Keluarga Sakinah

dscf0382

Hafa, anak tengah. Tidak hanya unik gayanya, tapi juga pola pikir dan pola belajarnya. Ini semua memberikan tantangan sendiri dalam mendidiknya.

Pendidikan tidak sekedar menambahkan pengetahuan belaka. Pendidikan adalah membangun manusia sesuai karakter khasnya, berdasarkan potensi terbesarnya. Pendidikan tidak sekedar mengajar, tetapi juga mengasuh.

Medina Mecca

Semoga Allah Yang Maha Baik berkenan mengisi relung hati mereka dengan CahayaNya, berkenan pula menyempurnakan akhlak mereka, juga berkenan menuntun langkah demi langkah dalam mengarungi kehidupan ini

Menurut saya, sumber kegalauan terbesar di dunia saat ini adalah masalah JODOH. Inilah pertanyaan yang terus relevan di sepanjang usia manusia, dalam berbagai bentuk dan perspektif. Inilah masalah yang misterinya tidak akan pernah habis dibahas dalam ratusan seminar.

Banyak diantara kita yang bertekad, “Saya mau pasangan yang benar-benar mencintai diri saya”. Beberapa di antara kita berkata, “Saya mau pasangan yang good looking“. Beberapa lainnya “Saya ingin pasangan hidup yang potensial”. Ada juga yang berkata, ” Saya mau pasangan yang siap”. Di beberapa tempat ada juga yang berkata, “Nggak penting seperti apa pasangan saya, yang penting setelah menikah nanti saya nggak mau mikir berat-berat lagi”. Ada juga yang penuh determinasi mengatakan, “Saya mau pasangan yang sholeh, yang bisa mengajak bersama2 ibadah”.

Tidak dapat dipungkiri, kita memiliki gambar di alam bawah sadar kita tentang pasangan idaman. Pengalaman hidup, latar belakang keluarga, ilmu yang diserap, tetangga yang diamati, gosip yang didengar, semuanya membentuk gambar tentang bagaimana seharusnya pasangan itu. Maka, hampir dapat dipastikan setiap individu di dunia ini memiliki persepsi, gambaran atau perceived value yang berbeda-beda.

Pertanyaannya, apakah gambaran pasangan ideal yang kita miliki itubenar-benar sesuatu yang terbaik buat kita?

Ketika seseorang mengatakan jatuh cinta pada seseorang yang lain, jangan-jangan yang jatuh cinta adalah matanya karena melihat sesuatu yang menarik mata di diri seseorang tersebut. Atau jangan-jangan yang jatuh cinta adalah telinganya karena mendengar buaian kata dari seseorang tersebut. Bisa jadi pula yang jatuh cinta adalah logikanya karena semua hal logis yang dibangun tentang pasangan ideal ada di seseorang tersebut. Atau, mungkin yang jatuh cinta adalah perasaannya??

Sejatinya, bicara jodoh adalah bicara hati. Hati disini bukan sekedar liver, tetapi Qolb, sebuah radar dalam diri kita yang berisi banyak sekali informasi berharga. Kita sering mendengar ungkapan, “dengarlah kata hatimu”, karena dari hatilah muncul suara terjernih dan termurni tentang segala yang terbaik buat kita. Kok bisa begitu? karena melalui hatilah Tuhan berbicara dengan kita. Tetapi sayangnya, seringkali kita tidak dapat mendengar suara hati kita sendiri, karena terlalu bising oleh suara mata, suara telinga, suara perasaan, dan sebagainya.

Ya, bicara jodoh adalah bicara tentang suara hati. Tuhan Maha Baik. Dialah yang tahu persis pasangan terbaik buat kita itu seperti apa, baik fisiknya maupun mentalnya. Inilah yang disebut dengan jodoh sebagai takdir. Tapi Tuhan tidak ‘egois’, Dia yang Maha Baik itu sebenarnya telah mengkomunikasikan hal tersebut dalam hati kita. Radar hati lalu tanpa lelah memancarkan gambaran tersebut. Namun sayang, kita sering menulikan dan membutakan diri sendiri dengan cintanya mata, cintanya telinga atau cintanya perasaan tadi.

