Abu Bakar dan Keteladanan sebuah Pengorbanan

Tentu kita sudah pernah mendengar heroisme perjuangan dan pengorbanan sahabat Abu Bakar Ash Shiddiq RA dalam dakwah, baik ketika bersama Rasulullah SAW maupun pada saat menjadi khalifah.

Abu Bakar ra adalah sahabat yang pertama kali mengakui kerasulan Muhammad SAW. Beliau juga menjadi sahabat yang tanpa pernah ragu-ragu selalu percaya dan membenarkan apa yang disampaikan oleh Rasulullah, bahkan ketika keraguan meluas. Seperti ketika suatu pagi orang-orang kafir dengan wajah sinis berkata padanya, “Teman kamu itu (Muhammad) mengaku-ngaku telah pergi ke Baitul Maqdis dalam semalam”, beliau pun tanpa ragu-ragu menjawab, “Jika Muhammad berkata demikian, maka itu benar”.

Abu Bakar ra menemani perjalanan hijrah Rasulullah dengan jiwa raganya. Teringat oleh kita tentang sebuah kisah bagaimana beliau merelakan kakinya untuk digigit oleh binatang berbisa untuk menjaga Rasulullah yang sedang tertidur di gua Tsur.

Pengorbanan hartanya pun tidak tertandingi. Umar bin Khattab RA bercerita, “Rasulullah SAW memerintahkan kami untuk bersedekah, maka kami pun melaksanakannya. Umar berkata: ‘Semoga hari ini aku bisa mengalahkan Abu Bakar’. Aku pun membawa setengah dari seluruh hartaku. Sampai Rasulullah bertanya: ‘Wahai Umar, apa yang kau sisakan untuk keluargamu?’. Kujawab: ‘Semisal dengan ini’. Lalu Abu Bakar datang membawa seluruh hartanya. Rasulullah lalu bertanya: ‘Wahai Abu Bakar, apa yang kau sisakan untuk keluargamu?’. Abu Bakar menjawab: ‘Ku tinggalkan bagi mereka, Allah dan Rasul-Nya’. Umar berkata: ‘Demi Allah, aku tidak akan bisa mengalahkan Abu Bakar selamanya’” (HR. Tirmidzi)

Itulah secuil kisah Sahabat Abu Bakar RA. Cintanya kepada Allah dan Rasulullah mengantar pada kisah-kisah pengorbanan yang menjadi keteladanan sepanjang jaman. Lalu, dimanakah kita berada? “Hanya” menjadi penonton yang berdecak kagum? Atau bertindak sekarang juga meneladani kisah beliau?

Dan kelak, orang yang paling takwa akan dijauhkan dari neraka itu. Mereka adalah orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah untuk membersihkannya, padahal tidak ada seorangpun memberikan suatu ni’mat kepadanya yang harus dibalasnya. Dia memberikan itu semata-mata karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan. [QS. Al Lail 17-21]


Madinah yang Penuh Cinta

Saya mencintai kota ini. Udaranya, kesantunan orang-orangnya, dan tentu saja masjidnya. Mungkin karena ada Rasulullah di sini. Cinta beliau merupakan magnet yang menyedot milyaran bentuk cinta lain datang & berkumpul di kota ini.

Saya mencintai kota ini. Cinta sejak kunjungan pertama. Anak pertama dan juga perusahaan pertama yang saya dirikan, saya beri nama Medina sebagai ungkapan cinta kepada kota Sang Nabi ini.

Saya mencintai kota ini. Ketika harus meninggalkannya selalu terjadi hujan tangis. Mulai dari tangis merengek seperti anak kecil yang dipaksa pulang dari taman bermainnya, sampai tangisan menderu seorang kekasih yang sedang kehilangan cintanya.

Apakah Bukan Bodoh Namanya?

