Membangun Tradisi Keluarga

Bagi saya tradisi keluarga sangatlah penting. Keluarga yang tidak mempunyai tradisi sama sekali malah mempunyai resiko terkait keberlangsungannya.

Tradisi sendiri saya pahami sebagai kumpulan kebiasaan yang telah terlembagakan, baik di institusi masyarakat, institusi keluarga atau di perusahaan. Sebagai contoh, sebuah perusahaan mempunyai tradisi family gathering di setiap minggu pertama setiap bulan. Tradisi tersebut awalnya hanya sebuah even biasa yang kemudian menjadi kebiasaan (rutinitas) dan akhirnya menjadi tradisi dimana semua komponen perusahaan tersebut merasa ada yang hilang jika family gathering itu tidak dilaksanakan. Contoh lain, sebuah keluarga yang memiliki tradisi shalat maghrib berjamaah. Tradisi shalat maghrib tersebut menjadi tidak sekedar peristiwa, tetapi menjadi pengikat batin seluruh anggota keluarga.  Contoh lain lagi, sebuah keluarga memiliki tradisi jalan-jalan pagi di akhir pekan. Itulah yang pasti akan sangat dirindukan oleh sang anak ketika seuatu saat dia harus melanjutkan sekolahnya ke luar negeri.

Dari contoh-contoh tersebut kita melihat tradisi tidak sekedar pengulangan aktivitas atau kumpulan peristiwa. Terdapat semacam “ruh” yang menggerakkan siapa saja dalam komunitas itu untuk melakukannya lagi. Terdapat tali virtual yang mengikat batin-batin orang di dalamnya.

Bagaimana membangun tradisi dalam sebuah keluarga?

Membangun tradisi adalah perjalanan panjang yang harus disertai dengan stamina yang juga panjang, disertai dengan ruhiyah yang kuat. Beberapa inspirasi terkait tradisi dapat dibaca dalam tulisan saya sebelumnya, yang berjudul Tradisi. Dalam tulisan kali ini akan diuraikan kondisi-kondisi yang diperlukan supaya sebuah tradisi dapat dibangun.

Pertama, Passion. Setiap orang melakukan tradisi tersebut dengan passion, bukan karena aturan, apalagi karena keterpaksaan.

Kedua, Kebanggan. Setiap orang merasa bangga dapat ikut serta atau melakukan aktivitas tersebut.

Ketiga, Keteladanan. Terdapat keteladanan yang konsisten dari kedua orang tua, tanpa kecuali. Faktor ketiga menjadi faktor pendorong yang paling penting terutama untuk menjaga kesinambungan tradisi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s