Akibatnya, sering kita merasa capek urusanjodoh ini. Kita mencari dan mengejar yang bukan jatah kita. Alangkah beruntungnya kita yang jatuh cinta pada seseorang dan jatuh cintanya itu selaras dengan pancaran radar hati tadi. Sebaliknya, alangkah sengsaranya seseorang jika dia jatuh cinta pada seseorang tetapi tidak sesuai dengan frekuensi radar hati, karena pasti jatuh cintanya itu tidak berujung pada perjodohan. Bisa jadi kita akan tersesat, jatuh cinta sama jodohnya orang lain. Hmm, betapa galaunya fenomena ini …

Maka, sebelum kita jatuh cinta, jagalah pandangan dan pendengaran kita. Jika kita mampu menjaga panca indera kita dengan baik, maka tidak akan terdapat banyak ‘noise’ yang menganggu radar hati kita.

Akhirnya, kunci dari segalanya adalah berdialog dengan Tuhan. Berdoalah. Dahulukan berkomunikasi denganNya dibandingkan memanjakan perasaan. Prioritaskan mematuhi perintahnya dibandingkan mengurusi hal-hal lainnya. Kalau sudah demikian, pasti kita akan jodoh mendekat, kebahagiaan didapat.

Suasana heboh di pagi hari saat membangunkan anak-anak mungkin menjadi suasana khas di rumah kita masing-masing. Terutama bagi yang kita yang anak-anaknya sudah memasuki usia sekolah. Salah satu hal yang sering menjadi concern kita adalah “susahnya” membangunkan anak-anak di pagi hari. Dari mulai cara lemah lembut, sampai pakai ancaman. Atau beberapa pakai asmaul husna (in a bad way), maksudnya teriak2 menyebut nama Allah karena si anak tidak bangun2 juga.

Nah, ada sebuah tips yang saya pelajari yang saya ingin bagi dalam tulisan ini. Sebuah kiat bahwa untuk membangunkan anak2, yaitu “bangunkanlah mereka sejak sebelum tidur”. Maksudnya apa? Simak selanjutnya …

Pada saat anak-anak meredup alias ngantuk di malam hari, ajaklah bicara tentang esok hari. Tentu saja dengan penuh excitement ala anak-anak sesuai umurnya. Misal, ajak ngobrol “kakak, adek … kalian tahu nggak, bulan purnama tuh kalau titik paling terangnya pas subuh loh. ada yang mau lihat besok pagi??”, begitu muncul eagerness, sambung lagi, “besok pagi siapa yang mau dibangunin ayah?”, acung tangan deh semua. Kalau sudah begitu, dijamin ketika pagi menjelang, cukup dengan bisikan saja anak-anak itu sudah terbangun.

Ada banyak hal yang bisa jadi bahan untuk membangunkan anak2 sebelum tidurnya. Kadang saya juga menggunakan teknik “self-recognition“. Teknik tersebut dimulai dengan dialog menjelang tidur tentang siapa diri kita sebenarnya. Salahsatunya dengan membahas bahwa kita adalah hamba Allah dan kebahagiaan terbesar bagi kita adalah ketika disayang oleh Allah, tentu saja harus dengan penuh kreativitas sesuai umur anak. Lalu sambung dengan pertanyaan, “siapa anak ayah yang mau jadi kesayangan Allah?”, lalu mereka akan berebut acung tangan. Nah, paginya, kita membangunkan dengan sebuah trigger, “Adek, tahu nggak, anak kesayangan Allah itu bangunnya pas ada adzan shubuh loh”.

Ada juga pendekatan reward. Kalau yang ini, yang disentuh adalah pendekatan perilaku. Dalam pendekatan ini, kita buat kontrak di malamnya. Misalnya, kita menjanjikan sesuatu bagi yang bangun pagi, atau sebaliknya kita berikan punishment jika bangun melewati jam 06.00, dan sebagainya.

Silahkan dipilih dan dikombinakasikan beberapa contoh di atas, karena contoh-contoh tersebut merepresentasikan pendekatan perilaku, pendekatan nilai dan pendekatan hati. Ini berlaku untuk semua umur ya, termasuk bayi yang masih merah, karena melek pada saat shubuh adalah sesuatu yang luar biasa. Pastikan semua orang di rumah kita terbangun pada waktu shubuh itu.

Yang pasti, orang tua harus sangat kreatif, mampu menyelami pikiran anak dan FOKUS.

Anak-anak adalah anugerah yang luar biasa. Wajah yang berseri-seri dan buncah kegembiraan di dada, selalu menyambut kelahiran mereka di hari pertamanya. Di sisi lain, anak adalah amanah, titipan yang sangat besar dari Tuhan. Dengan pemahaman itu, kita mengurus sang anak tentu harus sesusi keinginan Tuhan, bukan semata keinginan kita.

