whbs333

Mengandalkan yang Paling Hebat Saja

Kalau kita mengandalkan otak, maka akan selalu ada yang lebih pintar dari kita. Kalau kita mengandalkan otot, maka akan selalu ada yang lebih kuat dari kita. Kalau kita mengandalkan uang, maka ingatlah akan selalu dan selalu ada yang lebih kaya dari kita.

Pesan sang Guru ini di penghujung rapat di suatu malam menjadi renungan saya. Hmm, sepertinya penyebab segala kegelisahan selama ini adalah salah bersandar. Salah bekingan.

Ibarat berdiri bersandar di kursi, selamanya ga akan tenang karena khawatir kursinya diambil orang lain atau kursinya patah. Lain halnya kalau bersandar ke tembok yang lebih kokoh, hati akan lebih tenang.

Selama ini gelisah karena terlalu banyak bersandar ke 3 hal tadi, otak, otot dan duit. Padahal ketiganya rentan, tidak pernah memberikan jaminan kemenangan dan kesuksesan yang sebenarnya.

Pertanyaan adalah, “bagaimana mengatasi keterlanjuran ini?”. Susah betul sepertinya melepaskan ketergantungan pada tiga hal tadi. Mulai sejak kecil sampai dewasa, doktrin yang diterima adalah, “kalau mau sukses harus pinter, kuat dan kaya”.

Sepertinya harus ada upaya sistematis nih. Mulai latihan melepaskan diri dari ketiga unsur tersebut. Mulai menajamkan keyakinan bahwa ALLAH sajalah tempat bergantung …

Bismillah

Abu Bakar dan Keteladanan sebuah Pengorbanan

Tentu kita sudah pernah mendengar heroisme perjuangan dan pengorbanan sahabat Abu Bakar Ash Shiddiq RA dalam dakwah, baik ketika bersama Rasulullah SAW maupun pada saat menjadi khalifah.

Abu Bakar ra adalah sahabat yang pertama kali mengakui kerasulan Muhammad SAW. Beliau juga menjadi sahabat yang tanpa pernah ragu-ragu selalu percaya dan membenarkan apa yang disampaikan oleh Rasulullah, bahkan ketika keraguan meluas. Seperti ketika suatu pagi orang-orang kafir dengan wajah sinis berkata padanya, “Teman kamu itu (Muhammad) mengaku-ngaku telah pergi ke Baitul Maqdis dalam semalam”, beliau pun tanpa ragu-ragu menjawab, “Jika Muhammad berkata demikian, maka itu benar”.

Abu Bakar ra menemani perjalanan hijrah Rasulullah dengan jiwa raganya. Teringat oleh kita tentang sebuah kisah bagaimana beliau merelakan kakinya untuk digigit oleh binatang berbisa untuk menjaga Rasulullah yang sedang tertidur di gua Tsur.

Pengorbanan hartanya pun tidak tertandingi. Umar bin Khattab RA bercerita, “Rasulullah SAW memerintahkan kami untuk bersedekah, maka kami pun melaksanakannya. Umar berkata: ‘Semoga hari ini aku bisa mengalahkan Abu Bakar’. Aku pun membawa setengah dari seluruh hartaku. Sampai Rasulullah bertanya: ‘Wahai Umar, apa yang kau sisakan untuk keluargamu?’. Kujawab: ‘Semisal dengan ini’. Lalu Abu Bakar datang membawa seluruh hartanya. Rasulullah lalu bertanya: ‘Wahai Abu Bakar, apa yang kau sisakan untuk keluargamu?’. Abu Bakar menjawab: ‘Ku tinggalkan bagi mereka, Allah dan Rasul-Nya’. Umar berkata: ‘Demi Allah, aku tidak akan bisa mengalahkan Abu Bakar selamanya’” (HR. Tirmidzi)

Itulah secuil kisah Sahabat Abu Bakar RA. Cintanya kepada Allah dan Rasulullah mengantar pada kisah-kisah pengorbanan yang menjadi keteladanan sepanjang jaman. Lalu, dimanakah kita berada? “Hanya” menjadi penonton yang berdecak kagum? Atau bertindak sekarang juga meneladani kisah beliau?

