Dia Yang selalu Menemukan Kita (Al Waajid)

Ketika sebuah masalah menghimpit ruang dada, perasaan yang paling sering kita rasakan adalah kesendirian. Kita merasa tidak ada kawan yang menemani, tidak ada pula sahabat yang menyertai. Padahal, sebenarnya kita tidak pernah sendiri, karena selalu ada Allah Al Waajid.

Al Waajid adalah salah satu nama Allah (asmaul husna) yang berarti “Maha Menemukan”. Dimanapun dan bagaimanapun permasalahan yang kita alami, Dia akan Menemukan keberadaan kita. Tidak hanya itu, Dia akan membawa solusi yang bahkan seringkali tidak kita sadari.

Konteks terbaik untuk memahami Al Waajid adalah Surat Adh-Dhuha dalam Al Quran. Ketika itu, saat Sang Rasul gundah gulana karena wahyu yang tidak kunjung datang. Beliau khawatir Tuhan telah meninggalkannya. Lalu, turunnya turunlah Surat Adh-Dhuha dimana beliau mendapat jaminan bahwa dirinya tidak akan pernah ditinggalkan olehNya.

Sang Rasul diminta tidak pernah sangsi lagi tentang kehadiran Allah. Hal ini disampaikan melalui kalimat retoris dalam Surat Adh-Dhuha itu sebagai berikut:

Bukankah Dia ‘menemukanmu’ sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia ‘menemukanmu’ sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk? Dan Dia ‘menemukanmu’ sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan?

Mari kita renungkan hidup yang telah kita jalani. Betapa berulang kali kita berada pada kondisi kekurangan atau kebingungan, toh ternyata semua itu dapat kita lewati dengan baik. Solusi selama ini mungkin berwujud berupa kehadiran seseorang tertentu atau sumber rizki tertentu, namun jika kita renungkan lebih dalam, mata hati kita akan melihat adanya campur tangan Allah di setiap kejadian itu.

Jika kita telah memiliki keyakinan mendalam tentang Al Waajid, maka kita akan melihat betapa pasang surut peristiwa yang kita alami selalu diwarnai dengan kehebatan skenario Allah dalam merancang kejadian-kejadian. Terlihat jelas betapa Dia tidak pernah absen dalam kehidupan kita, Dia selalu hadir, menemukan kita, dimanapun, bagaimanapun keadaannya.

Jika sudah demikian, mengapa sekarang kita harus bermuram durja, ketika ada manusia lain mengecewakan kita. Mengapa kita harus bersedih ketika sebuah peristiwa luput dari ekspektasi? Tegaskan keyakinan tentang Al Waajid, optimis Al Waajid menemani kita, bukankah setiap kejadian terjadi atas ijinNya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s