Kita sebagai orang tua kadangkala sesumbar bahwasanya kitalah yang membesarkan & mengasuh anak-anak kita. Kita juga mengklaim kitalah yang mengajari dan mendidiknya. Bahkan, atas segala prestasinya, kita sering nebeng kebanggaan. Melalui tulisan ini, mari kita merenung, apa yang sebenarnya sudah kita lakukan? Kontribusi apa yang telah kita berikan untuk pertumbuhan mereka?

Lihatlah paras mereka. Apa yang sudah kita lakukan untuk mempercantiknya? Apakah kita menyumbang ide tentang bentuk wajahnya? Apakah kita ikut merancang tekstur rambutnya? Apakah kita mendesaian komposisi organ-organ di wajahnya? Maha Hebat Tuhan yang menciptakan keelokan & kecantikan pada anak-anak kita.

Kemudian, mari kita perhatikan tumbuh kembangnya. Apa yang sudah kita lakukan utk menumbuhkan tulang dan ototnya? Kontribusi apa yang telah kita berikan utk membuatnya mampu berbicara & berbahasa? Apa yang kita perbuat sehingga pencernaannya berkembang, beradaptasi dengan beragam makanan & minuman? Sistem motorik kasar dan halusnya berkembang baik, apakah kita ikut menyempurnakannya?

Lalu, mereka berprestasi. Satu demi satu pelajaran di sekolah dilahapnya. Surat demi Surat di Quran pun dihafal. Apa kontribusi kita dalam perkembangan otaknya? Sungguh luar biasa perkembangan memori mereka. Apakah kita turut serta melakukan upgrade pada neuron-neuron syarafnya?

Lihatlah betapa kasih sayang Allah melimpah ruah. Jutaan informasi, baik dan buruk, bertebaran dalam berbagai media. Tidak seluruh waktu kita bersama anak-anak kita. Tetapi, anak-anak itu terjaga dari pengaruh jahat. Mereka tumbuh positif. Ya, informasi-informasi itu terfilter. Apa kontribusi kita dalam hal ini? Dialah yang menggerakkan semuanya sedemikian rupa sehingga anak-anak itu berada dalam pergaulan yang tepat.

Ya betul, memang kita yang menyiapkan susunya sewaktu bayi. Kita merancang asupan gizinya seideal mungkin. Berjibaku kita bekerja untuk menafkahi kebutuhannya. Tapi semua yang kita perbuat itu, rasa-rasanya tidak ada seujung kuku dibandingkan kehebatan Tuhan mendesain kornea mata sang anak.

Kita pula yang memilih sekolah & memfasilitasi guru les di rumah. Tidak sembarangan, semua dengan penuh perhitungan. Kita memberi wejangan setiap hari. Tapi sepertinya semua itu tak secuilpun berbanding dengan kemurahan Tuhan menanamkan iman di hati sang anak.

Tuhan mendesain anak-anak itu dalam ukuran yang paling tepat dan presisi. Dialah Sang Arsitek itu. Lalu Dia mengurusnya, seringkali bahkan tanpa kita sadari. Lalu kita ini siapa? Kita adalah salah satu makhluknya yang diberikan kesempatan luar biasa untuk mengelola titipannya. Tak ada kesulitan sedikit pun bagi Tuhan untuk mengarahkan anak-anak kita itu menjadi apapun yang dikehendakiNya, namun kita diberi kesempatan untuk mengelola ladang amal, menghadirkan ikhtiar-ikhtiar yang menjadi trigger berkembangnya sang anak menuju pada perkembangan yang diinginkan Tuhan.

Kehebatan Tuhan mengurus anak-anak kita sekaligus menunjukkan betapa lemahnya diri kita. Bayangkan, ketika mereka tidur, untuk menjaga dari gigitan nyamuk saja kita tidak mampu. Maka, hal paling krusial dalam mengurus anak bukan terletak pada bagaimana memberi mereka makan atau memberi penjagaan secara fisik, karena kalau fokusnya ini dipastikan kita tidak akan mampu. Kita tetap meletakkan ikhtiar secara proporsional sebagai sebuah amal shaleh, namun dengan semuanya dalam bingkai kesadaran bahwa Tuhan sajalah Dzat terhebat yang menjamin rizki dan memberi penjagaan paling sempurna.

Hal paling krusial dalam mengurus anak terletak pada pengenalan Tuhan itu sendiri. Itulah kenapa warisan yang ditinggalkan Luqman kepada anak-anaknya adalah nasehat tauhid, bukan harta benda. Setelah itu, fokus berikutnya adalah pemahaman tentang kehidupan dan cara belajar.

