Asmaul Husna

Dilema. Bingung atas berbagai pilihan. Galau kata anak jaman sekarang. Sepertinya kita sering mengalami perasaan tersebut. Tua atau muda, pria atau wanita semua menghadapi dinamika perasaan seperti itu.

Ya, hidup memang rangkaian pilihan satu ke pilihan berikutnya. Mulai dari bangun tidur sampai kita tidur kembali kita melakukan aktivitas memilih. Dari sekian banyak episode pemilihan tersebut, terdapat waktu-waktu tertentu dimana kita terjebak dalam dilema. Apakah saya harus melakukan A atau B? Apakah saya harus menolak atau menerima? Benarkan dia pilihan tepat? dan sebagainya.

Pertanyaannya, bagaimana kita mengatasi dilematika seperti itu?

Mari kita ingat tentang Allah Al Hadiy, Allah Yang Maha Memberi Petunjuk. Pada dasarnya “petunjuk” itu tersebar di sekitar kita, terhampar dalam rangkaian kejadian demi kejadian. Namun, sayangnya kita seringkali tidak menyadarinya. Tuhan Maha Baik, kadang kita dicolek supaya sadar dengan petunjukNya. Namun, tetap saja kita tak menyadarinya.

Hmm, mungkin disinilah pangkal masalahnya. Petunjuk telah disiapkan olehNya, tetapi kita terus berkutat dengan dilema karena kita tidak peka. Dan, rasa-rasanya ketidakpekaan tersebut disebabkan oleh hati kita tumpul, mata hati kita rabun. Ya, hati kita tidak lagi menjadi cermin yang dapat memantulkan refleksi kejadian yang sejatinya petunjuk buat kita.

Jika demikian, prioritas kita jika ingin membaca petunjukNya yang hebat itu adalah dengan membersihkan hati …

Ketika kita belajar mengenali Tuhan melalui asmaulhusna Al Malik, terbayang oleh kita Sang Raja yang kekuasaannya tidak tertandingi. Dia tidak sekedar menguasai makhluk, tetapi Dia juga menguasai kejadian dan takdir yang meliputinya. Bayangkan jika sifat Al Malik tersebut melekat pada manusia, mungkin kita akan khawatir adanya penyalahgunaan kekuasaan. Sejarah membuktikan betapa banyak penguasa yang dzalim karena kekuasaannya yang tidak terkendali.

Nah, Allah adalah As-Salaam. Dengan kekuasaan yang tidak terbatas tersebut, Dia mengajarkan kepada kita tentang salah satu julukanNya yang menyejukkan, yaitu As-Salaam. Allah sebagai As-Salaam bermakna bahwa hanya keselamatan dan kebaikan sajalah yang datang dariNya. Segala perbuatanNya akan terhindar dari keburukan dan kejahatan. Dari sini kita memahami Tuhan sebagai sumber keselamatan dan kebaikan. Tidak ada dalam takdirNya yang mengandung keburukan bagi makhluk-makhlukNya.

Bukan sekedar kebetulan Asma As-Salaam ditempatkan di urutan keenam setelah Al Malik dan Al Quddus. Semacam sebuah garansi, bahwasannya Dia yang Maha Kuasa dan Maha Sempurna itu tidak akan mengijinkan sesuatu yang terjadi atau tercipta dengan KekuasaanNya melainkan sebuah kebaikan dan keselamatan. Dengan pemahaman ini, semakin kokohlah keyakinan kita untuk selalu berbaik sangka kepada Allah.

Pada tingkat pemahaman berikutnya, As-Salaam memberikan pengertian bahwa Dia tidak sekedar melahirkan kebaikan dan keselamatan, tetapi dariNya lah bersumber segala kebaikan di muka bumi ini. Maka, Salaam dalam arti kebaikan, keselamatan dan kesejahteraan yang terkait pada manusia (baik sebagai subyek maupun obyek) pasti berasal dari Allah. Jika menginginkan keselamatan dalam kehidupan ini, mintalah kepada Allah, karena Dialah sumber keselamatan itu. Jika mendambakan kehidupan yang bermanfaat dengan menjadi sumber kebaikan buat manusia lain, mintalah kepada Allah, karena Dialah sumber segala keselamatan dan kebaikan.

