Kanjeng Nabi

Ini sebuah kisah, 13 tahun yang lalu …

Saat itu hari tasyrik … semuanya diawali ketika saat dini hari yang dingin itu saya memutuskan duduk bersandar di sebuah tiang di Masjidil Haram, mengistirahatkan tubuh setelah melakukan tawaf. Sengaja memilih sebuah tiang yang searah dengan multazam agar sambil beristirahat masih bisa memandang Ka’bah di titik yang paling mustajab. Belum sempat doa-doa terpanjatkan, kantuk yang berat membuat kesadaran seketika turun pada level gelombang alfa. Tertidurlah saya dalam posisi duduk bersila di masjid suci tersebut.

Tiba-tiba suasana Masjidil Haram berubah. Saya masih tetap duduk di tempat yang sama, tapi suasana dan atmosfirnya jauh jauh lebih bersih, sangat sangat syahdu. Waktu melihat sekeliling saya terheran, kenapa jadi lowong begini, kemana semua orang yang tadinya memenuhi masjid. Saya bingung dengan perubahan itu, berputar-putarlah diri ini dalam pusaran berbagai pertanyaan tentang masjidil haram yang seakan pindah dimensi. Tapi kebingungan itu nggak lama, karena saya segera sadar bahwa saya dalam dunia MIMPI.

Aroma wangi yang asing menyergap dari berbagai penjuru. Tiba-tiba, belasan orang berdatangan, mengambil posisi duduk bershaf, seakan bersiap mengikuti sebuah pengajian. Belum sempat terjawab pertanyaan tentang darimana orang-orang itu, kekagetan luar biasa kembali menghinggap karena sekonyong-konyong ada sebuah mimbar di jarak sekitar 3 meter dari tempat saya duduk, entah darimana.

Semua orang berdzikir & bertasbih, masing-masing terkoneksi dengan Allah Sang Penguasa Alam Raya. Dalam dengung dzikir itu, tiba datanglah seorang lelaki dari sisi kiri. Badannya tegap, wajah khas arab dengan gurat yang mempesona, rambut ikal sebahu, dan seakan ada cahaya menyertainya. Sang lelaki ini berjalan perlahan menuju mimbar, penuh wibawa sambil menebar senyum ke sekitarnya.

Entah mengapa, mata saya tak bisa lepas dari pesonanya. Dada berdegup kencang, lidah pun kelu, dzikir pun terhenti, lidah seperti kelu, tak mampu mengucap sepatah kata. Anehnya, saya merasa sangat sangat mengenal lelaki ini. Seakan-akan sudah lama bersahabat. Tapi, siapa? siapakah dia sebenarnya?

Sejurus kemudian, lelaki itu menatap saya, tersenyum … dan … Subhanallah … Allahu Akbar … baru kali ini saya melihat senyuman yang begitu menggetarkan. Entah perasaan apa yang saya rasakan, tapi semuanya freezing, dunia pun seakan berhenti berputar.

Beberapa detik kemudian, orang-orang saling berteriak bersahutan, “Assalamualaika Ya Rasulullah … Assalamualaika Ya Nabi …”. Terhenyak. Berteriak diri ini dalam hati, “Rabbiiiii, inikah kekasihmu itu? Benarkah ini Kanjeng Nabi Muhammad? Inikah manusia termulia itu?”

Sang Rasul terus berjalan perlahan menuju mimbar, tak melepas senyumnya sesaat pun. Sesaat setelah mampu menguasai diri, saya berpikir tidak boleh menyiakan kesempatan emas ini. Saya merangsek ke depan. Saya ingin memeluknya, saya ingin melepaskan kerinduan yang membuncah ini, saya mau mencium takzim tangan surgawinya.