Hampir tak terputus kita berdoa & meminta kepada Allah SWT. Doa dan permintaan yang luar biasa. Kadang kita tumpuk berbagai keinginan dan harapan, semuanya terbaik dan tersempurna. Mulai dari jodoh sholeh sholehah yang terbaik, anak yang sehat cerdas berakhlak mulia plus penghafal Quran, pekerjaan terbaik yang halal berkah melimpah, sampai dengan jaminan keselamatan dunia akhirat.

Tidak ada yang salah dengan berdoa sebanyak-banyaknya. Doa adalah ibadah. Bahkan semakin banyak doa InsyaAllah semakin disukai oleh Allah SWT. Namun, apakah bukan ironi namanya ketika kita tiada henti meminta lalu ketika Allah meminjam harta yang paling kita cintai, kita enggan memenuhinya?

Padahal semua harta yang kita cintai itu asalnya dari Allah. Mobil, rumah, makanan minuman yang disantap setiap hari, berlembar-lembar baju yang kita pakai, semuanya adalah milik Allah yang dipinjamkan agar kita hidup dengan layak. Tidak ada harta sepeser rupiah pun yang bukan  pinjaman dari Allah. Apakah bukan aneh namanya ketika yang meminjami dengan sangat santun mau meminjam hartanya itu, lalu kita bilang, “tunggu, aku mau pakai dulu” atau “nanti ya, keluarga saya masih butuh mobil ini”?

Padahal kalau yang meminjam itu Allah, pasti dan super pasti akan dikembalikan. Bahkan dengan penuh kemurahan, Allah bilang pengembaliannya akan dilipatgandakan, sepuluh kali lipat, 700 kali lipat, bahkan sampai tak terhingga. Apakah bukan bodoh namanya ketika kita mengaku akuntan atau ahli ekonomi tapi pada saat bersamaan menolak proposal investasi dengan tingkat pengembalian yang tak terhingga seperti itu?

Mungkin kita harus belajar lagi tentang kisah Nabi Ibrahim, sang Kholilurahman, belajar tentang cinta agung yang membuatnya mampu mengorbankan Nabi Ismail, putra terkasihnya.

Hadiah

Memberi hadiah adalah perilaku para pencinta. Demi yang dicintainya, sang pencinta mempunyai fokus segala apa yang disukai oleh yang dicintai. Hampir dapat dipastikan pencinta akan mengerahkan segenap sumber daya yang dimilikinya untuk memberikan hadiah terbaik untuk yang dicintai.

Saat paling menyedihkan dari kehidupan para pencinta adalah ketika yang dicintainya meminta namun dirinya gagal memberikan hadiah terbaik itu. Perasaan menjadi manusia paling tak berguna mendominasi relung hati. Penyesalan tiada ujung.

*ketika seorang hamba gagal menyelesaikan riyadhohnya*

Dimensi-Dimensi Kehidupan

Terdapat banyak dimensi dalam dunia yang kita tinggali ini. Saya tidak bicara dimensi manusia vs malaikat atau semacamnya. Saya masih bicara tentang dunia manusi. Dimensi yang saya maksud adalah ketika kita memandang sesuatu dengan frekuensi yang berbeda maka lahirlah dimensi yang berbeda. Sebagai contoh adalah makan permen, bagi Hafa makan permen merupakan hal biasa (mubah) dan tidak memiliki konsekuensi apa-apa, namun bagi ibunya makan permen adalah sesuatu yang membahayakan kesehatan gigi, maka perlu dibatasi. Nah, terciptalah dimensi permen versi Hafa dan dimensi permen versi ibunya.

Bagi sebagian orang makan nasi adalah kemewahan,  sedangkan bagi sebagian yang lain merupakan sesuatu yang harus diwaspadai. Bagi kelompok tertentu bekerja adalah kewajiban, bagi kelompok yang lain bekerja adalah hak. Dari sudut pandang geografis pun demikian, bagi orang Asia menatap mata punya makna tertentu, sedangkan bagi orang eropa punya makna lain tersendiri.

