Di kamar bidadariku …

Malam ini malam takbiran idul qurban. Saya baru pulang dari denpasar malam itu, penat memenuhi raga setelah perjalanan yang cukup melelahkan. Ingin segera merebahkan diri, namun saya putuskan mampir sejenak ke kamar anak2 ….

Jam menunjukkan 00.15 ketika saya memasuki kamar anak2. Kamar ini tidak luas, namun cukup untuk menampung sepasang bed ukuran anak2 yang didesain kompak, jika satu tidak digunakan bisa didorong ke dalam kolong bed satunya sehingga mencipta ruang yang lumayan lega.

Malam itu, kaka ayasha tidur di atas, sementara ade hafa di bed bawah. Keduanya lelap dalam mimpinya, tidak menyadari keberadan ayahnya yang telah hampir setengah jam duduk di tepian bed atas memandangi wajah mereka satu per satu bergantian.

Saya berdiam, bersholawat dalam hati, sambil menebarkan pandangan di setiap inci dinding kamar ini. Tergambar aktivitas sang medina dan sang mecca dalam berbagai coretan, gambar, dan berbagai tempelan dinding. Memang mereka saya biarkan kreativitasnya tercurah di kamar ini …

Tiba-tiba air mata menggenang melihat sebuah gambar tulisan kaka yang berisi “5 nasehat ayah” yang bersebelahan dengan gambar yang sejenis berisikan “5 pantangan”. Sang kaka yang beranjak besar mulai terbiasa mendokumentasikan apa saja peristiwa yang dialaminya dalam bentuk gambar atau tulisan …

Lima Nasehat Aset

Lima Pantangan

Di sudut yang lain, di sisa ruang yang sempit, saya buatkan mereka sebuah meja belajar ala kadarnya, sebagai sebuah simbol perpustakan mini dan sebuah “reminder” pada mereka bahwa kita harus belajar tiap hari. Saya ingin mengatakan kepada mereka bahwa ilmu adalah kekayaan yang abadi, dengan ilmu itulah kita mengenal Sang Pencipta dan dengan ilmu pulalah kita bisa berkarya & bermanfaat  …

Meja belajar

….

Jam menunjukkan pukul 00.55 ketika ade hafa menggeliat merengek secara khas dengan mata tetap terpejam, sebuah rengekan haus minta minum. Dengan setengah meloncat tanpa bersuara saya meraih botol (dot) yang ada di meja di sisi kamar yang lain, menakar jumlah bubuk susu di dalamnya, lalu meraih sebuah termos kecil yang memang sudah disiapkan. Dengan sekali pencet, air keluar bergemiricik dari bibir termos dengan pelan. Dengan sengaja saya sodorkan jari untuk mengukur tingkat panasnya air itu, hmm .. sudah tidak terlalu panas, seketika saya putuskan menambah jumlahnya dari yang seharusnya 50 ml menjadi 100 ml. Sebuah kocokan kecil melarutkan bubuk susu itu, untuk akhirnya aqua 80 ml menyempurnakan susu buat ade hafa malam itu …

Dengan tetap terpejam, sang ade menghisap susu melalui botol kesayangannya. Saya ingin mengiringi tidur mereka dengan bacaan Quran, tetapi serangan kantuk setelah penerbangan yang melelahkan membuat saya tak sanggup melakukannya. Maka, sebelum beranjak, saya keluarkan Ipod dari kantong, menyalakannya .. dan sejurus kemudian terdengar senandung indah Surat Al Anam oleh Syeikh Suraim memenuhi ruangan, menemani bidadari2 itu di sisa malam …

3 thoughts on “Di kamar bidadariku …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s