Sang Rasul sudah diatas mimbar, berbicara sesuatu dalam bahasa arab, sambil tetap tenang melihat gerakan saya merangsek ke arahnya, tetap dengan senyumnya. Tapi, belum sampai diri ini mendekati Sang Rasul, Allah Yang Mengusasi setiap jiwa membangunkan diri ini. Saya pun terbangun dalam keadaan menggigil dengan sebuah kenangan yang terpatri seumur hidup saya, kenangan senyum indah Rasulullah Muhammad SAW.

Apa yang kau cari dari sebuah kerinduan?
Perjumpaan kembali, bukan?

Apa yang kau cari dari sebuah cinta?
Kedamaian hati, bukan?

Wahai para pecinta Muhammad,
Sudahkan kau menemukan rindumu?

Atas kerinduan itu,
Pujilah Tuhanmu dalam syahdu,
Lalu sampaikan shalawat terindah
Terbungkus sujud khusyuk khas seorang hamba

Jika kau masih mendamba rindu itu,
Carilah di sunnah-sunnah yang berserakan
Di antara deru waktu sibukmu

Sungguh, manusia teragung itu
Tak henti mencintaimu

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيّدنامُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سيّدنا مُحَمَّدٍ

Rasulullah SAW adalah role model kita semua. Singkat cerita, kalau mau sukses dunia akhirat caranya mudah, ikuti cara hidup yang dicontohkan Rasulullah. Dan, manual kehidupan yang dicontohkan Sang Rasul itu sudah sangat lengkap, beberapa ditegaskan dalam prinsip-prinsip, sebagian lainnya dicontohkan sampai teknis.

Maulid Nabi adalah momentum terbaik bagi kita untuk instropeksi diri, sejauh mana kita telah melaksanakan sunnah-sunnah yang diajarkan dan dicontohkan oleh beliau. Maka, peringatan maulid sebaiknya kita awali dengan inventarisasi amalan sunnah apa yang telah kita lakukan secara konsisten. Dilanjutkan dengan program diri untuk memperbaiki atau menambahnya.

Ayo kita buat program “Hidupkan Sunnah” dalam perilaku dan kebiasaan kita sehari-hari. Bukan untuk siapa-siapa, melainkan untuk diri kita sendiri. Pilih salah satu sunnah utama yang selama ini jarang kita lakukan, lalu tekadkan diri untuk melakukannya, SETIAP HARI, selamanya.

Bagi yang serius membuat program ini, berikut beberapa tips sederhana supaya program yang didesain oleh dan untuk kita ini tidak hanya hangat seminggu dua minggu.

1. PILIH sesuai kemampuan. Jika selama ini jarang tahajud, tetapkan program tahajud setiap hari, mulai dengan 2 rakaat. Bagi yang jarang dhuha juga begitu. Sebaiknya hindari loncatan2 yang ‘dramatis’. Atau hal yang sederhana, bertekad untuk selalu berdoa sebelum makan apapun. Intinya sesuai kemampuan.

2. Tancapkan TEKAD dan dokumentasikan. Tekad menjadi tumpuan energi. Tanpa tekad program perbaikan diri seperti ini akan cepat layunya. Nah, salah satu cara untuk membuat tekad selalu membara adalah mendokumentasikannya. Bisa menuliskannya lalu tempel di dinding. Atau bisa juga dengan menceritakan ke keluarga atau teman terdekat.

3. Lakukan BERKELOMPOK. Ajak orang-orang yang ada di rumah kita untuk membuat program yang sama. Bisa juga ajak teman-teman di kantor. Melalui kebersamaan akan muncul energi untuk saling menguatkan dan mengingatkan.

4. Pupuk terus ILMUnya. Ilmu adalah pupuk amal. Salah satu motivasi keistiqomahan adalah dengan mengetahui fadhilah amal. Melalui majelis ilmu pula kita akan mendengar banyak pengalaman dari guru dan sahabat-sahabat yang lain.

Jadi, apa programmu? apa tekadmu?