Saya akan coba membahas lebih detil bagaimana dimensi-dimensi itu tercipta ketika terjadi pemahanan yang berbeda atas kehidupan yang kita alami. Dalam sebuah rumah tangga misalnya, seluruh isi anggota keluarga menempati rumah yang sama. Tetapi sang Ayah melihat rumah sebagai titipan yang dalam skenario Allah akan diestafetkan, sedangkan sang Ibu melihat rumah sebagai suatu simbol kebersamaan yang harus dipertahankan. Terciptalah sebuah dimensi kehidupan yang berbeda, sang Ayah berada dalam dimensi kehidupan “lomba lari estafet”, misinya memenangkan sebuah perlombaan lari dengan terus memindahkan rumah dari satu tangan ke tangan lain, sementara sang Ibu berada dalam dimensi kehidupan “menata keseimbangan”, misinya bagaimana sebuah tahapan hidup mencapai tingkat demi tingkat pencapaian. Satu rumah, beda dimensi, kira-kira apa yang terjadi?

Dimensi yang berbeda juga mungkin terjadi di sebuah perusahaan, kumpulan orang-orang bekerja. Bagi si A, bekerja adalah kewajiban kepada perusahaan yang telah mempekerjakannya. Bagi si B, bekerja adalah mencari nafkah. Bagi si C, bekerja adalah aktualisasi diri. Bagi si D, bekerja adalah jihad. Nah, entah ada berapa dimensi dalam sebuah ekosistem bernama perusahaan. Ada yang berprinsip tenggo (jam lima teng, then GO), ada yang pegangannya kualitas, ada yang orientasinya timesheet, ada yang fokusnya keluarga yang dinafkahi, dan sebagainya.

Perbedaan dimensi akan menimbulkan perbedaan cara pandang. Setiap dimensi akan menimbulkan pola pikir, pola sikap dan juga pola tindak yang berbeda. Pada ujungnya, tidak jarang muncul perbedaan frekuensi dalam komunikasinya. Di titik inilah kita sering menjumpai perbedaan pendapat yang bersifat ‘permanen’ sampai salah satu pihak mau berpindah dimensinya. Perbedaan pendapat tersebut bisa jadi hal sepele, tetapi karena awalnya dari perbedaan dimensi, akan sangat sulit mencari resolusi kesepakatannya. Sebaliknya, bisa jadi ada sebuah pebedaan pendapat yang besar, namun karena berpijak pada dimensi yang sama, biasanya resolusi cepat didapatkan.

Memang kita tidak akan bisa melepaskan diri dari fenomena beda-beda dimensi ini. Upaya akomodasi dan rekonsiliasi kemudian menjadi sarana wajib agar setiap perbedaan yang muncul tidak menjadi konflik berkepanjangan. Perbedaan pendapat boleh ‘permanen’ tetapi konflik tidak boleh berkepanjangan.

Sebagai pamungkas, mari kita tak berhenti belajar sambil terus muhasabah diri, menuju konvergensi pada dimensi yang diridhai Allah SWT, dimensi yang di dalamnya terletak misi pengabdian kepada Sang Khalik.

Zuhud

Zuhud adalah kualitas hati manusia-manusia terpilih. Hati yang tidak  lagi memiliki kecenderungan pada dunia, hanya Allah, Allah, Allah serta apa-apa yang bermanfaat untuk kehidupan akhirat. Zuhud menjadi salah satu kualitas keshalehan yang mencerminkan tebalnya iman dan tegaknya keyakinan.

Seorang yang zuhud bukanlah seorang yang menolak kepemilikan dunia. Seorang yang zuhud adalah seorang yang memahami betul hakikat dunia dan akhirat. Seorang yang zuhud memiliki keyakinan yang teguh bahwa dunia hanyalah kesenangan fana yang akan menipu siapa saja yang cenderung kepadanya. Maka, seorang yang zuhud tidak punya ikatan emosional “secuil” pun terhadap dunia, baik itu harta benda maupun status atau jabatan. Seorang yang zuhud tidak peduli, apakah dia miskin atau kaya, berpunya atau tidak berpunya. Kepentingan seorang zuhud hanya satu, cinta Tuhannya.