Dan kelak, orang yang paling takwa akan dijauhkan dari neraka itu. Mereka adalah orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah untuk membersihkannya, padahal tidak ada seorangpun memberikan suatu ni’mat kepadanya yang harus dibalasnya. Dia memberikan itu semata-mata karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan. [QS. Al Lail 17-21]


REFLEKSI RAMADHAN

Salah satu karunia Allah kepada kita adalah ditanamkannya nafsu dalam diri ini. Dengan nafsulah kita mampu bertahan hidup. Bayangkan kita hidup di dunia dengan raga seperti ini, lalu tidak mempunyai kemauan makan dan minum sama sekali, dijamin kita akan mati. Jadi, nafsu yang diinstall sebagai salah satu software dalam diri kita merupakan salah satu penunjang hidup yang utama.

Namun, setan yang jenius itu kemudian melihat nafsu sebagai pintu masuk mereka dalam menundukkan manusia agar sebanyak-banyaknya cucu Adam menemani mereka di neraka. Setan kemudian menghembus-hembus nafsu menjadi besar dan meraksasa. Itulah ketika dikatakan hidup kita ini ditunggangi nafsu. Makan tidak sekedar untuk mempertahankan hidup tetapi untuk memenuhi nafsu yang udah menggelembung tadi. Rumah, mobil, gadget dan segala properti kita kejar untuk dipunya tidak sekedar untuk memenuhi kebutuhan berkarya sebagai khalifah tetapi menjadi ajang kompetisi duniawi yang begitu menyenangkan dan menggairahkan.

Disinilah peran penting PUASA yang kita jalani selama ramadhan ini. Puasa mengembalikan posisi pandang kita terhadap nafsu pada posisi yang seharusnya. Siapapun kita pasti akan mengalami reposisi nafsu dalam diri asal benar-benar menjalani puasa sebulan ini. Bersyukurlah bagi yang puasa tidak sekedar lapar dan dahaga, karena pasti dampak puasanya tidak sekedar reposisi nafsu tetapi bahkan telah mengembalikan dirinya sendiri sebagai majikan dan penunggang nafsu.

Kita kita telah di penghujung bulan suci ini. Satu hal yang penting untuk menjadi renungan akhir adalah kesadaran tentang nafsu ini. Bahwa nafsu adalah tunganggan kita. Bahwa kita harus menjaga nafsu pada fungsinya sebagai penyokong hidup jasad semata. Bahwa kita harus tahu betul posisi musuh abadi kita, setan laknat, yang terus meneropong nafsu ini sebagai kelemahan terbesar kita. Bahwa, seiring dengan berakhirnya bulan suci ini, kita harus memasang TEKAD untuk mengendalikan nafsu. Titik.

Momentum Maulid Nabi untuk Hidupkan Sunnah dalam Kebiasaan Kita

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيّدنامُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سيّدنا مُحَمَّدٍ

Rasulullah SAW adalah role model kita semua. Singkat cerita, kalau mau sukses dunia akhirat caranya mudah, ikuti cara hidup yang dicontohkan Rasulullah. Dan, manual kehidupan yang dicontohkan Sang Rasul itu sudah sangat lengkap, beberapa ditegaskan dalam prinsip-prinsip, sebagian lainnya dicontohkan sampai teknis.

Maulid Nabi adalah momentum terbaik bagi kita untuk instropeksi diri, sejauh mana kita telah melaksanakan sunnah-sunnah yang diajarkan dan dicontohkan oleh beliau. Maka, peringatan maulid sebaiknya kita awali dengan inventarisasi amalan sunnah apa yang telah kita lakukan secara konsisten. Dilanjutkan dengan program diri untuk memperbaiki atau menambahnya.

