Sejatinya, hidup adalah rangkaian ujian. Maka ketrampilan menjawab ujian menjadi ketrampilan yang wajib kita miliki. Semua orang pasti menghadapi ujian dan tentu saja bagi yang bisa menyelesaikannya yang bersangkutan akan naik tingkat, bisa ditinggikan derajatnya, bisa dipenuhi hajatnya, bisa dilunasi hutangnya, dan lain sebagainya.

Ujian kehidupan tentu saja berbeda dengan ujian di sekolah. Ada beberapa ciri yang bisa kita jadikan pedoman sehingga kita lebih tepat bertindak dan menyikapi.

Kadang kita menghadapi ujian yang berulang. Misal, terus aja kita diuji dengan hilangnya HP milik kita. Atau, sakit yang terus kambuh lagi dan kambuh lagi. Atau, ada yang terjerumus pacaran, lalu bertaubat, pacaran lagi, taubat lagi, pacaran lagi, begitu seterusnya.

Jika ujian itu terus berulang, tandanya kita belum menjawab soal dengan benar. Apa yang inti pertanyaan belum kita tangkap. Kita belum sepenuhnya lolos, sehingga harus diulang lagi. Kalau kita menghadapi seperti ini, yang perlu kita renungkan di setiap ujian adalah apa sebenarnya yang inti ujian ini. Ujian itu berulang bisa jadi karena kita belum menjawab soalnya dengan tepat.

 

Dari satu episode ke episode berikutnya kita punya terminal, untuk berhenti sejenak, bercermin, lalu berlari lebih cepat lagi.

Karena hidup adalah rangkaian ujian, jawaban kadang terselip dalam sinyal-sinyal kejadian. Terminal kemudian jadi penting, untuk kita berhenti sejenak, diam, yang kemudian biasanya dalam diam itu kita menangkap sinyal lebih akurat.

Terminal juga menjadi filter. Dari episode ke episode berikutnya, biasanya terbawa energi negatif. Bisa jadi interaksi kita dengan sesama makhluk lainnya tidak selalu berlangsung baik. Maka, terminal menjadi kesempatan terbaik bagi kita untuk membuang sampah.

Setiap perpindahan episode juga merupakan pengambilan keputusan. Kadang otot dan otak ga nyampe untuk membaca situasi. Maka kita butuh terminal, untuk berhenti sejenak, membaca semua tanda dengan mata hati, lalu mengambil keputusan yang lebih baik di episode berikutnya.

Kita membutuhkan kendaraan untuk mencapai suatu tujuan. Tak terkecuali doa.

Doa yang memuat harapan terbaik hidup kita, terbang ke langit, dengan kecepatan sesuai kendaraannya. Kalau tanpa kendaraan, ibarat kita hanya melempar dengan tangan kosong. Tapi bayangkan jika doa kita itu terbang dengan kendaraan sebuah roket.

Lalu, apa kendaraan doa itu?

Kendaraannya adalah amal sholeh kita. Dari sekian banyak jenis kendaraan doa, ada beberapa yang merupakan golden vehicle, roket-roket dengan kecepatan tanpa batas. Itulah Tahajjud, sedekah dan Quran.227612_10200200231072732_1637510756_n

dscf0382

Hafa, anak tengah. Tidak hanya unik gayanya, tapi juga pola pikir dan pola belajarnya. Ini semua memberikan tantangan sendiri dalam mendidiknya.

Pendidikan tidak sekedar menambahkan pengetahuan belaka. Pendidikan adalah membangun manusia sesuai karakter khasnya, berdasarkan potensi terbesarnya. Pendidikan tidak sekedar mengajar, tetapi juga mengasuh.

Buka puasa mengajarkan satu hikmah bahwa semua perjuangan itu ada etapenya. Ada terminal dan pemberhentiannya. Ada ujungnya.

Mengapa kita kuat berpuasa?
Secara teknis, karena kita tahu bahwa kita akan menjumpai buka puasa.
Secara teknis, kita tahu bahwa haus kita ini ada akhirnya.
Secara teknis, kita tahu bahwa lapar kita akan ada akhirnya.
Maka, Alhamdulillah, kita semua kuat menahan lapar dan dahaga.

Begitulah, ketika kita punya visi-misi hidup yang terukur.

Maka, kita akan punya stamina yang lebih panjang untuk menjalankan riyadoh-riyadoh, menjalani masa-masa sulit, menjalani, mungkin, masa-masa sedang menunggu bagaimana kejutan Allah akan terjadi setelah kita bersedekah dahsyat.

Maka, Saudara-Saudaraku semua, selamat menikmati hikmah buka puasa. Tentukan goals hidup kita, di mana kita akan raih dan nikmati perjuangan, karena kita yakin Allah akan menyampaikan kita pada visi, misi, dan mimpi kita itu…

Berapa kali dalam sehari kita mengucap ALHAMDULILLAH?

Tak terhitung berapa kali kita mengucap hamdalah. Namun, berapa persen diantaranya yang kita ucap dengan menghadirkan rasa dan penghayatan?

Alhamdulillah adalah sebuah ungkapan pujian. Praise to Allah, Rabb, Tuhan Penguasa alam semesta.

Kita memuji sesuatu biasanya karena 2 hal. Pertama, karena sesuatu tersebut memiliki keunggulan atau kelebihan atau kesempurnaan tertentu. Untuk kasus ini kita biasa keluar ungkapan, “wow hebat”, “wah luar biasa”, dan sejenisnya.

Kedua, karena sesuatu tersebut memberikan keuntungan untuk kita. Mungkin ga ada keunggulan tertentu, tapi pemberian ini pas sesuai kebutuhan kita. Dengan berbunga kita biasa mengucapkan terima kasih.

Nah, Allah SWT memiliki dua alasan tadi untuk melahirkan pujian dari hamba-hambaNya. Pertama, Allah itu sempurna. Bahkan lebih dari itu, Allah adalah pencipta kesempurnaan. Kedua, Allah adalah Pemelihara alam raya, penjaga dan pelindung, serta yang tiada henti memenuhi kebutuhan kita.

Maka, ucapan hamdalah seyogyanya kita hadirkan dengan rasa. Ucapan yang diungkapkan dari hati yang penuh kekaguman yang amat sangat, dari seorang pribadi yang sedang berterimakasih banget banget.

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamiin
All praises is due to Allah, Lord of the worlds.

image