Ketika tak satupun orang di sekitar yang memahami pembicaraan, maka dialog dalam hati akhirnya menjadi satu-satunya pilihan. Maka, segala gundah pun akhirnya tersimpan rapat, hanya untukMu, Wahai Sang Maha Pendengar Sejati.
Ketika apa yang dianggap penting tidak lagi menjadi prioritas banyak orang, maka keteguhan hati menjadi sandaran. Aku bekerja untukMu, Wahai Sang Pemilik Semesta.
Mungkin inilah yang disebut jalan sepi seorang pejuang. Ketika investasi harta tak bisa diukur ROInya. Ketika setiap ikhtiar disambut dengan kesangsian. Ketika lambat laun kemudian frekuensi pikiran ini benar-benar berbeda dengan yang lain.
Mungkin inilah yang disebut ujian persistensi dalam perjuangan. Ujian Istiqomah. Seberapa kuat raga ini menopang. Serapa kokoh hati ini bertahan. Seberapa jauh kaki ini melangkah.
Rabbii, sungguh, ketika ribuan setan mengeroyok & mencoba merobohkan pertahanan, cukuplah satu Engkau sebagai penjaga hati ini.