Ayo kita buat program “Hidupkan Sunnah” dalam perilaku dan kebiasaan kita sehari-hari. Bukan untuk siapa-siapa, melainkan untuk diri kita sendiri. Pilih salah satu sunnah utama yang selama ini jarang kita lakukan, lalu tekadkan diri untuk melakukannya, SETIAP HARI, selamanya.

Bagi yang serius membuat program ini, berikut beberapa tips sederhana supaya program yang didesain oleh dan untuk kita ini tidak hanya hangat seminggu dua minggu.

1. PILIH sesuai kemampuan. Jika selama ini jarang tahajud, tetapkan program tahajud setiap hari, mulai dengan 2 rakaat. Bagi yang jarang dhuha juga begitu. Sebaiknya hindari loncatan2 yang ‘dramatis’. Atau hal yang sederhana, bertekad untuk selalu berdoa sebelum makan apapun. Intinya sesuai kemampuan.

2. Tancapkan TEKAD dan dokumentasikan. Tekad menjadi tumpuan energi. Tanpa tekad program perbaikan diri seperti ini akan cepat layunya. Nah, salah satu cara untuk membuat tekad selalu membara adalah mendokumentasikannya. Bisa menuliskannya lalu tempel di dinding. Atau bisa juga dengan menceritakan ke keluarga atau teman terdekat.

3. Lakukan BERKELOMPOK. Ajak orang-orang yang ada di rumah kita untuk membuat program yang sama. Bisa juga ajak teman-teman di kantor. Melalui kebersamaan akan muncul energi untuk saling menguatkan dan mengingatkan.

4. Pupuk terus ILMUnya. Ilmu adalah pupuk amal. Salah satu motivasi keistiqomahan adalah dengan mengetahui fadhilah amal. Melalui majelis ilmu pula kita akan mendengar banyak pengalaman dari guru dan sahabat-sahabat yang lain.

Jadi, apa programmu? apa tekadmu?

 

Betapa Merana Perasaan Ditinggal Sang Terkasih

Rabbii …

Betapa merana perasaan akan ditinggalkan sang terkasih …

Meradang karena ketidakpastian akan bersua kembali ..

Menyesal karena kesia-siaan saat bersama ..

Rabbii, Engkaulah sang penguasa kejadian …

Ijinkan di penghujung ini kami mengikat janji

Untuk kami bertemu kembali ..

Hanya Keselamatan dan Kebaikan yang Datang dariNya (As Salaam)

Ketika kita belajar mengenali Tuhan melalui asmaulhusna Al Malik, terbayang oleh kita Sang Raja yang kekuasaannya tidak tertandingi. Dia tidak sekedar menguasai makhluk, tetapi Dia juga menguasai kejadian dan takdir yang meliputinya. Bayangkan jika sifat Al Malik tersebut melekat pada manusia, mungkin kita akan khawatir adanya penyalahgunaan kekuasaan. Sejarah membuktikan betapa banyak penguasa yang dzalim karena kekuasaannya yang tidak terkendali.

Nah, Allah adalah As-Salaam. Dengan kekuasaan yang tidak terbatas tersebut, Dia mengajarkan kepada kita tentang salah satu julukanNya yang menyejukkan, yaitu As-Salaam. Allah sebagai As-Salaam bermakna bahwa hanya keselamatan dan kebaikan sajalah yang datang dariNya. Segala perbuatanNya akan terhindar dari keburukan dan kejahatan. Dari sini kita memahami Tuhan sebagai sumber keselamatan dan kebaikan. Tidak ada dalam takdirNya yang mengandung keburukan bagi makhluk-makhlukNya.

Bukan sekedar kebetulan Asma As-Salaam ditempatkan di urutan keenam setelah Al Malik dan Al Quddus. Semacam sebuah garansi, bahwasannya Dia yang Maha Kuasa dan Maha Sempurna itu tidak akan mengijinkan sesuatu yang terjadi atau tercipta dengan KekuasaanNya melainkan sebuah kebaikan dan keselamatan. Dengan pemahaman ini, semakin kokohlah keyakinan kita untuk selalu berbaik sangka kepada Allah.

