Hikmah & Gagasan

Salah satu kekayaan yang kita miliki adalah sejarah diri kita sendiri. Our story.
Kisah, demikian bahasa Indonesia menamainya. Kitab suci menyebutnya Qishoh. Salah satu surat bahkan dinamai Al Qashash yang dimaknai kisah-kisah.
Menariknya apa?
Coba simak ayat 11 Surah Al Qashash. Disana diceritakan ketika Ibu Musa memberi arahan kepada saudara perempuan Musa, supaya mengikuti Musa. Kata yg digunakan adalah qisah untuk mengatakan “ikutilah dia”.
Hikmah muncul disini.
Ketika kita berkata itu adalah kisahku, kita mengakui sebuah sign, tanda arah dari sejarah kita sendiri.
Disini kemudian kita dapat berkata bahwa sejarah kita adalah kekayaan kita. Bagaimana tidak, ketika akumulasi kisah semakin banyak, kita memiliki banyak tanda arah sehingga kita semakin presisi langkah2nya.
Lamongan
3 Maret 2018

Pencarian VISI untuk pendidikan anak menjadi pencarian wajib bagi setiap orang tua. Visi selain menjadi guidance pendidikan, juga menjadi energi yang selalu membuat bangkit lagi.

Dari pencarian itu, saya merumuskan Visi tentang anak saya, yaitu:

  1. Menjadi manusia yang mencintai dan dicintai Allah
  2. Menjadi manusia yang bermanfaat bagi dunia, di bidang apapun profesinya
  3. Menjadi manusia yang memiliki ketrampilan untuk hidup (skill of life) sehingga mampu melewati satu demi satu anak tangga ujian hidupnya dengan sukses

Mari kita cari visi, karena ia tidak sekedar target, tetapi juga komunikasi dengan Tuhan. Mengapa? karena pada dasarnya kita bukanlah pemilik anak2 kita. Kita hanyalah “babysitter” anak2 itu, yang bertugas mengasuh dan mendidiknya. Sekali lagi, kita bukan pemiliknya, pemiliknya aslinya adalah Allah. Kadangkala anak titipan Allah itu keren, dan kita kecipratan keren. Maka, seyogyanya kita terus berkomunikasi denganNya, “Rabb, apa yang Engkau inginkan atas anak ini?”

Medina Office, 
6 Februari 2011

Ada saat ketika seakan-akan hidup tidak berpihak pada diri kita. They againts us.

Ada saat ketika orang-orang bertindak menciptakan situasi yang terus memperburuk situasi.

Ada saat ketika manusia, binatang, tumbuhan, angin, bahkan hujan, seakan ga bisa paham apa yang kita rasakan. Ada saat ketika seakan-akan Tuhan tidak hadir.

Itulah saat kita harus alokasikan waktu seirus untuk tahajud. Berbicara dengan-Nya, ngobrol. Ada banyak rahasia dan takbir terbuka di sepertiga malam terakhir, ketika sujud khusyuk dan tartil Quran terucap.

“A Message” from GA 575.
18.02.18 18.18 WIB, boarding time

Dua orang berjalan dari arah berlawanan. Lalu bertemu di satu titik. Bertatap muka. Lalu saling tersenyum.

Kira2 nih, dari sejak awal peristiwa ketika mereka berjalan, lalu melihat dari kejauhan sampai akhirnya bertatap muka … apakah keduanya memikirkan hal yang sama? Merasakan perasaan yang sama?

Seringkali tidak sama. Mungkin salah satu merasa senang saat bertemu sehingga dia tersenyum, sementara yang lain merasa sungkan cenderung takut saat bertatap muka dan menyembunyikannya dalam senyum.

Ketidaksamaan dalam perasaan itulah yang disebut asymmetric of feeling.
Semakin banyak orang yang berinteraksi, semakin kompleks ragam perasaan yang dialami.

Contoh lagi, dalam satu sesi perkenalan di perkuliahan, terdapat seorang mahasiswa yg selain ditanya nama juga ditanya tempat tinggalnya. Saat momen itu terjadi si mahasiwa bisa saja merasa janggal dan waswas karena hanya dia yg ditanya, sementara temennya ada yg merasa tidak nyaman karena dia tidak ditanya, sedangkan teman lainnya merasa biasa saja. Asymmetry of Feeling dari beberapa orang.

