Tingkat Keyakinan dan Motivasi Amal

Sering terjadi anomali di sekitar kita, pada kebanyakan diri-diri kita. Apakah itu? Sebuah anomali ketika kita banyak tahu tentang keutamaan amal, tetapi kita tidak cukup memiliki kekuatan atau keberanian untuk melakukannya. Kita tahu hebatnya dialog dengan Allah di waktu tahajud, namun kita tetap saja berat untuk bangun di sepertiga malam terakhir. Kita paham janji Allah tentang balasan sedekah, namun kita tetap saja menempatkan sedekah sebagai uang sisa. Apa sebenarnya yang terjadi?

Fenomena tersebut ternyata terkait dengan tingkat keyakinan yang kita miliki. Seberapapun kedalaman pengetahuan akan sesuatu, implikasi terhadap perilaku belum tentu terjadi. Terdapat satu variabel penting yang mempengaruhi yaitu “keyakinan”. Beberapa tulisan tentang keyakinan ini sudah pernah dibuat, dapat dibaca (klik) kembali dalam YAKIN dan SUDAHKAH KITA YAKIN?

Ternyata keyakinan itu sendiri mempunyai tingkatan. Satu sama lain di antara kita mungkin memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Bahkan dalam diri kita, tingkat keyakinan itu mungkin juga berbeda-beda pada satu aspek dibandingkan aspek yang lainnya. Berikut beberapa tingkatan keyakinan:

Pertama, keyakinan tingkat pengetahuan. Kita ‘baru’ pada tingkat mendapat pengetahuan tentang sesuatu hal. Kita tahu tentang ikan paus misalnya. Kita mendapatkan pengetahuan dari membaca atau cerita orang lain. Mungkin melalui media seperti TV atau internet. Tetapi kita belum pernah melihat sendiri, apalagi menyentuhnya.

Bagi kita yang belum berkesempatan ke tanah suci, keyakinan tentang keberadaan ka’bah menjadi contoh keyakinan tingkat pertama ini. Kita yakin keberadaan Ka’bah, meski kita tidak pernah melihat atau menyentuhnya.

Kedua, keyakinan tingkat indera. Selain tahu tentang sesuatu, kita sudah pernah melihat dengan mata sendiri, menyentuh, merasakan dampaknya secara ‘tangible‘ atau mendengar suaranya secara langsung. Orang-orang yang berada pada tingkat keyakinan ini akan memiliki kekuatan lebih, akan mempunyai dorongan yang lebih besar untuk mengkonversi apa yang diketahui menjadi perilaku.

Tingkat keyakinan kedua tersebut dapat kita lihat ketika seseorang pulang haji atau umrah. Energinya tentang tanah suci berlipat-lipat ganda dibandingkan sebelum berkunjung kesana. Jika sebelumnya tahu Ka’bah dari gambar, kini orang-orang tersebut melihat sendiri, menyentuh sendiri, mencium sendiri, dan merasakan langsung getaran hebatnya. Rasa kerinduannya pun bertumpuk-tumpuk dan banyak diantaranya mengorbankan hartanya demi untuk kembali lagi kesana. Itulah energi ketika keyakinan sudah tidak sekedar pengetahuan, melainkan telah dirasakan melalui indera secara langsung.

Ketiga, keyakinan yang bersumber dari hati. Pada tingkat ini, yang yakin itu tidak sekedar otaknya, atau matanya, melainkan hatinya. Inilah keyakinan yang tidak akan tergoyahkan. Segala insentif dunia, pada dasarnya hanya menyentuh akal dan indera, tidak menyentuh hati. Maka, siapa saja yang berada pada tingkat keyakinan ini, akan melakukan apa yang diyakininya apapun resikonya.

Sang Sahabat Abu Bakar meyakini peristiwa Isra’ Mi’raj tidak dengan akal, tidak pula dengan mata, tetapi dengan hati. Serta merta beliau menyatakan “percaya” atas berita perjalanan Nabi tersebut. Itulah kemudian beliau dikenal sebagai Abu Bakar As-Shiddiq. Beliau menerima kebenaran peristiwa itu bukan karena bukti secara akal atau kasat mata, tetapi karena hatinya yang bersih dapat meneropong jauh melampaui kemampuan akal, lalu membenarkan peristiwa tersebut.

Keteladanan Sahabat ABu Bakar yang menunjukkan tingkat keyakinan tertinggi ditunjukkan dalam peristiwa Perang Tabuk. Ketika Nabi menghimbau siapa saja untuk memberikan sumbangan logistik perang, tidak tanggung-tanggung, Abu Bakar menyerahkan 100% hartanya. Sampai-sampai Allah memujinya dalam QS Al-Lail (17-21), “Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan”.

Bagaimana dengan kita? Pada tingkat manakah keyakinan kita? Mari kita lihat, salah satunya dalam konteks amalan bersedekah …

Sebagian dari kita telah tahu tentang keutamaan bersedekah. Sudah paham pula tentang matematika sedekah, bahwa sedekah satu akan diganti sepuluh, dan seterusnya. Namun, tiap individu kemudian merespons dengan aksi yang berbeda-beda, tergantung tingkat keyakinannya. Seseorang yang berada di tingkat keyakinan pertama akan memotivasi aksi sedekahnya dengan akalnya, melalui pertimbangan cost-benefit dan sejenisnya. Seseorang dengan tingkat keyakinan kedua,  yang telah merasakan langsung dampak positif sedekah melalui panca inderanya akan termotivasi lebih untuk melakukan lagi yang lebih banyak lagi. Dan, seseorang yang berada pada keyakinan hati akan melakukan seperti yang dilakukan Abu Bakar RA, bukan lagi karena hitung-hitungan akal, tetapi lebih karena teropong hatinya melihat Allah dan Rasulullah dan kebahagiaan baginya adalah memberi sesuatu untuk Tuhannya.

Akhirnya, marilah kita terus memupuk keyakinan melalui berbagai vitamin hati, sehingga koneksitas hati kita semakin bersih … Wallahu’alam …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s