Pada tingkat pemahaman berikutnya, As-Salaam memberikan pengertian bahwa Dia tidak sekedar melahirkan kebaikan dan keselamatan, tetapi dariNya lah bersumber segala kebaikan di muka bumi ini. Maka, Salaam dalam arti kebaikan, keselamatan dan kesejahteraan yang terkait pada manusia (baik sebagai subyek maupun obyek) pasti berasal dari Allah. Jika menginginkan keselamatan dalam kehidupan ini, mintalah kepada Allah, karena Dialah sumber keselamatan itu. Jika mendambakan kehidupan yang bermanfaat dengan menjadi sumber kebaikan buat manusia lain, mintalah kepada Allah, karena Dialah sumber segala keselamatan dan kebaikan.

Maka, pantaslah jika kita pancangkan doa di setiap selesai shalat, Allahumma Antassalaam (Wahai Allah, Engkaulah As-Salaam), Wa Minkassalaam (dariMu bersumber As-Salaam), Wa Ilaika Ya’udussalaam (kepadaMu kembalinya As-Salaam), Fahayyina Rabbana Bissalaam (maka Hidupkanlah kami dengan As-Salaam), Wa Adkhilnal Jannata Daarassalaam (dan masukkanlah kami kelak ke surga, negeri As-Salaam).

Berlatih Berprasangka Baik

Salah satu yang membuat sengsara hidup ini adalah kegagalan kita untuk berprasangka baik. Jika hal itu terjadi, kita akan sibuk aja memikirkan orang lain, mencari-cari kesalahannya. Bahkan, jika tidak berhati-hati akan tejerumus dalam ghibah dan fitnah.

Maka, penting bagi diri kita untuk selalu melatih diri agar selalu berprasangka baik di setiap kejadian. Berprasangka baik di setiap kejadian kita tujukan kepada Allah, Sang Pembuat Skenario Terbaik, dan juga kepada manusia. Prasangka baik pada Allah bagian dari Aqidah & kepada manusia lain bagian dari Akhlak Karimah.

Bahan bakar prasangka baik adalah YAKIN tidak ada kejadian yg terjadi tanpa ijin Tuhan. Padahal kita tahu, Dialah yang terbaik mengetahui kebutuhan kita. Jadi, dapat dipastikan setiap kejadian yang hadapi pasti “fit” dengan kebutuhan kita saat itu. Dengan keyakinan itu energi kita untuk terus berprasangka baik tidak akan pernah habis.

Maka, berlatih berprasangka baik dapat diawali dengan membiasakan berdialog dengan Tuhan Sang Penguasa Kejadian. Melihat dan mendengar apapun, sertailah dialog dengan Yang Maha Kuasa. Membentur sebuah masalah, curhatlah hanya kepada Yang Maha Mendengar. Jika setiap detik kita sedang dalam keadaan berdialog padanya, maka secara refleks reaksi pertama kita di tiap kejadian adalah “Allah”. Jika sudah demikian, akan lebih mudah bagi kita utk kemudian mengatur prasangka baik kepada Tuhan maupun kepada manusia lainnya.

Demikian, selamat berlatih, menikmati dialog denganNya di setiap kejadian:)

Dia Yang selalu Menemukan Kita (Al Waajid)

Ketika sebuah masalah menghimpit ruang dada, perasaan yang paling sering kita rasakan adalah kesendirian. Kita merasa tidak ada kawan yang menemani, tidak ada pula sahabat yang menyertai. Padahal, sebenarnya kita tidak pernah sendiri, karena selalu ada Allah Al Waajid.

Al Waajid adalah salah satu nama Allah (asmaul husna) yang berarti “Maha Menemukan”. Dimanapun dan bagaimanapun permasalahan yang kita alami, Dia akan Menemukan keberadaan kita. Tidak hanya itu, Dia akan membawa solusi yang bahkan seringkali tidak kita sadari.