Maka, pantaslah jika kita pancangkan doa di setiap selesai shalat, Allahumma Antassalaam (Wahai Allah, Engkaulah As-Salaam), Wa Minkassalaam (dariMu bersumber As-Salaam), Wa Ilaika Ya’udussalaam (kepadaMu kembalinya As-Salaam), Fahayyina Rabbana Bissalaam (maka Hidupkanlah kami dengan As-Salaam), Wa Adkhilnal Jannata Daarassalaam (dan masukkanlah kami kelak ke surga, negeri As-Salaam).

Ketika sebuah masalah menghimpit ruang dada, perasaan yang paling sering kita rasakan adalah kesendirian. Kita merasa tidak ada kawan yang menemani, tidak ada pula sahabat yang menyertai. Padahal, sebenarnya kita tidak pernah sendiri, karena selalu ada Allah Al Waajid.

Al Waajid adalah salah satu nama Allah (asmaul husna) yang berarti “Maha Menemukan”. Dimanapun dan bagaimanapun permasalahan yang kita alami, Dia akan Menemukan keberadaan kita. Tidak hanya itu, Dia akan membawa solusi yang bahkan seringkali tidak kita sadari.

Konteks terbaik untuk memahami Al Waajid adalah Surat Adh-Dhuha dalam Al Quran. Ketika itu, saat Sang Rasul gundah gulana karena wahyu yang tidak kunjung datang. Beliau khawatir Tuhan telah meninggalkannya. Lalu, turunnya turunlah Surat Adh-Dhuha dimana beliau mendapat jaminan bahwa dirinya tidak akan pernah ditinggalkan olehNya.

Sang Rasul diminta tidak pernah sangsi lagi tentang kehadiran Allah. Hal ini disampaikan melalui kalimat retoris dalam Surat Adh-Dhuha itu sebagai berikut:

Bukankah Dia ‘menemukanmu’ sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia ‘menemukanmu’ sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk? Dan Dia ‘menemukanmu’ sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan?

Mari kita renungkan hidup yang telah kita jalani. Betapa berulang kali kita berada pada kondisi kekurangan atau kebingungan, toh ternyata semua itu dapat kita lewati dengan baik. Solusi selama ini mungkin berwujud berupa kehadiran seseorang tertentu atau sumber rizki tertentu, namun jika kita renungkan lebih dalam, mata hati kita akan melihat adanya campur tangan Allah di setiap kejadian itu.

Jika kita telah memiliki keyakinan mendalam tentang Al Waajid, maka kita akan melihat betapa pasang surut peristiwa yang kita alami selalu diwarnai dengan kehebatan skenario Allah dalam merancang kejadian-kejadian. Terlihat jelas betapa Dia tidak pernah absen dalam kehidupan kita, Dia selalu hadir, menemukan kita, dimanapun, bagaimanapun keadaannya.

Jika sudah demikian, mengapa sekarang kita harus bermuram durja, ketika ada manusia lain mengecewakan kita. Mengapa kita harus bersedih ketika sebuah peristiwa luput dari ekspektasi? Tegaskan keyakinan tentang Al Waajid, optimis Al Waajid menemani kita, bukankah setiap kejadian terjadi atas ijinNya?

Asmaul Husna Asy Syakur termasuk yang jarang kita dendangkan, setidaknya berdasar pengalaman hidup saya. Namun, setelah mempelajari maknanya, subhanallah, Allah memang Maha baik …

Asy Syakur banyak diartikan sebagai Yang Maha Mensyukuri, dalam konteks Dia yang Selalu membalas perbuatan baik hamba-hambaNya dengan lebih baik dan lebih banyak. Selangkah mendekat padaNya, seribu langkah Dia mendekat pada kita. Dalam berbagai ayat Quran pun sering difirmankan, setiap perbuatan baik yang kita lakukan, Asy Syakuur selalu melipatgandakan balasanNya.

Perumpamaan [nafkah yang dikeluarkan oleh] orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan [ganjaran] bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas [karunia-Nya] lagi Maha Mengetahui. QS Al Baqarah: 261

Asy Syakuur juga terwujud secara presisi. Setiap amal kebaikan, sedetail dan sekecil apapun, terang atau tersembunyi, semua pasti mendapatkan ganjaran dan balasan kebaikan. Tidak ada yang luput, tidak ada yang terabaikan.

Mengenal Asy Syakuur, membuat kita tidak pernah ragu lagi untuk beramal. Bahkan kita tidak bisa meremehkan lagi amal-amal kecil yang tampaknya sepele, karena sebenarnya kita tidak pernah tahu dari amal yang mana keberkahan dan rahmat Allah berasal.

