Dua Jalur Kehidupan

Udah baca artikel sebelumnya? Tentang Jaminan? Kalau belum silakan baca dulu, klik di sini.

Kalau kita sudah meyakini bahwa ada jaminan, muncul kemudian pertanyaaan, bagaimana cara bekerja jaminan itu? Muncul lagi pertanyaan, apakah kita masih harus bekerja? Terus muncul lagi pertanyaan, kenapa kok saya udah berusaha maksimal, tetap terbatas rizkinya?

Nah, inilah perlunya kita memahami cara kerja jaminan ini.

Jadi, ada dua jalur yang harus dipahami. Dua jalur yang berbeda tapi sering sekali kita campur adukkan. Dua jalur yang tidak beririsan tapi sering sekali kita pertemukan ujungnya. Akibatnya kita bingung sendiri. Lebih parah lagi, kita jadi salah dalam pola pikir dan pola tindak.

Apa yang dimaksud dengan dua jalur itu?

Dua jalur itu adalah jalur ketetapan dan jalur amal sholeh.

Bicara jaminan itu bicara jalur ketetapan, misalnya tentang rizki. Di jalur ketetapan, rezeki itu jadi otoritas sepenuhnya dari Allah. Allah menetapkan, menentukan jumlahnya dan waktunya. Presisi, tidak meleset. Pada jalur ketetapan ini, ada upaya-upaya yang bisa kita lakukan untuk mempercepat, menambah, atau menginginkan sesuatu sesuai kebutuhan kita.

Misalnya, kita menginginkan ketetapan Allah berupa mobil, bulan depan, misalnya. Kita diajarkan kemudian bagaimana meraih ketetapan tersebut. Cara-caranya bukan melalui “bekerja keras”, “menabung”, karena ini cara-cara di jalur yang satu lagi.

Kita diajarkan melalui cara-cara tawakal, doa, sholat dhuha, sedekah, dan banyak lagi. Salah satunya misalnya dikatakan “Bertawakal-lah kamu, maka Dia akan memenuhi kebutuhanmu.” (QS. At Thalaq: 3) Atau di tempat lain dikatakan “Bersyukurlah, maka ketetapan nikmatmu itu akan dilipat gandakan.” Atau di tempat lain dikatakan “Bersedekahlah, berikan pinjaman yang baik kepada Allah, maka Dia akan mengembalikannya lebih baik lagi.”

Sekali lagi, inilah jalur satu, jalur ketetapan. Punya pattern untuk mencapainya, meningkatkannya, merubahnya.

Sekarang kita bicara jalur dua. Jalur dua adalah jalur amal sholeh. Di jalur dua ini, tujuan kita adalah mengumpulkan amal sholeh sebanyak-banyaknya. Mengoptimalkan apa yang kita punya, baik itu fisik kita, pikiran kita, harta, aset, kekayaan kita, jaringan, pertemanan kita. Segala apa yang kita punya, kita gunakan untuk memaksimalkan amal sholeh.

Pada jalur dua ini, kita gunakan otak kita dan tenaga kita untuk bekerja. Untuk apa? untuk memupuk atau mengumpulkan amal sholeh. Kita punya aset, pabrik, perusahaan. Kita operasikan semaksimalnya. Untuk apa? Untuk amal sholeh. Kita punya kemampuan dagang, kita maksimalkan. Untuk apa? Untuk amal sholeh.

Nah, komplikasi terjadi ketika kita punya macam-macam tadi, kita maksimalkan untuk meraih ketetapan rezeki, ujungnya pasti stress. Karena ini, sekali lagi, adalah dua jalur yang berbeda.

Mudah-mudahan dua jalur ini bisa dipahami. Jika paham, kita akan dapat menjawab banyak pertanyaan.

Wallahualam

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s