Sabar dalam Beramal

Dari sekian banyak pengalaman hidup yang saya alami, salah satu kesimpulan yang muncul adalah bahwa ketika melakukan sebuah amal kebaikan, kita pasti akan diuji oleh Sang Penguasa Kejadian. Selalu dihadirkan beberapa kejadian baik sebelum, saat atau sesudah amal kebaikan tersebut kita lakukan. Saya meyakini bahwa semua itu memang diskenariokan untuk melihat seberapa jauh tingkat IKHLAS yang kita miliki.

IKHLAS, sejauh yang saya pahami, adalah faktor perkalian dalam amal-amal kita. Misalnya kita bersedekah 100 ribu, tapi kita tidak ikhlas, maka faktor pengali amal itu adalah “0” (nol). Jadi, 100 ribu kali 0 = 0. Sebaliknya ketika kita ikhlas, bisa jadi sedekah 100 ribu tersebut dikalikan 2 atau 5 atau 1000 dan seterusnya.

Nah, untuk mendapatkan derajat ikhlas tersebut tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kita harus berjuang melalui ujian2 yang disiapkan oleh Allah Yang Maha Baik. Keterjadian ujian tersebut bisa jadi ada 3 kemungkinan, yaitu:
– sebelum amal dilakukan, atau
– pada saat proses amal itu berlangsung, atau
– setelah amal tersebut ditunaikan.

Mari kita cermati beberapa kasus berikut ini:

Kasus 1: Kita berniat bersedekah 100 ribu, diserahkan ke sebuah masjid. Pada hari H ketika menyerahkannya, tiba-tiba yang biasanya di Masjid ramai jadi sepi, ujiannya adalah apakah muncul perasaan dalam hati “yaa … nggak banyak yang tahu nih kalau saya bersedekah hari ini”

Contoh 2: Ketika baru saja bersedekah, pulang ke rumah, tiba-tiba muncul kebutuhan yang tidak terelakkan, entah karena kebutuhan kita sendiri, anak2 kita, orang tua, teman atau lainnya. Ujiannya adalah apakah muncul dalam benak kita “yaaa .. tahu gitu tadi untuk ini aja” atau sebuah ungkapan perasaan “tadi udah dikeluarin sedekah, kok masih ada aja sih” atau bahkan sebuah keluhan “katanya sedekah mengundang rizki berikutnya, kok ini malah mengundang pengeluaran berikutnya”

Contoh 3: Kita baru saja mendapat bonus besar. Sebagai uangkapan syukur, kita serahkan semua bonus itu untuk wakaf. Tak lama setelah penyerahan wakaf, bertemu dengan seorang kawan yang tahu kita menerima bonus datang mau berhutang. Tentu saja kita tidak bisa memenuhi permintaannya, karena memang tidak ada uang lagi. Lalu kawan kita itu berkata, “Ayolah, kan kamu baru dapat bonus gede???” Hmm .. bagaimana kita menyikapinya?

Tulisan ini mungkin tidak memberikan jawaban tentang bagaimana kita menyikapi ujian2 tersebut. Tetapi mengajak kepada kita semua untuk waspada dan waspada. Mari senantiasa tundukkan hati di setiap amal kebaikan yang kita lakukan. Mari kita tingkatkan awareness bahwa tidak ada kejadian tanpa seijin Allah. Maka, di setiap kejadian itu, kita harus menyikapinya dengan sikap terbaik.

Wallahu’alam

2 thoughts on “Sabar dalam Beramal

  1. Woooow…..good point….kasus2nya membumi dan sangat sering terjadi….hohoho….semoga bs terus diberi kemampuan meningkatkan kadar ikhlas biar faktor pengalinya semakin besar….!!

  2. hehe…iy terkadang mengalami hal tersebut.
    kemblai lagi yah ikhlas nya hati tidak ketika kita mau memberikan yang memang bagian nya Tuhan yang sudah seharusnya menjadi kewajiban kita.
    salam kenal mas 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s