Zuhud adalah amalan hati, keyakinan yang kokoh, lebih mengharapkan jannah, maghfirah dan ridho Allah dibandingkan dengan dunia. Menjadikan dunia hanya sebatas pada genggaman tangan, tanpa menizinkannya merasuk ke dalam hati. Dengan keyakinan seperti itu, ketika ditimpa suatu musibah hilangnya harta, status atau jabatan, maka seorang yang zuhud lebih mengharap ampunan dan pahala dari Allah dibandingkan kembalinya kesenangan dunia itu.

Seorang yang zuhud bukan berarti dia akan meninggalkan dunia dan mengurung diri di masjid. Seorang yang zuhud menempatkan dunia sebagai alat semata, untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya dalam koridor amal shalih. Semata untuk menunaikan amanah sebagai khalifatul fil ardh sebaik-baiknya, menjadikannya sarana untuk untuk semakin taat dan meraih cinta Allah SWT.

Mari kita simak beberapa Kalam Ilahi dalam Surat Al Hadiid:

20. ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan Para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu Lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

21. berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah mempunyai karunia yang besar.

22. tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

23. (kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai Setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,

Ampuni Hamba Ya Rabb

Rabb,
Hambamu ini ingin teriak
dengan teriakan yang memecah langit

Rabb,
Hambamu ini meremas diri
menjadi kepingan tanpa makna

Rabb,
Rasa malu ini memenuhi ruang jiwa
Menjejal jejal dinding kalbu

Rabb,
Meski sampai kering air mata ini
rasanya penyesalan ini tak akan sampai

Rabb,
Kadang otak dangkal ini hadirkan sebuah logika
tentang hadiah yang bertukar dengan dosa
Nyatanya, hadiah terbaikku pun tak setitik nilainya

Rabb,
ampuni hamba Ya Rabb
Ampuuuuniiiiii Hambamuuuuu ini Ya Raaabbbbb

Ketika mulut tak mampu berdoa …

Inilah catatan ketika keperluan hidup menghimpit dada,
satu sama lain meminta perhatian & prioritas

Inilah saat ketika otak tak mampu menalar lagi
Inilah ketika lidah kelu, tak mampu mengucap doa sepatah pun
karena benak tak sanggup lagi mengimajinasi solusi

Inilah saat terbaik
untuk tawakal
karena memang tiada kekuatan selain dariNya

Ketika Doa Kita Dijawab OlehNya

Suatu ketika, dengan khusyuk, kita bermunajat kepada Allah untuk diberikan kelapangan rizki. Lalu, Allah yang Maha Baik mengabulkan doa itu dengan cara dimampukannya kita menghafal QS Al Waqiah, karena Dia telah berjanji melalui RasulNya, barangsiapa mendawamkan membaca Al Waqiah maka hidupnya akan “kaya”.

Tapi kita bukannya berterimakasih lalu mengamalkannya, sebaliknya kita biarkan hafalan kita menguap karena jarang dibaca kembali. Fabiayyi Aalaaaa irabbikumaa tukadz-dzibaan …

Setiap pagi, dengan penuh harap kita meminta pekerjaan yang barokah. Lalu Allah Yang Maha Mendengar mengabulkan doa kita tersebut. Dia menghadirkan kejadian yang membuat kita kenal dengan orang2 tertentu yang akan menjadi sarana datangnya pekerjaan tersebut.

Tetapi kita mengabaikannya. Kita malas dalam bersilaturahmi. Hanya ketika butuh saja kita datangi kawan2 tertentu yang sekiranya mempunyai “aset” untuk menyelesaikan problema kita. Fabiayyi Aalaaaa irabbikumaa tukadz-dzibaan …

Setiap Subuh kita juga bermunajat agar dijauhkan dari bala dan bencana. Lalu Allah Yang Maha Penyayang mengirim proposal anak yatim ke meja kerja kita. Dia juga yang membuat istri/suami kita berbisik, “kita berwakaf yuk”. Dia pula yang mengetuk hati kita dengan mengijinkan kita mendengar berbagai taushiah sedekah.

