Menengok Hijrah 1429 Tahun yang Lalu

24 September 622 M …. Lelaki agung itu duduk di atas Qashwa, unta kesayangannya, ketika bersama Abu Bakar dan rombongan hijrah lainnya menuruni bukit terakhir di perbatasan Quba’. Dari lereng tersebut, lelaki agung yang tak lain adalah Muhammad SAW, menyaksikan sebuah hamparan hijau. Itulah tempat yang dalam beberapa waktu kemudian dikenal oleh dunia sebagai “Kota” yang dalam bahasa arab disebut “Al Madinah” dan dalam bahasa inggris disebut “Medina”

Hal pertama yang dilakukan Rasulullah di Quba’ adalah membangun masjid. Inilah pesan untuk seluruh umat, bahwa mesjid merupakan pilar, pangkalan tempat kita semua berkumpul dan mengkonsolidasikan kekuatan. Sebuah pesan mulia agar kita memakmurkan masjid menjadi pusat ibadah, pusat pendidikan dan pusat segala aktivitas lainnya. Masjid menjadi basis atau awalan atas segala hal. Maka, masjid beserta segala nilai yang ada di dalamnya merupakan benchmarking atas segala permasalahan umat di dunia ini.

Setelah tiga hari berada di Quba, Rasulullah memasuki Madinah pada 27 September 622 M. Di perbatasan, di sepanjang jalan, penduduk tumpah ruah. Mereka benar-benar bersemangat menunggu sejarah terjadi, menantikan kedatangan rombongan Muhammad SAW, seorang yang pada waktu itu diberitakan sebagai nabi terakhir. Tua muda, laki-laki perempuan, bahkan anak-anak terlihat merangsek, ingin melihat wajah rembulan sang Nabi dan menjadi orang pertama yang mengucapkan salam kepadanya. “Selamat datang Nabi Allah. Selamat datang Rasulullah”, bergema seruan-seruan itu di segenap penjuru. Itulah rombongan hijrah yang telah mencapai Madinah setelah menempuh perjalanan ruhiyah selama kurang lebih 15 hari dari Makkah.

Tampak di samping Rasulullah, Abu Bakar, sang sahabat yang selalu mencurahkan cintanya semata untuk Allah dan Rasulnya. Masih terbayang di wajahnya peristiwa luar biasa di sebuah gua di bukit Tsawr, ketika sekelompok kaum kafir yang memburu Rasulullah dan Abu Bakar menemukan gua tempat mereka bersembunyi. Itulah peristiwa dimana upaya manusia mencapai sebuah titik nadhir, tak berdaya, tak bisa berbuat apa-apa. Sebuah fenomena hikmah luar biasa, bahwa manusia yang tak berdaya ternyata bisa menghasilkan sesuatu yang di luar batas kemampuan normalnya ketika semua disandarkan kepada sang Khalik. Hal itu terlihat ketika pada saat kritis itu Rasulullah menoleh kepada Abu Bakar dan membacakan firman Allah, “Jangan bersedih karena sesungguhnya Allah bersama kita”, dan kemudian bersabda, “Apa yang kau khawatirkan dari dua orang ketika Allah yang ketiga”. Maka, Allah menghadirkan merpati dan sarang laba-laba untuk mengecoh para pengejar itu.

Juga terdapat Ali bin Abi Thalib, sang pemberani yang berkamuflase menjadi Muhammad, berselimut di tempat tidur Nabi, untuk mengecoh para pengepung rumah Nabi pada saat malam keberangkatan hijrah Nabi. Dialah pemuda dengan nyali luar biasa yang mengarungi padang pasir menuju Medinah selama dua minggu dengan berjalan kaki, siang bersembunyi dan malam berjalan, untuk bergabung dengan saudara-saudaranya yang telah berangkat terlebih dahulu.

Masih di atas Qashwa’, Rasulullah membelah kerumunan dengan senyuman terindah. Itulah senyum yang penuh kebarokahan dari sang kekasih Allah. Itulah senyum yang meluluhlantakkan hati siapapun yang menatapnya, sebuah senyuman yang menghadirkan sengatan halus pada lapisan kalbu, menyentuh syaraf air mata, membuatnya bercucuran dan menanamkan rasa kerinduan tak terperi seumur hidup.

Senin itu, dengan senyum yang penuh kebarokahan sang Rasul melewati rumah demi rumah penduduk Madinah. Setiap orang menawarkan rumahnya atau berharap Rasulullah membangun rumah di lahannya. Rasulullah berkata, ” Biarkan unta ini berjalan karena ia berada dalam perintah Allah”. Qashwa terus berjalan sampai akhirnya berhenti pada sebuah lahan milik dua anak yatim piatu, Sahl dan Suhayl. Qashwa merapatkan dadanya ke tanah dan sang Nabi bersabda. “Inilah, InsyaAllah, kediamanku”

Itulah tapak suci. Tapal batas sejarah peradaban yang kemudian membawa kemulian nilai-nilai ke seluruh dunia …

2 thoughts on “Menengok Hijrah 1429 Tahun yang Lalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s