Konteks terbaik untuk memahami Al Waajid adalah Surat Adh-Dhuha dalam Al Quran. Ketika itu, saat Sang Rasul gundah gulana karena wahyu yang tidak kunjung datang. Beliau khawatir Tuhan telah meninggalkannya. Lalu, turunnya turunlah Surat Adh-Dhuha dimana beliau mendapat jaminan bahwa dirinya tidak akan pernah ditinggalkan olehNya.

Sang Rasul diminta tidak pernah sangsi lagi tentang kehadiran Allah. Hal ini disampaikan melalui kalimat retoris dalam Surat Adh-Dhuha itu sebagai berikut:

Bukankah Dia ‘menemukanmu’ sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia ‘menemukanmu’ sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk? Dan Dia ‘menemukanmu’ sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan?

Mari kita renungkan hidup yang telah kita jalani. Betapa berulang kali kita berada pada kondisi kekurangan atau kebingungan, toh ternyata semua itu dapat kita lewati dengan baik. Solusi selama ini mungkin berwujud berupa kehadiran seseorang tertentu atau sumber rizki tertentu, namun jika kita renungkan lebih dalam, mata hati kita akan melihat adanya campur tangan Allah di setiap kejadian itu.

Jika kita telah memiliki keyakinan mendalam tentang Al Waajid, maka kita akan melihat betapa pasang surut peristiwa yang kita alami selalu diwarnai dengan kehebatan skenario Allah dalam merancang kejadian-kejadian. Terlihat jelas betapa Dia tidak pernah absen dalam kehidupan kita, Dia selalu hadir, menemukan kita, dimanapun, bagaimanapun keadaannya.

Jika sudah demikian, mengapa sekarang kita harus bermuram durja, ketika ada manusia lain mengecewakan kita. Mengapa kita harus bersedih ketika sebuah peristiwa luput dari ekspektasi? Tegaskan keyakinan tentang Al Waajid, optimis Al Waajid menemani kita, bukankah setiap kejadian terjadi atas ijinNya?

Song: Ujian Telah Terukur

Kumelangkah menapaki hidup,
senang susah bahagia dan tangis,
jadi warna perjalananku ini

Kumerasa berat beban hati,
kadang pilu tak tertahan lagi,
ku memohon Tuhan tolonglah diri ini

Tuhanlah Sang Penguasa Kejadian
dan setiap ujian telah terukur dalam mampu kita

Tuhan tolong kuatkanlah diri kami
dan jangan biarkan kami terperosok dalam putus asa

Membangunkan Anak Sebelum Mereka Tidur

Suasana heboh di pagi hari saat membangunkan anak-anak mungkin menjadi suasana khas di rumah kita masing-masing. Terutama bagi yang kita yang anak-anaknya sudah memasuki usia sekolah. Salah satu hal yang sering menjadi concern kita adalah “susahnya” membangunkan anak-anak di pagi hari. Dari mulai cara lemah lembut, sampai pakai ancaman. Atau beberapa pakai asmaul husna (in a bad way), maksudnya teriak2 menyebut nama Allah karena si anak tidak bangun2 juga.

Nah, ada sebuah tips yang saya pelajari yang saya ingin bagi dalam tulisan ini. Sebuah kiat bahwa untuk membangunkan anak2, yaitu “bangunkanlah mereka sejak sebelum tidur”. Maksudnya apa? Simak selanjutnya …

Pada saat anak-anak meredup alias ngantuk di malam hari, ajaklah bicara tentang esok hari. Tentu saja dengan penuh excitement ala anak-anak sesuai umurnya. Misal, ajak ngobrol “kakak, adek … kalian tahu nggak, bulan purnama tuh kalau titik paling terangnya pas subuh loh. ada yang mau lihat besok pagi??”, begitu muncul eagerness, sambung lagi, “besok pagi siapa yang mau dibangunin ayah?”, acung tangan deh semua. Kalau sudah begitu, dijamin ketika pagi menjelang, cukup dengan bisikan saja anak-anak itu sudah terbangun.

