Partai Rukyah vs Partai Hisab

Tahun ini, 1 syawal di Indonesia kembali berbeda. Sebagian masyarakat merayakan idul fitri pada hari jumat (12 oktober) dan sebagian besar lainnya hari sabtu (13 oktober). Meskipun akhirnya pemerintah, melalui sidang itsbat memutuskan secara resmi bahwa hari raya jatuh pada hari sabtu, namun sebagian pihak tetap menyelenggarakan shalat ied pada hari jumat.

Perbedaan tersebut bukanlah pertama kali terjadi, dan sepertinya akan berulang lagi di masa depan. Adalah masalah perbedaan metodologi yang dipakai yang selama ini menjadi sumber perbedaan. Sedemikian kuatnya pendukung kedua pandangan tersebut membuat wacana setiap tahun menjadi sangat menarik, seakan-akan perseteruan antara dua Partai Politik. Ya, Partai Rukyah vs Partai Hisab.

Partai Rukyah berpandangan bahwa untuk menentukan 1 syawal harus dipastikan dengan penglihatan kita atas bulan. Sebaliknya, Partai Hisab menganggap dengan berbagai perkembanga teknologi yang ada, kepastian apakah bulan telah sekian derajat di atas ufuk dapat dihitung dan diprediksi.

Tulisan ini tidak akan mengekspos metodologi. Silahkan buka berbagai referensi yang banyak membahas keduanya. Yang lebih menarik justru adalah berbagai cara masyaraat menyikapi hal tersebut. Setidaknya, terdapat tiga golongan …

Ijtihad. Ini dilakukan oleh mereka yang memiliki keilmuan secara lengkap, mulai dari pemahaan Al Quran, hadist sampai ilmu-ilmu Fiqh/ushul fiqh dan sebagainya. Inilah para ulama yang biasanya ikut terlibat dalam pengambilan keputusan.

Ittiba. Ini adalah sikap sebagian dari kita berdasarkan pengetahuan dan wawasan tertentu, untuk kemudian memilih metodologi atau keputusan yang sudah dibuat oleh Mujtahid atau orang yang berijtihad.

Taqlid. Ini cara “membabi buta”. Misalnya: saya kan orang Muhammadiyah, pokoknya apa yang diputuskan Muhammadiyah, saya ikuti … Sikap ini biasanya tanpa diikuti pengetahuan atas permasalahan yang ada

One thought on “Partai Rukyah vs Partai Hisab

  1. Pak Deddi, kebetulan saya dari tahun ke tahun konsisten dengan mengikuti fatwa Muhammadiyah. Semoga ini bukan taqlid mengingat saya punya alasan untuk percaya kepada ormas ini.

    Beberapa hari lalu saya menulis artikel lanjutan tentang hal ini. kebetulah bahannya adalah berasal dari pendapat sebuah surat pembaca di koran. intinya adalah perdebatan jangan dihentikan di saat kita selesai sholat id, tapi masih bisa dicek kembali pada waktu2 berikutnya.

    silahkan mampir di blog saya yang memuat artikel tersebut di http://dikkyz.blogspot.com/2007/10/purnama-di-surabaya-lanjutan-diskusi.html

    sukses selalu pak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s