Manusia, dititipi lalu lupa diri …

Andi memiliki 2 buah mobil di rumahnya. Andi berpikir, dengan aktivitas yang ada, keberadaan mobil yang satu kurang terpakai (unutilized). Singkat cerita Andi memutuskan meminjamkan salah satu mobilnya itu ke tetangganya, gratis, nggak perlu uang sewa.

Suatu hari, Andi membutuhkan mobil tambahan untuk mengantar seorang tamu keluar kota. Lalu dia bilang ke tetangga tadi, “Mas, saya pinjam dulu ya mobilnya besok, mau antar tamu”. Namun si tetangga menjawab, “Waduh, gimana ya, besok dipakai buat anak saya sekolah tuh”. Okay, Andi pun akhirnya mencari alternatif lain untuk antar tamu tersebut.

Beberapa masa kemudian, kembali Andi punya kebutuhan tambahan mobil. Kali ini anaknya sakit, sedangkan mobil yang biasanya terlanjur dipakai perjalanan bisnis ke luar kota. Andi pun mengetuk pintu rumah tetangga, “Mas, bisa pinjam mobilnya? Saya perlu sekarang nih soalnya anak saya sakit”. Si tetangga pun menjawab, “Wah, hari ini agak repot nih kalau kami nggak ada mobil. Saya harus bolak balik ke beberapa tempat, belum lagi antar jemput anak sekolah. Mungkin anak sampeyan bisa ke RS naik taksi, ini saya bantu no telpnya, 021xxxxxx”

Bagaimana perasaan kita seandainya kita menjadi Andi dalam ilustrasi cerita sederhana tersebut? Mungkin sebagian dari kita akan menumpahkan kemarahan kepada si tetangga. Bahkan, mungkin sebagian kita akan dengan serta merta menarik mobil yang dipinjamkan tersebut dari tangan si tetangga yang tidak tahu diri itu …

***

Belajar dari cerita di atas, kita percaya bahwa perilaku “lupa diri” itu menyebalkan sekali. Namun, pernahkah kita berkaca, jangan-jangan kita juga sering berprilaku “lupa diri” seperti yang diperankan oleh si tetangga itu?

Mari kita renungkan segala sesuatu yang kita miliki. Semua harta kekayaan kita, termasuk kekayaan yang kita genggam, tidak lain tidak bukan, semuanya adalah titipan dari Allah. Kita terlahir di bumi ini tidak punya apa-apa, tidak berbekal apapun, lalu Allah Yang Maha Kaya menitipkan kekayaan, sebagai sebuah kenikmatan hidup di dunia, sekaligus sebagai amanah yang harus dimanfaatkan untuk kebaikan.

Lalu, setiap hari, Allah mengetuk pintu kita, “adakah yang bisa kalian pinjamkan untukKu?”. Allah mengetuk melalui anak yatim yang kita jumpai, melalui si fakir yang kita lalui, atau melalui berbagai pengumuman ladang wakaf masjidNya yang silih berganti.

QS Al Hadiid, ayat ke-7, “Berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya . Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar”

Sayangnya kita sering tidak bergeming. Allah mengetuk pintu kita setiap hari, tetapi kita menulikan telinga kita. Allah memberitahu kita setiap hari tetapi kita membutakan mata kita sendiri. Kadangkala kita sok sibuk, seperti dicontohkan si tetangga tadi, lupa bahwa yang meminjam adalah pemilik aslinya. Padahal, jika kita meminjamkan apa yang kita miliki (yang sejatinya milik Allah itu), Allah yang Maha Baik pun pasti akan mengembalikannya dalam keadaan utuh, bahkan lebih baik.

QS Al-Baqarah ayat ke-245, “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak …”

Ah, sungguh luar biasa Tuhan kita ini. Dia yang memiliki segala perbendaharaan harta di semesta ini, lalu dia menitipkan kepada kita, sampai disini seharusnya malu kita ini. Dia Sang Malik sebenarnya tidak perlu meminjam, kalau mau ambil terserah saja kehendakNya. Itupun seringkali kita keberatan untuk meminjamkannya, sampai-sampai Dia memberikan insentif bagai umatNya yang bersedia memberikan pinjaman …

Sungguh tragis perilaku kita ini. Selalu saja ada alasan untuk menunda infaq, wakaf, sedekah, atau segala macam bentuk pinjaman yang baik di jalan Allah. Lupakah kita bahwa pada hakikatnya kita sedang berada dalam antrian untuk bertemu dengan malaikat maut, dan kita tidak pernah tahu kita berada di antrian nomor berapa …

QS Al Munafiqun …

9. Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu & anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi

10. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan padamu sebelum datangnya kematian kepada salah seorang diantaramu; lalu ia berkata, “Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan kematianku, sehingga aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh”

11. Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan kematian seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.

Semoga Allah Yang Maha Sayang tak henti melimpahkan hidayahNya untuk kita semua …

2 thoughts on “Manusia, dititipi lalu lupa diri …

  1. Dalam hidup ini, memang tidak ada hubungan saling memiliki, semua hanya titipan. Bila kita merasa memiliki, maka kita bebas memperlakukan/menggunakan sesuka kita, tapi karena ini titipan, harus dijaga sebaik-baiknya 🙂 Nice posting pak!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s