Rantai berikutnya adalah persepsi. Seringkali seseorang menebak perasaan orang lain dan motif di baliknya dikenal dengan persepsi, baik positif (husnudzon) maupun negatif (su’udzon). Asymmetry of perception pun bisa terjadi karena apa yang ada dalam persepsi seseorang belum tentu sama dengan yang dipersepsikan dengan pihak ketiga dan bisa jadi berbeda pula dengan yang sesungguhnya terjadi.

Asymmetry of feeling and perception tersebut akan “broken” atau terpecahkan ketika seseorang mulai mencari kebenaran dengan mengkonfirmasi secara verbal mengenai kejadian yang sebenarnya terjadi.

Sejatinya, hidup adalah rangkaian ujian. Maka ketrampilan menjawab ujian menjadi ketrampilan yang wajib kita miliki. Semua orang pasti menghadapi ujian dan tentu saja bagi yang bisa menyelesaikannya yang bersangkutan akan naik tingkat, bisa ditinggikan derajatnya, bisa dipenuhi hajatnya, bisa dilunasi hutangnya, dan lain sebagainya.

Ujian kehidupan tentu saja berbeda dengan ujian di sekolah. Ada beberapa ciri yang bisa kita jadikan pedoman sehingga kita lebih tepat bertindak dan menyikapi.

Kadang kita menghadapi ujian yang berulang. Misal, terus aja kita diuji dengan hilangnya HP milik kita. Atau, sakit yang terus kambuh lagi dan kambuh lagi. Atau, ada yang terjerumus pacaran, lalu bertaubat, pacaran lagi, taubat lagi, pacaran lagi, begitu seterusnya.

Jika ujian itu terus berulang, tandanya kita belum menjawab soal dengan benar. Apa yang inti pertanyaan belum kita tangkap. Kita belum sepenuhnya lolos, sehingga harus diulang lagi. Kalau kita menghadapi seperti ini, yang perlu kita renungkan di setiap ujian adalah apa sebenarnya yang inti ujian ini. Ujian itu berulang bisa jadi karena kita belum menjawab soalnya dengan tepat.

 

Dari satu episode ke episode berikutnya kita punya terminal, untuk berhenti sejenak, bercermin, lalu berlari lebih cepat lagi.

Karena hidup adalah rangkaian ujian, jawaban kadang terselip dalam sinyal-sinyal kejadian. Terminal kemudian jadi penting, untuk kita berhenti sejenak, diam, yang kemudian biasanya dalam diam itu kita menangkap sinyal lebih akurat.

Terminal juga menjadi filter. Dari episode ke episode berikutnya, biasanya terbawa energi negatif. Bisa jadi interaksi kita dengan sesama makhluk lainnya tidak selalu berlangsung baik. Maka, terminal menjadi kesempatan terbaik bagi kita untuk membuang sampah.

Setiap perpindahan episode juga merupakan pengambilan keputusan. Kadang otot dan otak ga nyampe untuk membaca situasi. Maka kita butuh terminal, untuk berhenti sejenak, membaca semua tanda dengan mata hati, lalu mengambil keputusan yang lebih baik di episode berikutnya.

Kita membutuhkan kendaraan untuk mencapai suatu tujuan. Tak terkecuali doa.

Doa yang memuat harapan terbaik hidup kita, terbang ke langit, dengan kecepatan sesuai kendaraannya. Kalau tanpa kendaraan, ibarat kita hanya melempar dengan tangan kosong. Tapi bayangkan jika doa kita itu terbang dengan kendaraan sebuah roket.

Lalu, apa kendaraan doa itu?

Kendaraannya adalah amal sholeh kita. Dari sekian banyak jenis kendaraan doa, ada beberapa yang merupakan golden vehicle, roket-roket dengan kecepatan tanpa batas. Itulah Tahajjud, sedekah dan Quran.227612_10200200231072732_1637510756_n