Dimensi-Dimensi Kehidupan

Terdapat banyak dimensi dalam dunia yang kita tinggali ini. Saya tidak bicara dimensi manusia vs malaikat atau semacamnya. Saya masih bicara tentang dunia manusi. Dimensi yang saya maksud adalah ketika kita memandang sesuatu dengan frekuensi yang berbeda maka lahirlah dimensi yang berbeda. Sebagai contoh adalah makan permen, bagi Hafa makan permen merupakan hal biasa (mubah) dan tidak memiliki konsekuensi apa-apa, namun bagi ibunya makan permen adalah sesuatu yang membahayakan kesehatan gigi, maka perlu dibatasi. Nah, terciptalah dimensi permen versi Hafa dan dimensi permen versi ibunya.

Bagi sebagian orang makan nasi adalah kemewahan,  sedangkan bagi sebagian yang lain merupakan sesuatu yang harus diwaspadai. Bagi kelompok tertentu bekerja adalah kewajiban, bagi kelompok yang lain bekerja adalah hak. Dari sudut pandang geografis pun demikian, bagi orang Asia menatap mata punya makna tertentu, sedangkan bagi orang eropa punya makna lain tersendiri.

Saya akan coba membahas lebih detil bagaimana dimensi-dimensi itu tercipta ketika terjadi pemahanan yang berbeda atas kehidupan yang kita alami. Dalam sebuah rumah tangga misalnya, seluruh isi anggota keluarga menempati rumah yang sama. Tetapi sang Ayah melihat rumah sebagai titipan yang dalam skenario Allah akan diestafetkan, sedangkan sang Ibu melihat rumah sebagai suatu simbol kebersamaan yang harus dipertahankan. Terciptalah sebuah dimensi kehidupan yang berbeda, sang Ayah berada dalam dimensi kehidupan “lomba lari estafet”, misinya memenangkan sebuah perlombaan lari dengan terus memindahkan rumah dari satu tangan ke tangan lain, sementara sang Ibu berada dalam dimensi kehidupan “menata keseimbangan”, misinya bagaimana sebuah tahapan hidup mencapai tingkat demi tingkat pencapaian. Satu rumah, beda dimensi, kira-kira apa yang terjadi?

Dimensi yang berbeda juga mungkin terjadi di sebuah perusahaan, kumpulan orang-orang bekerja. Bagi si A, bekerja adalah kewajiban kepada perusahaan yang telah mempekerjakannya. Bagi si B, bekerja adalah mencari nafkah. Bagi si C, bekerja adalah aktualisasi diri. Bagi si D, bekerja adalah jihad. Nah, entah ada berapa dimensi dalam sebuah ekosistem bernama perusahaan. Ada yang berprinsip tenggo (jam lima teng, then GO), ada yang pegangannya kualitas, ada yang orientasinya timesheet, ada yang fokusnya keluarga yang dinafkahi, dan sebagainya.

Perbedaan dimensi akan menimbulkan perbedaan cara pandang. Setiap dimensi akan menimbulkan pola pikir, pola sikap dan juga pola tindak yang berbeda. Pada ujungnya, tidak jarang muncul perbedaan frekuensi dalam komunikasinya. Di titik inilah kita sering menjumpai perbedaan pendapat yang bersifat ‘permanen’ sampai salah satu pihak mau berpindah dimensinya. Perbedaan pendapat tersebut bisa jadi hal sepele, tetapi karena awalnya dari perbedaan dimensi, akan sangat sulit mencari resolusi kesepakatannya. Sebaliknya, bisa jadi ada sebuah pebedaan pendapat yang besar, namun karena berpijak pada dimensi yang sama, biasanya resolusi cepat didapatkan.

Memang kita tidak akan bisa melepaskan diri dari fenomena beda-beda dimensi ini. Upaya akomodasi dan rekonsiliasi kemudian menjadi sarana wajib agar setiap perbedaan yang muncul tidak menjadi konflik berkepanjangan. Perbedaan pendapat boleh ‘permanen’ tetapi konflik tidak boleh berkepanjangan.

Sebagai pamungkas, mari kita tak berhenti belajar sambil terus muhasabah diri, menuju konvergensi pada dimensi yang diridhai Allah SWT, dimensi yang di dalamnya terletak misi pengabdian kepada Sang Khalik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s