Tapi kita bebal. Atas nama perencanaan keuangan proposal anak yatim tidak kita baca. Dengan dalih kebutuhan anak, kita enggan berwakaf aset tetap.  Fabiayyi Aalaaaa irabbikumaa tukadz-dzibaan …

Ketika Doa kita dijawab olehNya, sudah siapkah kita?

Tentang Keinginan Terdalam

(13) Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. (14) Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui [yang kamu lahirkan dan rahasiakan]; dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui? ~QS. Al Mulk~

Ketika qalbu dipenuhi oleh sebuah keinginan yang tidak mudah dipahami oleh orang lain, maka yakinlah bahwa Allah Yang Maha Agung itu mendengar dan memahaminya.

Ketika pergumulan hati tidak dapat dicerna oleh logika dan tidak dapat dijelaskan oleh sebuah argumentasi biasa, percayalah bahwa Allah Yang Maha Hebat mampu mencerna segala argumentasi yang mbulet sekalipun, yang bahkan si empunya tak mampu mendefinisikannya dalam kata-kata.

Ketika keinginan terdalam yang tulus itu terhadang tembok di sana sini, percayalah bahwa Allah As Syakur itu tidak akan pernah mengecewakan. Dia akan membuka jalan pada waktu terbaik dan juga cara terbaik.

(19) Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya [di udara] selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu ~QS. Al Mulk~

Umrah di Mata Saya

Sungguh, syukur tak terhingga tersemat hanya untuk Dia, Allah Yang Maha Baik, yang untuk kelima kalinya berkenan mengundang saya, hambaNya yang dhoif ini untuk melakukan umrah. Menyimak perjalanan haji dan umrah, tidak dapat dipungkiri mempunyai hikmah yang unik di setiap perjalanannya. Namun demikian, pada kesempatan kali ini saya menuliskan sedikit hal esensial tentang Umrah, semata berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya sendiri.

Umrah adalah Perjalanan Ruhiyah

Umrah pada hakekatnya adalah perjalanan ruhiyah. Jasad lahir kita hanyalah pengantar semata. Tidak akan perjalanan itu terjadi jika tidak ada undangan dari Allah Sang Penguasa Jiwa. Keberangkatan umrah tegas dan jelas bukan karena uang, tetapi karena kita diundang oleh Allah.

Maka, kita harus persiapkan ruhiyah kita untuk menempuhi perjalanan agung tersebut. Kita harus persiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Tentu kita tidak ingin memasuki istanaNya dalam keadaan kotor, maka mari awali dengan pertobatan yang sungguh-sungguh. Kita inventarisir daftar dosa-dosa kita, lalu minta ampun dengan sungguh-sungguh.

Umrah adalah Ziarah

Umrah adalah ziarah. Dua monumen peradaban terbesar kita kunjungi, Masjidil Haram di kota suci Makkah dan Masjid Nabawi di kota suci Madinah. Satu demi satu tapak sejarah peradaban dan perjalanan dakwah Rasulullah kita napaktilasi.

Tapak sejarah yang luar biasa. Di dalamnya terdapat kisah-kisah heroik yang memberikan inspirasi kejuangan yang sarat makna. Namun, satu hal yang lebih penting adalah, meneladani betapa Rasulullah dan para sahabatnya itu begitu mencintai Allah serta memiliki keyakinan yang tegak & tegas bahwa satu2nya pertolongan adalah pertolongan Allah.

