Ketika Bicara Tak Lagi Menggugah

Mungkin ada di antara kita seorang kepala rumah tangga yang sedang frustasi karena ajakan kepada istri dan anak-anak untuk shalat berjamaah dijawab dengan keengganan. Mungkin ada di antara kita seorang suami yang mulai putus asa karena permintaan kepada istri agar berjilbab tidak juga dituruti. Mungkin ada di antara kita seorang ayah yang gelisah karena perintah kepada anak agar membaca Quran selalu bertepuk sebelah tangan. Mungkin pula ada di antara kita seorang direktur yang tidak habis pikir mengapa ajakan kepada anak buah untuk selalu shalat dhuha di permulaan hari seakan angin lalu.

Ketika bicara tak lagi menggugah, apa yang kita lakukan? Sebagian dari kita membungkus rasa frustasinya dengan amarah. Sebagian lagi menyalurkan kegelisahannya dalam bentuk ancaman. Dan, ada juga yang kemudian berhenti berbicara ….

Sejatinya, ketika bicara tak lagi menggugah, inilah saat yang tepat untuk mengambil cermin dan berkaca. Apakah kita sudah berbicara dengan ikhlas? Jangan-jangan kita berbicara itu untuk memuaskan keinginan kita semata. Atau bisa jadi, kita terlalu percaya diri dengan kharisma diri lalu meyakini bahwa kharisma itulah yang menggugah seseorang? Atau mungkin kita terpukau dengan kemampuan diri mengolah kata lalu meyakini kata-kata yang terangkai dari mulut kitalah yang mendorong seseorang melakukan sebuah perubahan …

Ah, ini rupanya jawabannya. Ternyata, bicara tak lagi menggugah karena kita bergantung pada bicara itu sendiri. Kita terlalu meyakini karena bicara kitalah istri dan anak-anak akan berubah, pantas saja mereka tidak tergugah dan tidak berubah. Kita siapkan presentasi terbaik di depan anak buah, lalu meyakini presentasi itulah yang akan menggerakkan mereka, dan … pantas saja mereka tidak tergerak.

Desainer dan pencipta manusia adalah Allah. Pemilik hati adalah Allah. Penguasa rasa adalah Allah. Maka, pasti, tanpa keraguan, Dialah satu-satunya Dzat yang dapat merubah dan menggugah manusia.

Maka, ketika bicara tak lagi menggugah, jangan justru kita berhenti berbicara. Ayo perbaiki niat. Tanamkan dalam hati bahwa kita berbicara dan mengajak bukan untuk kepentingan dan kepuasan kita. Sadarilah bahwa sehebat apapun rangkaian kata, tetap saja tidak bisa menggugah seseorang tanpa ijin Allah SWT. Maka, mari terus mengajak dengan perkataan terbaik. Tetapi jangan biarkan hati berbicara pada manusia. Bibir berbicara pada manusia dengan perkataan terbaik, hati harus dijaga tetap berbicara hanya pada Allah, “Hamba berbicara ini karenaMu ya Rabb. Bukankah Engkau suka dengan manusia yang mengajak kebajikan manusia lainnya? Wahai Sang Penguasa Hati, Engkaulah satu-satunya yang menggugah dan menggerakkan hati kami, bukan perkataan kami”



One thought on “Ketika Bicara Tak Lagi Menggugah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s