Menjaga Hati

Beratnya menjaga hati ketika kita harus berbicara. Mengapa? Karena ketika kita berusaha menampilkan performance terbaik, sejatinya kita berdiri di tengah persimpangan jalan, yang satu menuju penilaian manusia, yang satu lagi menuju keridhoan Allah SWT.

Di persimpangan pertama, serangan pertama muncul, “mencari pujian”. Serangan pertama berhasil dipatahkan, mucul serangan kedua, “ga mau terlihat jelek”. Serangan kedua ini luar biasa, memberondong pertahanan hati kita mulai dari persiapan, selama proses bicara dan bahkan terus menguntit sampai sesudahnya. Biasanya hati ini takluk di serangan kedua. Kalaupun berhasil, akan menanti serangan ketiga yang sangat haluuss, bisikan bangga telah berhasil lolos dari jerat penilaian manusia.

Persimpangan kedua adalah jalanan terjal. Kita harus mendakinya. Butuh kekuatan yang lebih untuk dapat merayapinya. Tapi, kalau berhasil sampai ujung, subhanallah, sorga nan indah menanti disana. Untuk bisa menapaki persimpangan kedua ini, diperlukan 3 level keyakinan yang masing-masing level sekaligus menjadi alat penangkis beberapa jebakan di persimpangan pertama tadi. Pertama, keyakinan bahwa pujian manusia itu semu, tidak memberikan kebahagiaan yang sebenarnya. Kedua, keyakinan bahwa apa yang dilakukan adalah bagian dari misi yang diberikan Allah, tunaikan saja sesuai requirement-Nya, tidak perlu risau dengan penilaian. Ketiga, keyakinan bahwa kita ini NOL, ga punya kekuatan apapun, bahkan untuk sekedar menggerakkan lidah, karena semua kekuatan adalah milik Allah SWT.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s