Ada banyak hal yang bisa jadi bahan untuk membangunkan anak2 sebelum tidurnya. Kadang saya juga menggunakan teknik “self-recognition“. Teknik tersebut dimulai dengan dialog menjelang tidur tentang siapa diri kita sebenarnya. Salahsatunya dengan membahas bahwa kita adalah hamba Allah dan kebahagiaan terbesar bagi kita adalah ketika disayang oleh Allah, tentu saja harus dengan penuh kreativitas sesuai umur anak. Lalu sambung dengan pertanyaan, “siapa anak ayah yang mau jadi kesayangan Allah?”, lalu mereka akan berebut acung tangan. Nah, paginya, kita membangunkan dengan sebuah trigger, “Adek, tahu nggak, anak kesayangan Allah itu bangunnya pas ada adzan shubuh loh”.

Ada juga pendekatan reward. Kalau yang ini, yang disentuh adalah pendekatan perilaku. Dalam pendekatan ini, kita buat kontrak di malamnya. Misalnya, kita menjanjikan sesuatu bagi yang bangun pagi, atau sebaliknya kita berikan punishment jika bangun melewati jam 06.00, dan sebagainya.

Silahkan dipilih dan dikombinakasikan beberapa contoh di atas, karena contoh-contoh tersebut merepresentasikan pendekatan perilaku, pendekatan nilai dan pendekatan hati. Ini berlaku untuk semua umur ya, termasuk bayi yang masih merah, karena melek pada saat shubuh adalah sesuatu yang luar biasa. Pastikan semua orang di rumah kita terbangun pada waktu shubuh itu.

Yang pasti, orang tua harus sangat kreatif, mampu menyelami pikiran anak dan FOKUS.

Song: Hafa, Cintanya Ayah Ibu ini Mencintai dan Dicintai Allah

Sebuah lagu, ungkapan doa dan harapan untuk Hafa, putri kedua kami.

Selamat Menikmati. Semoga menginspirasi …

Hafa, Hafa
Biarkan dia berlari,
mengarung samudra,
mendaki gunung tinggi,
mengukir langit

Hafa, Hafa
Biarkan dia bekarya,
mencipta lagu indah,
menggores lukisan abadi,
menoreh peradaban

Cintanya ayah ini mencintai Allah
Cintanya ibu ini dicintai Allah

Song: Ayasha, meramaikan ruang sejukkan hati …

Sebuah persembahan lagu sederhana, ungkapan doa & harapan tentang Ayasha, putri pertama kami. Selamat menikmati, semoga bermanfaat …

Ayasha, di malam sepuluh pukul sepuluh
Seribu harap menjadi bidadari surga yang bermata jeli
Engkaulah satu lagi nikmat Allah yang tak terhingga,
bagaimana mensyukurinya …

Ayasha, meramaikan ruang sejukkan hati
Sejuta doa menjadi wanita shalihah yang dicinta Allah
Inilah satu lagi amanah Allah yang luas mulia
Semoga jadi manfaat untuk semua …

Merenungi Anak-Anak, Tentang Siapa yang Sebenarnya Mengurus Mereka …

Anak-anak adalah anugerah yang luar biasa. Wajah yang berseri-seri dan buncah kegembiraan di dada, selalu menyambut kelahiran mereka di hari pertamanya. Di sisi lain, anak adalah amanah, titipan yang sangat besar dari Tuhan. Dengan pemahaman itu, kita mengurus sang anak tentu harus sesusi keinginan Tuhan, bukan semata keinginan kita.

Kita sebagai orang tua kadangkala sesumbar bahwasanya kitalah yang membesarkan & mengasuh anak-anak kita. Kita juga mengklaim kitalah yang mengajari dan mendidiknya. Bahkan, atas segala prestasinya, kita sering nebeng kebanggaan. Melalui tulisan ini, mari kita merenung, apa yang sebenarnya sudah kita lakukan? Kontribusi apa yang telah kita berikan untuk pertumbuhan mereka?

Lihatlah paras mereka. Apa yang sudah kita lakukan untuk mempercantiknya? Apakah kita menyumbang ide tentang bentuk wajahnya? Apakah kita ikut merancang tekstur rambutnya? Apakah kita mendesaian komposisi organ-organ di wajahnya? Maha Hebat Tuhan yang menciptakan keelokan & kecantikan pada anak-anak kita.