Mari kita berhenti sejenak, lalu merenungkan kekuasaan Allah sebagai Al Malik. Dialah penguasa makrokosmos yang mendesain dan memberi energi pada langit, bumi dan segala isinya. Dialah pula yang menguasai mikrokosmos yang menciptakan dan menghidupkan sel, mengatur proses fotosintesis pada tumbuhan dan juga yang mengalirkan darah dalam tubuh kita dalam jumlah yang sangat presisi …

Dengan kasih sayang Ar-Rahman, kekuasaan Sang Malik tersebut dapat kita rasakan dalam berbagai kebaikan dan kemaslahatan di sekitar kita, tanpa peduli orang baik atau jahat. Kita menghirup udara segar, kita beraktivitas tanpa tahu mekanisme kerja sel & otot dalam diri kita. Kita menyantap hidangan makanan dan minuman, setiap hari, tanpa memikirkan rantai ekosistemnya …

Jika sedemikian besar yang bisa Allah lakukan, pertanyaannya adalah mengapa dalam penyelesaian berbagai macam urusan kita tidak minta tolong saja kepada Allah untuk menyelesaikannya?? Mengapa seringkali kita terlalu “PeDe” untuk menyelesaikan segala hal sendiri?? Mengapa seringkali kita “ngotot” menyelesaikan segala sesuatu dengan cara kita sendiri?? bukankah Allah adalah juga penguasa kejadian? bukankah tidak ada kejadian terjadi tanpa ijinNya?

Maka, marilah kita libatkan Allah di setiap tarikan nafas kita. Karena Dia adalah Al Wakiil, yang akan menyempurnakan segala apapun yang kita mulai …

Ketika kita berniat atas sebuah amal tertentu, mungkin ada cacat dalam niat itu, maka kita perlu campur tangan Allah untuk meluruskannya. Ketika kita melakukan ikhtiar, bisa jadi banyak kekurangan sehingga tujuan yang ditetapkan terancam tak tercapai, maka kita perlu intervensi Sang Penguasa Kejadian untuk menyempurnakan … Namun, dalam kenyataannya, seringkali kita tidak menjadikan Allah sebagai ‘backup’ utama, lalu kita terjebak dalam stress karena mentok … padahal sesungguhNya ada Allah Al Wakiil yang senantiasa siap membuka jalan dan memberi pertolongan

Itulah yang disebut dengan tawakal, ketika kita memiliki pengenalan kepada Allah sebagai Al Wakiil, sedemikian rupa sehingga di setiap tarikan nafas kita selalu mengandalkan Allah dalam setiap penyelesaian segala sesuatu …

Rabb, tolong ya Rabb, hadirkan selalu kesadaran dalam diri kami untuk selalu bertawakal kepadaMu … hanya kepadaMu …

Kekuasaan Allah meliputi segala hal, meluas dan mendalam. Maka, segala sesuatu yang ada dalam semesta ini tunduk kepadaNya. Dengan kemurahanNya, Allah kemudian memberikan kekuasaan kepada kita. Mari kita simak beberapa ayat QS. AL Hajj berikut ini:

64. Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. dan Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

65. Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya. dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.

66. Dan Dialah Allah yang telah menghidupkan kamu, kemudian mematikan kamu, kemudian menghidupkan kamu (lagi), Sesungguhnya manusia itu, benar-benar sangat mengingkari nikmat.

Begitulah Allah menganugerahkan kekuasaan kepada kita dengan cara ditundukkanNya alam raya ini sebagai infrastruktur kehidupan kita. Beberapa penegasan tentang hal itu dapat juga kita lihat dalam beberapa ayat di QS. Yaasiin sebagai berikut:

33. Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, Maka daripadanya mereka makan.

34. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air,

35. Supaya mereka dapat Makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka Mengapakah mereka tidak bersyukur?

36. Maha suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.

……..

71. Dan Apakah mereka tidak melihat bahwa Sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka Yaitu sebahagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami sendiri, lalu mereka menguasainya?

72. Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka; Maka sebahagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebahagiannya mereka makan.