 

“Ketika malam semakin pekat, itulah pertanda fajar kan menjelang”. Demikian setitik hikmah dari kisah Isra Mi’raj. Isra Mi’raj adalah sebuah tanda kekuasaan Allah SWT, yang proses kejadiannya jauh di atas kemampuan nalar kita. Namun kejadian tersebut  berada dalam rangkaian peristiwa yang dialami oleh Rasulullah dalam perjuangan dakwahnya. Semoga sekelumit cerita berikut membuat kita semakin menghayati perjuangan Sang Rasul dan semakin meneguhkan cinta kita kepada Allah Yang Maha Hebat.

Suatu hari di tahun 619M, ketika masa kenabian memasuki tahun kesepuluh, Rasulullah dirundung kesedihan yang mendalam. Istri beliau, Siti Khadijah, wafat. Khadijah bukanlah sekedar istri, tetapi juga sahabat dekat dan penasihat yang diandalkan. Melalui perdagangan yang dilakukan bersama Khadijah pula, Rasulullah menjumpai muara-muara rizki yang memberikan kekuatan materiil dalam dakwahnya …

Selang tidak beberapa lama, kesedihan Sang Nabi semakin bertambah-tambah dengan wafatnya Abu Thalib, paman yang selama puluhan tahun berperan sebagai Ayah. Arti penting keberadaan sang paman tidak hanya perannya sebagai Ayah, lebih dari itu, Abu Thalib adalah pemimpin Quraisy yang selama 10 tahun terakhir memberikan “perlindungan politik” bagi dakwah Sang Nabi.

Kehilangan dua orang penting dalam hidupnya membuat simpul-simpul kekuatan dakwah Rasulullah melemah. Siti Khadijah adalah simpul dukungan dana, sedangkan Abu Thalib adalah simpul dukungan politik. Ketiadaan kedua orang penting tersebut memberikan implikasi yang tidak remeh. Hal itu terlihat dari serangan2 yang semakin gencar dilancarkan oleh Kafir Quraisy, baik yang bersifat fisik maupun moril seperti penghinaan kepada Sang Nabi.

Kondisi tersebut tergambarkan ketika suatu waktu, ada yang berjalan melewati gerbang rumah Rasulullah sambil melempar kotoran ke wadah masakannya. Kadang pula, ketika Rasulullah kembali dari Kabah beberapa orang sengaja mengambil kotoran lalu melemparkannya ke wajah dan seluruh tubuh Rasulullah. Biasanya seorang putrinya akan membasuh dan membersihkannya sambil menangis. “Jangan menangis putriku” Sang Rasul berkata, “Allah akan melindungi ayahmu”.

Posisi Rasulullah beserta sahabat-sahabatnya menjadi sangat lemah. Secara geopolitik, beliau harus mengambil langkah-langkah strategis untuk mempertahankan posisi dan efektivitas dakwah. Pada kondisi tersebut, Rasulullah pergi ke Thaif mencari dukungan sekaligus mengajak orang-orang Tsaqif memeluk Islam. Namun, ajakan Rasulullah berbalas teriakan, caci maki, dan lemparan batu yang menjadikan luka-luka di tubuh dan wajah Sang Rasul.

Beliau berlari ke sebuah kebun yang cukup jauh, berlindung sampai situasi aman. Lalu Sang Nabi bermunajat, “Ya Allah, kepadaMu aku mengeluhkan kelemahanku, ketidakberdayaanku, dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai Yang Maha Pengasih, Engkau Tuhan orang-orang lemah dan Engkau Tuhanku, kepada siapa Engkau hendak menyerahkan diriku? kepada orang-orang asing yang bermuka masam atau kepada musuh yang akan mengalahkanku? Itu idak aku risaukan selama Engkau tidak murka kepadaku. Namun, rahmatMu sangatlah luas bagiku. Aku menyerahkan diri pada cahayaMu yang menerangi segala urusan dunia akhirat. Aku berlindung dari murkaMu, memohon rihaMu, karena tidak ada daya dan kekuatan kecuali atas perkenanMu“.

