Merenungi Anak-Anak, Tentang Siapa yang Sebenarnya Mengurus Mereka …

Anak-anak adalah anugerah yang luar biasa. Wajah yang berseri-seri dan buncah kegembiraan di dada, selalu menyambut kelahiran mereka di hari pertamanya. Di sisi lain, anak adalah amanah, titipan yang sangat besar dari Tuhan. Dengan pemahaman itu, kita mengurus sang anak tentu harus sesusi keinginan Tuhan, bukan semata keinginan kita.

Kita sebagai orang tua kadangkala sesumbar bahwasanya kitalah yang membesarkan & mengasuh anak-anak kita. Kita juga mengklaim kitalah yang mengajari dan mendidiknya. Bahkan, atas segala prestasinya, kita sering nebeng kebanggaan. Melalui tulisan ini, mari kita merenung, apa yang sebenarnya sudah kita lakukan? Kontribusi apa yang telah kita berikan untuk pertumbuhan mereka?

Lihatlah paras mereka. Apa yang sudah kita lakukan untuk mempercantiknya? Apakah kita menyumbang ide tentang bentuk wajahnya? Apakah kita ikut merancang tekstur rambutnya? Apakah kita mendesaian komposisi organ-organ di wajahnya? Maha Hebat Tuhan yang menciptakan keelokan & kecantikan pada anak-anak kita.

Kemudian, mari kita perhatikan tumbuh kembangnya. Apa yang sudah kita lakukan utk menumbuhkan tulang dan ototnya? Kontribusi apa yang telah kita berikan utk membuatnya mampu berbicara & berbahasa? Apa yang kita perbuat sehingga pencernaannya berkembang, beradaptasi dengan beragam makanan & minuman? Sistem motorik kasar dan halusnya berkembang baik, apakah kita ikut menyempurnakannya?

Lalu, mereka berprestasi. Satu demi satu pelajaran di sekolah dilahapnya. Surat demi Surat di Quran pun dihafal. Apa kontribusi kita dalam perkembangan otaknya? Sungguh luar biasa perkembangan memori mereka. Apakah kita turut serta melakukan upgrade pada neuron-neuron syarafnya?

Lihatlah betapa kasih sayang Allah melimpah ruah. Jutaan informasi, baik dan buruk, bertebaran dalam berbagai media. Tidak seluruh waktu kita bersama anak-anak kita. Tetapi, anak-anak itu terjaga dari pengaruh jahat. Mereka tumbuh positif. Ya, informasi-informasi itu terfilter. Apa kontribusi kita dalam hal ini? Dialah yang menggerakkan semuanya sedemikian rupa sehingga anak-anak itu berada dalam pergaulan yang tepat.

Ya betul, memang kita yang menyiapkan susunya sewaktu bayi. Kita merancang asupan gizinya seideal mungkin. Berjibaku kita bekerja untuk menafkahi kebutuhannya. Tapi semua yang kita perbuat itu, rasa-rasanya tidak ada seujung kuku dibandingkan kehebatan Tuhan mendesain kornea mata sang anak.

Kita pula yang memilih sekolah & memfasilitasi guru les di rumah. Tidak sembarangan, semua dengan penuh perhitungan. Kita memberi wejangan setiap hari. Tapi sepertinya semua itu tak secuilpun berbanding dengan kemurahan Tuhan menanamkan iman di hati sang anak.

Tuhan mendesain anak-anak itu dalam ukuran yang paling tepat dan presisi. Dialah Sang Arsitek itu. Lalu Dia mengurusnya, seringkali bahkan tanpa kita sadari. Lalu kita ini siapa? Kita adalah salah satu makhluknya yang diberikan kesempatan luar biasa untuk mengelola titipannya. Tak ada kesulitan sedikit pun bagi Tuhan untuk mengarahkan anak-anak kita itu menjadi apapun yang dikehendakiNya, namun kita diberi kesempatan untuk mengelola ladang amal, menghadirkan ikhtiar-ikhtiar yang menjadi trigger berkembangnya sang anak menuju pada perkembangan yang diinginkan Tuhan.

Kehebatan Tuhan mengurus anak-anak kita sekaligus menunjukkan betapa lemahnya diri kita. Bayangkan, ketika mereka tidur, untuk menjaga dari gigitan nyamuk saja kita tidak mampu. Maka, hal paling krusial dalam mengurus anak bukan terletak pada bagaimana memberi mereka makan atau memberi penjagaan secara fisik, karena kalau fokusnya ini dipastikan kita tidak akan mampu. Kita tetap meletakkan ikhtiar secara proporsional sebagai sebuah amal shaleh, namun dengan semuanya dalam bingkai kesadaran bahwa Tuhan sajalah Dzat terhebat yang menjamin rizki dan memberi penjagaan paling sempurna.

Hal paling krusial dalam mengurus anak terletak pada pengenalan Tuhan itu sendiri. Itulah kenapa warisan yang ditinggalkan Luqman kepada anak-anaknya adalah nasehat tauhid, bukan harta benda. Setelah itu, fokus berikutnya adalah pemahaman tentang kehidupan dan cara belajar.

Mudah-mudahan melalui renungan ini kita semua tergolong sebagai orang tua yang amanah, yang setiap ikhtiar pengasuhannya bersandar pada Allah, karena Allah dan untuk Allah.  Itulah makna ketika kita mengatakan, “Nak, aku mencintaimu karena Allah”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s