Berlatih Berprasangka Baik

Salah satu yang membuat sengsara hidup ini adalah kegagalan kita untuk berprasangka baik. Jika hal itu terjadi, kita akan sibuk aja memikirkan orang lain, mencari-cari kesalahannya. Bahkan, jika tidak berhati-hati akan tejerumus dalam ghibah dan fitnah.

Maka, penting bagi diri kita untuk selalu melatih diri agar selalu berprasangka baik di setiap kejadian. Berprasangka baik di setiap kejadian kita tujukan kepada Allah, Sang Pembuat Skenario Terbaik, dan juga kepada manusia. Prasangka baik pada Allah bagian dari Aqidah & kepada manusia lain bagian dari Akhlak Karimah.

Bahan bakar prasangka baik adalah YAKIN tidak ada kejadian yg terjadi tanpa ijin Tuhan. Padahal kita tahu, Dialah yang terbaik mengetahui kebutuhan kita. Jadi, dapat dipastikan setiap kejadian yang hadapi pasti “fit” dengan kebutuhan kita saat itu. Dengan keyakinan itu energi kita untuk terus berprasangka baik tidak akan pernah habis.

Maka, berlatih berprasangka baik dapat diawali dengan membiasakan berdialog dengan Tuhan Sang Penguasa Kejadian. Melihat dan mendengar apapun, sertailah dialog dengan Yang Maha Kuasa. Membentur sebuah masalah, curhatlah hanya kepada Yang Maha Mendengar. Jika setiap detik kita sedang dalam keadaan berdialog padanya, maka secara refleks reaksi pertama kita di tiap kejadian adalah “Allah”. Jika sudah demikian, akan lebih mudah bagi kita utk kemudian mengatur prasangka baik kepada Tuhan maupun kepada manusia lainnya.

Demikian, selamat berlatih, menikmati dialog denganNya di setiap kejadian:)

Prasangka, Penyakit Hati yang Sangat Merusak

Prasangka adalah sebuah penilaian yang kita punyai atas sesuatu yang sebelumnya kita lihat, kita dengar atau kita rasakan. Obyek prasangka bisa jadi sebuah organisasi atau individu manusia tertentu. Memang, prasangka tidak selalu buruk (suudzan), karena juga ada yang disebut prasangka baik (husnudzan). Namun, kata prasangka disini yang dimaksud adalah prasangka buruk.

Prasangka adanya di hati, maka ia digolongkan sebagai penyakit hati. Prasangka menjadi penyakit yang sangat merusak karena berasal dari prasangka, muncullah penyakit-penyakit hati yang lain. Prasangka yang diperturutkan akan berkembang biak menjadi perilaku mencari-cari kesalahan. Seseorang yang memiliki prasangka akan memiliki keinginan untuk membuktikan apa yang dipersangkakan.

Pada tahap berikutnya, bisa jadi apa yang dipersangkakan terbukti benar, bisa juga tidak terbukti kebenarannya. Bila terbukti benar, nafsu akan mendorong untuk membicarakan temuannya tersebut kemana-mana, kepada siapapun yang ditemuinya. Inilah Ghibah. Prilaku yang diibaratkan dengan memakan bangkai saudaranya sendiri.

Jika apa yang dicari-cari tidak terbukti kebenarannya, nafsu juga akan mendorong untuk membelokkan fakta. Dan, jika itu dibicarakan dengan orang lain, jadilah fitnah. Naudzubillah. Pelaku fitnah diibaratkan melakukan kejahatan yang lebih besar dari pembunuhan.

Mari jaga diri kita dari prasangka. Mari mencari seribu satu alasan untuk selalu berprasangka baik. Mari memahami bahwasanya segala kejadian tidak akan terjadi tanpa ijin Allah, maka tidak mungkin tidak ada kebaikan yang terkandung di dalamnya. Mari berfokus pada kebaikan di setiap kejadian, apapun rupa dan bentuknya.