Rasulullah kembali ke Mekkah dengan kesedihan yang mendalam. Akhirnya beberapa waktu setelah kesedihan-kesedihan tersebut, Jibril menjemput Sang Rasul di Hijir Ismail ketika beliau sedang bermunajat di suatu malam untuk melakukan sebuah perjalanan agung. Itulah malam ketika beliau dengan kekuasaan Allah melakukan perjalanan spektakuler dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa lalu menuju Sidratul Muntaha, bertatap muka langsung dengan Sang Malik. Perjalanan agung itulah yang kemudian kita kenal dengan Isra’ dan Mi’raj.

Tak diragukan lagi, kelahiran Nabi Muhammad SAW di tahun 570 M menjadi momentum sejarah yang secara signifikan mempengaruhi peradaban manusia. Namun, apakah kita menyadari bahwa terdapat beberapa kejadian sejarah penting yang terangkai dalam kurun satu atau dua abad sebelumnya yang menghantarkan momentum kelahiran sang Rasul …

Adalah Qushay (lahir tahun 400), seorang keturunan Quraisy yang sangat cakap dan dengan kecakapannya itu mendapatkan kepercayaan sebagai orang Quraisy pertama yang menjadi penjaga Ka’bah sekaligus pemimpin kota Mekkah. Kepemimpinan Qushay menempatkan keluarga Quraisy pada posisi terhormat di jazirah Arab sebagai penjaga Ka’bah yang kredibel dan cakap …

Sepeninggalnya, amanat pengelolaan Ka’bah dan kota Mekkah terpecah dua kepada dua anaknya yaitu Abd Al-Dar dan Abd Al-Manaf. Namun, baru di generasi berikutnya terdapat kepemimpinan yang menonjol ketika dipegang oleh Hasyim (putra Abd Al-Manaf). Jamah haji dari segala penjuru puas dengan kepemimpinan dan pelayanan yang diberikan Hasyim dan keluarganya ..

Hasyim wafat ketika putranya masih kecil (lahir tahun 497 M). Maka, amanat penjaga Ka’bah diserahkan kepada adiknya Muththalib. Adiknya menerima tampuk kepemimpinan tersebut, tapi dalam rangka regenerasi, Muththalib selalu mengajak serta putra Hasyim yang masih kecil, sampai-sampai masyarakat Mekkah mengira putra Hasyim tersebut adalah budaknya Muththalib dan memanggilnya sebagai Abdul Muththalib (hambanya Muththalib) …

Waktu berjalan, tibalah saatnya Abdul Muththalib memegang amanah sebagai penjaga Ka’bah. Banyak khalayak yang mengatakan Abdul Muththalib lebih cakap dibandingkan Ayah dan pamannya. Beliau dikenal yang paling khusyuk ibadahnya, konsisten bermunajat dan berdialog dengan Allah di depan Ka’bah, dan memiliki pengaruh kuat kepada suku-suku lain. Pada masa kepemimpinannya sumur zamzam yang telah dilupakan digali kembali dan direvitalisasi untuk melayani jamah haji.

Peristiwa besar yang diabadikan dalam Al Quran juga terjadi pada periode kepemimpinan Abdul Muththalib, tepatnya tahun 569, ketika Abrahah bersama pasukan bergajah menyerbu Kota Mekkah untuk menghancurkan Ka’bah. Sejarah mencatat ketika Abdul Muththalib dengan gagah berani menghadang Abrahah dan pasukannya, meminta unta-unta miliknya dikembalikan. Abrahah berkata, “Tidak sepantasnya seorang penjaga Ka’bah memikirkan unta miliknya, padahal Ka’bah terancam kehancuran”. Abdul Muththalib menjawab, “Aku bertanggung jawab atas milikku. Ka’bah adalah milik Allah, diriku hanyalah pelayan, Allah sendiri yang akan membela Ka’bah dari kehancuran …”. Dan, Allah mengirimkan burung Ababil menghancurkan Abrahah dan pasukan bergajahnya …

