jika terlihat bulan, maka besok adalah 1 Syawal, sebaliknya jika bulan tidak terlihat, maka Ramadhan menjadi 30 hari.

Jadi, saat ini terdapat 3 kelompok pendapat. Kelompok pertama, yang menggunakan hisab wujudul hilal dan sudah menetapkan 1 Syawal adalah 30 Agustus 2011. Kelompok kedua, yang menggunakan hisab Imkanurrukyat dan sudah menetapkan 1 Syawal adalah 31 Agustus 2011. Kelompok ketiga, yang menggunakan Rukyat (pengamatan langsung) yang hasilnya penetapannya baru akan diketahui setelah melihat bulan maghrib ini.

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Agama, akan melakukan sidang Itsbat (penetapan) dengan memperhatikan semua masukan dan pendapat tesebut. Memang penetapan yang dibuat pemerintah nantinya tidak bersifat mengikat, namun mudah-mudahan sebagai hub bertemunya berbagai pendapat, ketetapan pemerintah menjadi keputusan terbaik.

Wallahu’alam.

Kepompong menghimpit raga sang ulat
Menghisap cairan sampai saripatinya
Membelenggu kaki tangannya dalam tapa

Kepompong mengalirkan cairan
Membentuk badan kupu-kupu yang aerodinamis
Membentangkan sayapnya dengan simetris
Mengalirkan zat pewarna yang indah tiada tara

Ternyata … kepompong adalah hadiah terindah
Dari Sang Pencipta untuk kehidupan

Ramadhan laksana kepompong …
Menghimpit raga lewat lapar dan dahaga
Menghisap energi melalui laku menahan pandang
Membelenggu sukma melalui tapa lisan

Kepompong ramadhan mengalirkan energi takwa
Menempa pribadi menuju akhlak mulia
Menggembleng jiwa dalam yakin yang tegak
Itulah modal bahagia seorang hamba

Ya, Ramadhan adalah hadiah terindah
Dari Sang Pencinta untuk abdiNya

Barang siapa yang bersedia memasukinya
Tak hanya dengan lapar dahaga
Tapi juga dengan keikhlasan tapa
Maka, Ramadhan akan jadi kepompong baginya