Umrah adalah Sekolah

Rangkaian kejadian selama umrah, mulai dari berangkat sampai dengan pulang lagi, tidak dapat dipungkiri penuh dengan dinamika. Ada ujian sabar, ada cobaan tenggang rasa, ada ujian konsistensi ibadah, dan sebagainya. Yang pasti, semua rangkaian kejadian tersebut menjadi sekolah buat kita. Silabusnya dan pelajarannya langsung disiapkan Allah untuk kita, presisi sesuai dengan kebutuhan kita.

Maka, selama umrah, kita harus membuka diri atas setiap pelajaran yang ada. Mata hati harus terus ditajamkan untuk menangkap ribuan hikmah yang datang. Semua pelajaran dan hikmah itulah yang kemudian menjadi bekal kehidupan setelah pulang umrah

Umrah adalah Puzzle Doa

Tanah suci memiliki keistimewaan dengan banyaknya tempat-tempat yang memiliki keutamaan sebagai tempat terkabulnya doa. Mulai dari Multazam, Raudhah, dan berbagai tempat lainnya. Disinilah terdapat kesempatan emas untuk kita semua memanjatkan doa-doa terbaik kita. Disinilah saat terbaik untuk menata impian, merangkai harapan terbaik lalu menyandarkannya ke Allah Sang Penguasa Kehidupan.

Momen berdoa di tempat terbaik ini tidak berhenti pada pengucapan harapan semata, karena doa pada hakekatnya bukan semata penyampaian keinginan. Lebih dari itu, doa adalah peneguhan bahwa kita hamba. Doa adalah deklarasi bahwa kita butuh Dzat Yang Maha Kuat itu, satu-satunya yang sanggup untuk memenuhi segala keperluan kita.

Itulah sedikit catatan tentang Umrah dalam sudut pandang saya. Semoga menjadi satu lagi pelengkap motivasi bagi kita semua untuk semakin menebalkan rajutan doa agar Allah SWT berkenan mengundang kita ke tanah-suciNya. Beberapa catatan lain tentang perjalanan Umrah dapat dilihat di tautan (link) sebagai berikut: Undangan Allah dan Memori Umrah

Disiplin adalah Nafasku

Dalam terjemahan bebas, disiplin adalah sebuah dorongan dalam diri untuk melakukan sesuatu yang seharusnya pada waktu dan tempat yang tepat dengan cara yang seharusnya.

Dengan demikian, terdapat empat dimensi dalam berDISIPLIN:

1. RIGHT  THING. Wacana disiplin hanya relevan untuk misi yang benar dan dilakukan dengan cara yang seharusnya. Maka, tindak penyelewengan, meski dilakukan dengan tepat, tidak dapat dikategorikan sebagai tindakan disiplin.

2. RIGHT TIME. Sesuatu yang benar juga harus dilakukan pada waktu yang tepat. Shalat adalah hal yang baik, tetapi menjadi useless jika dilakukan tidak pada waktu yang ditentukan, begitu juga dengan bekerja, mengajar dan lain-lain. Seseorang yang berdisiplin akan mempunyai dorongan untuk selalu tepat waktu, itulah embrio dari manajemen waktu yang handal.

3. RIGHT PLACE. Disiplin juga memperhitungkan dimensi ruang atau tempat. Segala sesuatu yang tepat tapi disampaikan atau dilakukan di tempat yang salah bisa berakibat fatal. Maka seorang yang berdisiplin akan memiliki energi untuk mendorong dirinya selalu memperhatikan ketepatan tempat.

4. RIGHT WAY. Disiplin mendorong diri seseorang untuk senantiasa menggunakan cara yang benar, dalam situasi apapun. Berdisiplin berarti mempunyai cukup energi untuk mencegah diri kita atas segala pilihan shortcut yang tidak bertanggungjawab. Maka, seseorang yang berdisiplin pantang baginya untuk mencontek, memanipulasi, dan sejenisnya.

Itulah tentang DISIPLIN. Kadang kita memahami disiplin dalam arti sempit, hanya dalam bentuk tidak terlambat, dan sejenisnya. Mari kita pahami DISIPLIN secara lebih komprehensif, lalu tancapkan tekad untuk selalu dan selalu berdisiplin, seperti semboyan yang terbaca oleh penulis 17 tahun lalu di Akademi Militer, “Disiplin adalah Nafasku”.