Itulah rangkaian sejarah yang menghantarkan kelahiran sang Rasul …

Terlalu banyak yang dapat diceritakan tentang Muhammad sang Nabi. Apalagi jika berbicara tentang kemuliaan akhlak beliau, berjuta jilid pun tak akan dapat menuliskannya. Setiap langkah dan perkataannya mengandung makna seluas dan sedalam samudera, teladan perilakunya mengemuruhkan dada para pencintanya, dan kasih sayangnya menjadi dambaan setiap insan di akhir kehidupan …

Muhammad SAW ibarat PRISMA berjuta sisi, setiap cahaya yang mengenainya berpendar keindahan. Dari sudut manapun memandang kita akan menemukan kemuliaan dan mengundang ketakjuban yang kemudian memprovokasi sebuah rasa kerinduan untuk bertemu dengannya, yang rasanya khas menyesakkan dada …

“Kebarokahan” … itulah yang melekati hidup sang rasul. Sehingga setiap kehidupan yang disentuhnya melahirkan kebaikan-kebaikan. Luar biasanya, kebaikan itu memiliki kekuatan akselerasi, bersifat eksponensial, laksana ledakan bom atom, menyebar dan menimbulkan ledakan baru yang juga dahsyat. Lihatlah kehidupan Halimatus Sa’diyah, beribu kebaikan hadir dalam kehidupannya semenjak dirinya memberikan ASI untuk Muhammad kecil. Atau lihatlah yang terjadi dalam bisnis seorang pengusaha wanita bernama Siti Khodijah ketika Muhammad memimpin delegasi perdagangan miliknya. Dan ratusan kisah lain yang menceritakan kepada kita semua tentang barokah yang dimiliki Rasulullah …

Ayo kita meneladani Rasulullah dengan menciptakan kebarokahan dalam kehidupan kita. Mungkin kita tidak menjadi orang yang merubah nasib dunia, tetap minimal kita menghadirkan tetes kebarokahan di keluarga kita. Mari bekerja dengan sangat jujur, penuh amanah dan berkualitas, mungkin nafkah yang kita dapatkan hanya mencukupi kebutuhan sebulan saja, tetapi kebarokahan yang melekat di dalamnya akan memberikan kebaikan berlipat ganda.

Kebarokahan itulah yang membuat Allah menyelusupkan sakinah dalam rumah tangga kita, menghadirkan kesejukan di mata anak istri kita, juga mengganti sakit dengan sehat, derita dengan kelapangan, dan segala bentuk kebaikan lainnya yang seringkali tidak kita sadari secara utuh …

Bahkan bisa saja, kehidupan kita biasa-biasa saja, tetapi karunia berupa kebarokahan membuka jalan bagi anak kita menjadi seorang pemimpin besar kelak …

24 September 622 M …. Lelaki agung itu duduk di atas Qashwa, unta kesayangannya, ketika bersama Abu Bakar dan rombongan hijrah lainnya menuruni bukit terakhir di perbatasan Quba’. Dari lereng tersebut, lelaki agung yang tak lain adalah Muhammad SAW, menyaksikan sebuah hamparan hijau. Itulah tempat yang dalam beberapa waktu kemudian dikenal oleh dunia sebagai “Kota” yang dalam bahasa arab disebut “Al Madinah” dan dalam bahasa inggris disebut “Medina”

Hal pertama yang dilakukan Rasulullah di Quba’ adalah membangun masjid. Inilah pesan untuk seluruh umat, bahwa mesjid merupakan pilar, pangkalan tempat kita semua berkumpul dan mengkonsolidasikan kekuatan. Sebuah pesan mulia agar kita memakmurkan masjid menjadi pusat ibadah, pusat pendidikan dan pusat segala aktivitas lainnya. Masjid menjadi basis atau awalan atas segala hal. Maka, masjid beserta segala nilai yang ada di dalamnya merupakan benchmarking atas segala permasalahan umat di dunia ini.

