Ketika Dia Mengutus Ibrahim

Bersiaplah ketika Dia mengabulkan doa kita …

Ketika kita merasakan keteduhan seorang ‘alim, diam-diam dalam hati kita menyelidik apa gerangan yang membuat tutur kata dan gesturnya begitu menyejukkan. Lalu, terjawablah, bahwa kesejukannya itu tidak lain karena keyakinannya yang sangat tegas dan lurus bahwa Dia segala-galanya.

Setelah pengalaman itu, munajat doa selalu menyelipkan keinginan khusus. Berbisik meminta tiada cinta lain kecuali cintaNya. Merintih tak ada keinginan terbersit selain keinginanNya. Meratap tak sabar menantikan kedekatan denganNya.

Kenyataannya terdapat gap yang sangat besar. Doa terucap, keyakinan membara, munajat pun terujar, tapi hati, pikiran dan lisan begitu akut men-Tuhan-kan segala yang selain Dia. Memang bersyahadat, tapi hati mengimani sumber ketentraman adalah Uang. Memang tangan selalu mengantar takbir, namun setelah itu tangan terampil sekali bergerak memainkan alat buatan manusia, mengantar hati untuk larut menjadikan alat ini sebagai Tuhan.

Maka, ketika Dia mengabulkan doa tersebut, gap itu harus dikikis. Benar saja, kini Dia seakan-akan mengirimkan Nabi Ibrahim dengan kapaknya, memasuki ruang-ruang kehidupan kita, menghancurkan satu per satu berhala itu.

Tak mudah menyaksikan berhala-berhala itu dirobohkan. Perih di dada ketika Tuhan lain yang selama ini telah menjadi kenyamanan itu dirampas. Sakit rasanya ketika alat tempat bergantung itu dijauhkan. Tetapi, dengan penuh kesadaran, kita harus meyakini, inilah saatnya doanya diuji. Sungguh-sungguhkah diri kita meminta cintaNya? hanya cintaNya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s