73. Dan mereka memperoleh padanya manfaat-manfaat dan minuman. Maka Mengapakah mereka tidak bersyukur? 

Bayangkan jikalau dalam kehidupan ini kita tidak memiliki kekuasaan atas binatang ternak dan tanaman. Maka, dengan kekuasaanNya, Allah tunduk itu semua untuk kita. Bahkan beberapa manusia pilihan diberikan kekuasaan lebih sebagai Raja Dunia … Misalnya seperti yang dinyatakan dalam QS. Al Anbiyaa  …

 

78. Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu,

79. Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat)[966]; dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan Hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. dan kamilah yang melakukannya.

80. Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu; Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah).

81. Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami telah memberkatinya. dan adalah Kami Maha mengetahui segala sesuatu.

82. Dan Kami telah tundukkan (pula kepada Sulaiman) segolongan syaitan-syaitan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain daripada itu, dan adalah Kami memelihara mereka itu, 

Semoga kita semua menjadi Abdul Malik, hambaNya yang penuh amanah melakukan kemanfaatan atas segala kekuasaan yang diberikan Sang Raja … 

Dalam kehidupan ini kita mengenal istilah Raja untuk menggambarkan seorang yang memiliki kekuasaan. Raja disebut juga dalam berbagai sebutan seperti Kaisar, Ratu, Sultan, dan sebagainya. Dalam arti luas, di jaman demokrasi ini, Presiden dan Perdana Menteri dapat pula dikategorikan sebagai Raja. Orang-orang yang digelari Raja tersebut memiliki kekuasaan melakukan sesuatu yang mempunyai sifat “paksaan”, dalam arti mereka memiliki infrastruktur sehingga apa yang diperintahkan atau diinginkan mudah untuk dilaksanakan. Dengan kondisi tersebut, Sang Raja ini langsung maupun tidak langsung memiliki kendali atas kehidupan kita.

Dalam Asmaul Husna kita juga mengenal Asma Allah sebagai Sang Raja, yaitu Al Malik. Namun, Allah sebagai Sang Raja sangat jauh berbeda dengan persepsi kita tentang Raja seperti yang biasa kita lekatkan ketika kita berpikir tentang Raja-Raja manusia. Perintah seorang raja manusia bisa saja tidak ditaati atau dibantah. Kehendak raja manusia juga memiliki kekuatan terbatas sampai kadar tertentu. Tetapi, keterbatasan itu tidak ada pada Sang Raja Allah SWT, karena dialah Sang Raja yang mutlak kekuasanNya.

Allah Al Malik memiliki makna yang luar biasa, yang jika makna tersebut merasuk dalam qolbu, kita akan tersungkur menyadari betapa tidak berdayanya diri ini.

Dalam memahami Al Malik, kita dapat mengambil hikmah dari cuplikan firman Allah yang kerap diulang dalam AL Quran, yaitu “Wa Huwa ‘Alaa Kulli Syai in Qadiir” yang bermakna Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Allah Al Malik memiliki kekuasaan atas segala sesuatu. Secara meluas, makna penguasaan atas segala sesuatu disini menunjukkan penguasaan atas keseluruhan obyek yang ada di alam semesta, mulai dari yang besar seperti galaksi sampai yang terkecil seperti sel. Semua isi langit dan bumi berada dalam genggamanNya. Maka ketika kita melihat apapun di dunia ini, dalam benak kita seyogyanya tertanam “makhluk atau benda ini dalam genggaman kekuasaan Allah”

Secara mendalam, penguasaan atas segala sesuatu digambarkan sebagai penguasaan  secara mendetail atas apa-apa yang terdapat dalam setiap obyek yang ada di alam semesta.  Allah menguasai bumi, dan lebih dari itu Sang Malik menguasai sistem rotasi bumi, siklus iklimnya, juga cara kerja atmosfirnya. Maka, ketika kita mengatakan Allah menguasai diri seorang manusia, Allah juga menguasai metabolismenya, peredaran darahnya, juga sistem mekanistik gerak tubuhnya …

Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. 57:2)

Demikianlah, kekuasaan Allah sebagai Sang Malik benar-benar mutlak. PerintahNya tak terbantahkan, kehendakNya tak terhalangi. Jika Allah menghendaki sesuatu pasti akan terjadi, karena semua obyek di semesta ini berikut semua sistem dan sub sistem kehidupan berada dalam genggamanNya, semuanya takluk dan tunduk kepadaNya.

Mari kita semua meletakkan segala harapan hanya kepada Allah, Sang Malik yang perintahNya tak terbantahkan dan kehendakNya tak terhalangi …