Setelah tiga hari berada di Quba, Rasulullah memasuki Madinah pada 27 September 622 M. Di perbatasan, di sepanjang jalan, penduduk tumpah ruah. Mereka benar-benar bersemangat menunggu sejarah terjadi, menantikan kedatangan rombongan Muhammad SAW, seorang yang pada waktu itu diberitakan sebagai nabi terakhir. Tua muda, laki-laki perempuan, bahkan anak-anak terlihat merangsek, ingin melihat wajah rembulan sang Nabi dan menjadi orang pertama yang mengucapkan salam kepadanya. “Selamat datang Nabi Allah. Selamat datang Rasulullah”, bergema seruan-seruan itu di segenap penjuru. Itulah rombongan hijrah yang telah mencapai Madinah setelah menempuh perjalanan ruhiyah selama kurang lebih 15 hari dari Makkah.

Tampak di samping Rasulullah, Abu Bakar, sang sahabat yang selalu mencurahkan cintanya semata untuk Allah dan Rasulnya. Masih terbayang di wajahnya peristiwa luar biasa di sebuah gua di bukit Tsawr, ketika sekelompok kaum kafir yang memburu Rasulullah dan Abu Bakar menemukan gua tempat mereka bersembunyi. Itulah peristiwa dimana upaya manusia mencapai sebuah titik nadhir, tak berdaya, tak bisa berbuat apa-apa. Sebuah fenomena hikmah luar biasa, bahwa manusia yang tak berdaya ternyata bisa menghasilkan sesuatu yang di luar batas kemampuan normalnya ketika semua disandarkan kepada sang Khalik. Hal itu terlihat ketika pada saat kritis itu Rasulullah menoleh kepada Abu Bakar dan membacakan firman Allah, “Jangan bersedih karena sesungguhnya Allah bersama kita”, dan kemudian bersabda, “Apa yang kau khawatirkan dari dua orang ketika Allah yang ketiga”. Maka, Allah menghadirkan merpati dan sarang laba-laba untuk mengecoh para pengejar itu.

Juga terdapat Ali bin Abi Thalib, sang pemberani yang berkamuflase menjadi Muhammad, berselimut di tempat tidur Nabi, untuk mengecoh para pengepung rumah Nabi pada saat malam keberangkatan hijrah Nabi. Dialah pemuda dengan nyali luar biasa yang mengarungi padang pasir menuju Medinah selama dua minggu dengan berjalan kaki, siang bersembunyi dan malam berjalan, untuk bergabung dengan saudara-saudaranya yang telah berangkat terlebih dahulu.

Masih di atas Qashwa’, Rasulullah membelah kerumunan dengan senyuman terindah. Itulah senyum yang penuh kebarokahan dari sang kekasih Allah. Itulah senyum yang meluluhlantakkan hati siapapun yang menatapnya, sebuah senyuman yang menghadirkan sengatan halus pada lapisan kalbu, menyentuh syaraf air mata, membuatnya bercucuran dan menanamkan rasa kerinduan tak terperi seumur hidup.

Senin itu, dengan senyum yang penuh kebarokahan sang Rasul melewati rumah demi rumah penduduk Madinah. Setiap orang menawarkan rumahnya atau berharap Rasulullah membangun rumah di lahannya. Rasulullah berkata, ” Biarkan unta ini berjalan karena ia berada dalam perintah Allah”. Qashwa terus berjalan sampai akhirnya berhenti pada sebuah lahan milik dua anak yatim piatu, Sahl dan Suhayl. Qashwa merapatkan dadanya ke tanah dan sang Nabi bersabda. “Inilah, InsyaAllah, kediamanku”

Itulah tapak suci. Tapal batas sejarah peradaban yang kemudian membawa kemulian nilai-nilai ke seluruh dunia …