Momentum Maulid Nabi untuk Hidupkan Sunnah dalam Kebiasaan Kita

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيّدنامُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سيّدنا مُحَمَّدٍ

Rasulullah SAW adalah role model kita semua. Singkat cerita, kalau mau sukses dunia akhirat caranya mudah, ikuti cara hidup yang dicontohkan Rasulullah. Dan, manual kehidupan yang dicontohkan Sang Rasul itu sudah sangat lengkap, beberapa ditegaskan dalam prinsip-prinsip, sebagian lainnya dicontohkan sampai teknis.

Maulid Nabi adalah momentum terbaik bagi kita untuk instropeksi diri, sejauh mana kita telah melaksanakan sunnah-sunnah yang diajarkan dan dicontohkan oleh beliau. Maka, peringatan maulid sebaiknya kita awali dengan inventarisasi amalan sunnah apa yang telah kita lakukan secara konsisten. Dilanjutkan dengan program diri untuk memperbaiki atau menambahnya.

Ayo kita buat program “Hidupkan Sunnah” dalam perilaku dan kebiasaan kita sehari-hari. Bukan untuk siapa-siapa, melainkan untuk diri kita sendiri. Pilih salah satu sunnah utama yang selama ini jarang kita lakukan, lalu tekadkan diri untuk melakukannya, SETIAP HARI, selamanya.

Bagi yang serius membuat program ini, berikut beberapa tips sederhana supaya program yang didesain oleh dan untuk kita ini tidak hanya hangat seminggu dua minggu.

1. PILIH sesuai kemampuan. Jika selama ini jarang tahajud, tetapkan program tahajud setiap hari, mulai dengan 2 rakaat. Bagi yang jarang dhuha juga begitu. Sebaiknya hindari loncatan2 yang ‘dramatis’. Atau hal yang sederhana, bertekad untuk selalu berdoa sebelum makan apapun. Intinya sesuai kemampuan.

2. Tancapkan TEKAD dan dokumentasikan. Tekad menjadi tumpuan energi. Tanpa tekad program perbaikan diri seperti ini akan cepat layunya. Nah, salah satu cara untuk membuat tekad selalu membara adalah mendokumentasikannya. Bisa menuliskannya lalu tempel di dinding. Atau bisa juga dengan menceritakan ke keluarga atau teman terdekat.

3. Lakukan BERKELOMPOK. Ajak orang-orang yang ada di rumah kita untuk membuat program yang sama. Bisa juga ajak teman-teman di kantor. Melalui kebersamaan akan muncul energi untuk saling menguatkan dan mengingatkan.

4. Pupuk terus ILMUnya. Ilmu adalah pupuk amal. Salah satu motivasi keistiqomahan adalah dengan mengetahui fadhilah amal. Melalui majelis ilmu pula kita akan mendengar banyak pengalaman dari guru dan sahabat-sahabat yang lain.

Jadi, apa programmu? apa tekadmu?

 

Shalat Berjamaah Tepat Waktu itu Karunia BESAR

Bersyukurlah bagi kita yang berkesempatan untuk shalat berjamaah tepat waktu. Apalagi jika itu dilakukan secara konsisten dan istiqomah. Sungguh itu adalah sebuah karunia besar. Sebuah karunia yang sering kita sepelekan dan kita anggap remeh.

Mari kita telisik, betapa banyak orang yang berkeinginan shalat berjamaah tepat waktu tetapi terhalang oleh kesibukan pekerjaan yang begitu menyita. Betapa banyak mereka itu kemudian justru akhirnya shalat sendirian, di pojok musholla sempit, di akhir waktu pula.

