Tradisi

Tradisi berasal dari kata “traditio” dari bahasa latin yang bermakna “diteruskan”. Dalam pemahaman yang sederhana, tadisi bermakna kebiasaan, tata cara, atau nilai yang dilakukan terus menerus secara konsisten dalam kurun waktu yang lama.

Enam tahun yang lalu, menjelang berpulangnya, almarhum papa mertua saya memberikan pesan tentang kelanggengan keluarga. Beliau mengatakan bahwa keberlangsungan sebuah keluarga salah satunya ditentukan oleh tradisi yang berhasil dibangunnya. Tradisi itulah yang akan membangun nilai yang disepakati bersama, juga membangun pilar yang menyatukan segala perbedaan, serta memberikan “ruh” pada rumah yang akan membuat anggota keluarga selalu kembali ke rumah.

Selama lebih dari enam tahun ini saya mencoba membangun tradisi keluarga saya. Melalui berbagai perenungan dan dialektika, saya mencoba membangunnya dalam 3 tingkat tradisi. Tingkat pertama adalah perilaku, yaitu tradisi yang berbentuk perbuatan, sebuah kesepakatan atas rutinitas. Tingkat kedua adalah nilai, yaitu melembaganya nilai-nilai tertentu, baik dalam setiap diri keluarga saya maupun dalam keluarga sebagai sebuah kelompok. Tingkat ketiga adalah tradisi hati, yang berimplikasi pada terbangunnya sebuah “reflek” dalam menyikapi sebuah kejadian, yang berakar pada pengenalan atas Allah Sang Penguasa Kejadian.

Itulah tradisi yang semoga senantiasa menyatukanvisi keluarga kami. Tradisi yang membentuk pola pikir dan pola sikap istri dan anak-anak saya. Sebuah tradisi yang menjadikan tahajud sebagai titik start mulainya hari, tradisi yang membentuk sistem pengasuhan ala Nordiawan, tradisi yang membentuk kami sebagai pekerja keras, serta tradisi yang membuat anak-anak berseru “terima kasih Ya Allah” setiap mendapat kesenangan atau berbisik “tolong kami Ya Allah” setiap menghadapi himpitan …

4 thoughts on “Tradisi

  1. inilah salah satu alasan saya mantaaap nerima lamaran mas.. hohoho…

    yang jelas saya SANGAT PERCAYA, keluarga yang kokoh dibangun dari tradisi yang kuat juga.. mudah2an Allah senantiasa membimbing supaya keluarga kita dipenuhi tradisi yang bersandar pada Allah.. amiin 🙂

  2. Wah…wah…Setuju banget tuuh,dengan membangun 3 Tingkatan dalam Tradisi ala Noordiawan, dari mulai Perilaku, Nilai, dan Hati, akan tetapi jika sebagai start awal hari adalah Tahajud (berarti tidurnya harus lebih awal agar teori istirahat minimal 8 jam sehari tetap tercapai), buat saya itu adalah suatu hal yg ideal, dimana pilar yg 3 tadi harus dimulai sejak dini adalah mudah dilaksanakan jika biasa atau pepatah mengatakan ” ala bisa karena biasa”.

    Akan sangat sulit mentradisikan sesuatu yg tidak dibangun pilar yg kokoh dalam suatu komitmen mulai dari keluarga. Mungkin 1 usulan saya menambah tingkatan dalam tradisi dengan kebiasaan “muhasabah diri” setiap malam sebelum tidur dan menutup hari dengan witir..(maaf jika rancu dengan kapan start dan kapan finish dalam 1 hari)……

    Thanks Bu Mully, ditunggu terus sharing ilmunya …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s