Mudah-mudahan melalui renungan ini kita semua tergolong sebagai orang tua yang amanah, yang setiap ikhtiar pengasuhannya bersandar pada Allah, karena Allah dan untuk Allah.  Itulah makna ketika kita mengatakan, “Nak, aku mencintaimu karena Allah”.

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu” (At-Tahrim : 6)

Menentukan misi pendidikan dalam keluarga tidaklah mudah, apalagi mengimplementasikannya. Berbagai pengaruh kondisi dunia memberikan jebakan-jebakan tersendiri. Jika tidak berhati-hati, kita akan salah menempatkan prioritas, yang pada gilirannya akan menjadikan pendidikan salah arah. Kalau pendidikan keluarga salah arah, maka generasi mendatang dikhawatirkan menjadi generasi yang ambigu, sebuah generasi yang mungkin cerdas secara intelektual namun gagap secara spiritual, atau sebaliknya.

Beberapa hal yang perlu diwaspadai sebagai sebuah “jebakan” dalam menetapkan misi pendidikan adalah:

  • Salah pandang terhadap “apa yang penting”. Apa “skill of life” yang paling dibutuhkan anak-anak kita?
  • Salah perspektif tentang waktu. Anak-anak kita tidak akan hidup pada waktu kita, tetapi pada waktu mereka. Dalam hal ini, kemampuan membaca situasi masa depan akan sangat menentukan perspektif yang kita punyai

Misi pendidikan bisa apa saja. Namun, sejatinya kita harus membekali anak-anak kita dengan sebuah keahlian dasar dan fundamental, yang dengan keahlian itu apapun masalahnya dia dapat menyelesaikan dengan baik. Apakah keahlian itu? yaitu keahlian untuk merasakan kehadiran Tuhan, kemampuan berdialog denganNya dan menjadikanNya sebagai satu-satunya sandaran.

Wallahualam

Bagi saya tradisi keluarga sangatlah penting. Keluarga yang tidak mempunyai tradisi sama sekali malah mempunyai resiko terkait keberlangsungannya.

Tradisi sendiri saya pahami sebagai kumpulan kebiasaan yang telah terlembagakan, baik di institusi masyarakat, institusi keluarga atau di perusahaan. Sebagai contoh, sebuah perusahaan mempunyai tradisi family gathering di setiap minggu pertama setiap bulan. Tradisi tersebut awalnya hanya sebuah even biasa yang kemudian menjadi kebiasaan (rutinitas) dan akhirnya menjadi tradisi dimana semua komponen perusahaan tersebut merasa ada yang hilang jika family gathering itu tidak dilaksanakan. Contoh lain, sebuah keluarga yang memiliki tradisi shalat maghrib berjamaah. Tradisi shalat maghrib tersebut menjadi tidak sekedar peristiwa, tetapi menjadi pengikat batin seluruh anggota keluarga.  Contoh lain lagi, sebuah keluarga memiliki tradisi jalan-jalan pagi di akhir pekan. Itulah yang pasti akan sangat dirindukan oleh sang anak ketika seuatu saat dia harus melanjutkan sekolahnya ke luar negeri.

Dari contoh-contoh tersebut kita melihat tradisi tidak sekedar pengulangan aktivitas atau kumpulan peristiwa. Terdapat semacam “ruh” yang menggerakkan siapa saja dalam komunitas itu untuk melakukannya lagi. Terdapat tali virtual yang mengikat batin-batin orang di dalamnya.

Bagaimana membangun tradisi dalam sebuah keluarga?

Membangun tradisi adalah perjalanan panjang yang harus disertai dengan stamina yang juga panjang, disertai dengan ruhiyah yang kuat. Beberapa inspirasi terkait tradisi dapat dibaca dalam tulisan saya sebelumnya, yang berjudul Tradisi. Dalam tulisan kali ini akan diuraikan kondisi-kondisi yang diperlukan supaya sebuah tradisi dapat dibangun.

Pertama, Passion. Setiap orang melakukan tradisi tersebut dengan passion, bukan karena aturan, apalagi karena keterpaksaan.

Kedua, Kebanggan. Setiap orang merasa bangga dapat ikut serta atau melakukan aktivitas tersebut.

Ketiga, Keteladanan. Terdapat keteladanan yang konsisten dari kedua orang tua, tanpa kecuali. Faktor ketiga menjadi faktor pendorong yang paling penting terutama untuk menjaga kesinambungan tradisi.