Mari kita perhatikan, betapa banyak orang yang berkeinginan shalat berjamaah tepat waktu namun terhalang oleh kesehatan yang tidak memadai. Mulai dari kaki bengkak, demam, sampai sakit-sakit tertentu yang membuat mereka tak mampu bangkit dari tempat tidur.

Mari juga kita simak pengalaman diri kita masing-masing, betapa tidak kurang ilmu kita ini. Kita sudah tahu betul bagaimana Allah SWT memuliakan hambaNya yang shalat berjamaah tepat waktu. Namun, seringkali kita tidak tergerak ketika Adzan berkumandang. Ilmu ada, tetapi tekad entah kemana.

Maka …

Mari kita bersyukur sepenuh hati ketika kita diijinkan Allah untuk shalat berjamaah tepat waktu. Itulah saat ketika Allah Yang Maha Baik memberi kita karunia yang besar, karena di dalamnya terangkum nikmat kelapangan, nikmat kesehatan, hidayah, tekad, juga pada kondisi tertentu taubat.

Menjadi Pribadi NOL

Untuk mengarungi kehidupan kita membutuhkan KEKUATAN, setuju?? Kekuatan untuk survive, kekuatan untuk menafkahi keluarga, kekuatan untuk berkarya, juga kekuatan untuk memimpin. Pertanyaannya, sudahkah kita mempunyai kekuatan yang kita butuhkan?? Jika belum, bagaimana kita dapat memperolehnya?

“Sesungguhnya kekuatan kita tidak terletak pada melimpahnya harta atau banyaknya pasukan. Kekuatan terbesar justru akan kita dapatkan ketika kita berhasil menjadi NOL lalu menyandarkan segela penyempurnaan urusan padaNya”

Menjadi NOL adalah menjadi pribadi yang menyadari betul bahwa tidak ada kekuatan pertolongan selain ALLAH. Sebuah kesadaran yang tidak hanya dibentuk oleh akal, apalagi hanya dinyatakan oleh lisan. Inilah kesadaran yang dibentuk oleh keseluruhan akal, hati, jiwa dan raga secara bersama-sama. Kesadaran yang dengan tegas menyatakan bahwa diri kita ini NOL, nothing, tidak berdaya sama sekali, kecuali ada intervensi dari Dia Sang Penguasa Alam Raya.

Kesadaran yang menyatakan bahwa yang paling tahu kebutuhan kita adalah Allah yang Maha Tahu. Kemampuan ilmu, kekuasaan, dan harta kita sejatinya tidak cukup untuk mengurus kebutuhan kita sendiri, apalagi mengurusi kebutuhan keluarga dan orang lain. Inilah pemahaman dasar menuju pribadi NOL.

Jika diri kita telah menjadi pribadi NOL, maka otomatis prioritas orientasi kita akan berubah. Pasti itu. Langkah demi langkah kita akan berubah, dari yang sebelumnya pengumpul harta berubah menjadi pemburu ridha Ilahi. Kita bekerja bukan lagi untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup, karena yang memenuhi kebutuhan hidup adalah Allah, dengan cara-cara terbaiknya. Bekerja adalah untuk mengumpulkan amal, untuk menunaikan tugas-tugas kekhalifahan di muka bumi, bukan sekedar memenuhi kebutuhan hidup. Profesionalisme pun bukan sekedar tuntutan kerja melainkan ikhtiar meneladani Sang Rasul, kekasihNya.

Kalau sudah demikian, Allah Sang Muhaimin pasti akan mengurus kehidupan kita, lebih presisi dan lebih hebat dibandingkan jika kita yang mengurus diri kita sendiri. Dia akan memenuhi kebutuhan kita. Jika kita butuh kaya, Dia akan memberi kaya. Jika kita butuh mobil, Dia akan menyiapkan mobil. Jika kita butuh periode miskin, Dia akan ambil beberapa harta kita. Dan seterusnya …

Manakah yang kita pilih, keperluan kita diurus oleh kita atau diurus oleh Allah? Maka, menjadi Pribadi NOL, inilah cita-cita kita.

إن شاء الله