Ketika Sang Tamu Datang …

bel berbunyi tanda ada seorang tamu datang. aku pun tergopoh-gopoh menuju pintu. sebelum kubuka pintu, kutengok keluar sejenak, kusibakkan korden sedikit, kuintip, dan kagetku luar biasa. ternyata yang datang adalah tamu istimewa itu. oh no, kok udah datang sih, bisikku dalam hati. aku memutar badan, pandangan menyapu ruang tamu dan ruang tengah yang berantakan. koran dan buku berserakan kesana kemari, kertas sisa2 pekerjaan bertebaran di sana-sini, laptop dan alat tulis pun tidak pada tempatnya. tanpa pikir panjang, aku bergerak secepat kilat merapikan sebisanya.

bel kembali berbunyi, kali ini aku pun berbasa basi, “maaf dengan siapa ya?”, suara di balik pintu pun menjawab, “ini aku, masak lupa, kan tiap tahun aku nginep di rumahmu”. Astaghfirullah, baru inget kamar tamu belum dibersihkan, secepat kilat aku menuju kamar tamu, merapikan ini itu. wah, kacau nih, bisikku dalam hati, kenapa ga kemarin2 bilangnya kan aku bisa rapikan dulu.

bel kembali berbunyi untuk ketiga kali, “kamu ngapain? aku boleh masuk nggak? kan udah kubilang dulu2, kalau tiap tahun tanggal segini aku akan selalu datang lagi” suara di balik pintu itu sedikit berseru, seakan2 tahu isi hatiku. “Iyaaa …  sebentar yaa” seruku kali ini. Kali ini aku ingat satu hal lagi, alat2 jamuan itu belum siap, barang2nya entah kemana … aaah, mampus aku!!

tamu ini memang lain dari yang lain. dia datang bukan untuk dijamu, malah sebaliknya untuk menjamu. dia datang selalu dengan membawa hidangan yang luar biasa untuk diriku, keluargaku, juga teman2ku. aku malu aja, dia udah bawa hidangan seistimewa itu, kok aku ga nyiapin alat2 jamuannya, ga tahu diri banget rasanya …

bel kembali berbunyi untuk keempat kalinya, “haloooooo ….” katanya. kali ini aku udah lemas, tidak tahu lagi harus ngapain. Sejurus, dengan rasa malu yang rasanya menebali wajah, akhirnya kubuka pintu. “selamat datang” agak bergetar suaraku mencoba menyambutnya. sang tamu melempar senyumnya yang luar biasa itu. “eee … silakan masuk, maaf berantakan, belum sempet siap2 hehe” kata2 itu akhirnya meluncur dari mulutku. “ah, ga papa kok, biasanya juga gimana” tukasnya, masih dengan senyuman. aku merasakan wajah agak hangat memerah. “hehe iya, sekali lagi selamat datang, maaf kalau tiap tahun penyambutanku selalu amburadul kayak gini”

MARHABAN YAA RAMADHAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s