Kemudian, mari kita perhatikan tumbuh kembangnya. Apa yang sudah kita lakukan utk menumbuhkan tulang dan ototnya? Kontribusi apa yang telah kita berikan utk membuatnya mampu berbicara & berbahasa? Apa yang kita perbuat sehingga pencernaannya berkembang, beradaptasi dengan beragam makanan & minuman? Sistem motorik kasar dan halusnya berkembang baik, apakah kita ikut menyempurnakannya?

Lalu, mereka berprestasi. Satu demi satu pelajaran di sekolah dilahapnya. Surat demi Surat di Quran pun dihafal. Apa kontribusi kita dalam perkembangan otaknya? Sungguh luar biasa perkembangan memori mereka. Apakah kita turut serta melakukan upgrade pada neuron-neuron syarafnya?

Lihatlah betapa kasih sayang Allah melimpah ruah. Jutaan informasi, baik dan buruk, bertebaran dalam berbagai media. Tidak seluruh waktu kita bersama anak-anak kita. Tetapi, anak-anak itu terjaga dari pengaruh jahat. Mereka tumbuh positif. Ya, informasi-informasi itu terfilter. Apa kontribusi kita dalam hal ini? Dialah yang menggerakkan semuanya sedemikian rupa sehingga anak-anak itu berada dalam pergaulan yang tepat.

Ya betul, memang kita yang menyiapkan susunya sewaktu bayi. Kita merancang asupan gizinya seideal mungkin. Berjibaku kita bekerja untuk menafkahi kebutuhannya. Tapi semua yang kita perbuat itu, rasa-rasanya tidak ada seujung kuku dibandingkan kehebatan Tuhan mendesain kornea mata sang anak.

Kita pula yang memilih sekolah & memfasilitasi guru les di rumah. Tidak sembarangan, semua dengan penuh perhitungan. Kita memberi wejangan setiap hari. Tapi sepertinya semua itu tak secuilpun berbanding dengan kemurahan Tuhan menanamkan iman di hati sang anak.

Tuhan mendesain anak-anak itu dalam ukuran yang paling tepat dan presisi. Dialah Sang Arsitek itu. Lalu Dia mengurusnya, seringkali bahkan tanpa kita sadari. Lalu kita ini siapa? Kita adalah salah satu makhluknya yang diberikan kesempatan luar biasa untuk mengelola titipannya. Tak ada kesulitan sedikit pun bagi Tuhan untuk mengarahkan anak-anak kita itu menjadi apapun yang dikehendakiNya, namun kita diberi kesempatan untuk mengelola ladang amal, menghadirkan ikhtiar-ikhtiar yang menjadi trigger berkembangnya sang anak menuju pada perkembangan yang diinginkan Tuhan.

Kehebatan Tuhan mengurus anak-anak kita sekaligus menunjukkan betapa lemahnya diri kita. Bayangkan, ketika mereka tidur, untuk menjaga dari gigitan nyamuk saja kita tidak mampu. Maka, hal paling krusial dalam mengurus anak bukan terletak pada bagaimana memberi mereka makan atau memberi penjagaan secara fisik, karena kalau fokusnya ini dipastikan kita tidak akan mampu. Kita tetap meletakkan ikhtiar secara proporsional sebagai sebuah amal shaleh, namun dengan semuanya dalam bingkai kesadaran bahwa Tuhan sajalah Dzat terhebat yang menjamin rizki dan memberi penjagaan paling sempurna.

Hal paling krusial dalam mengurus anak terletak pada pengenalan Tuhan itu sendiri. Itulah kenapa warisan yang ditinggalkan Luqman kepada anak-anaknya adalah nasehat tauhid, bukan harta benda. Setelah itu, fokus berikutnya adalah pemahaman tentang kehidupan dan cara belajar.

Mudah-mudahan melalui renungan ini kita semua tergolong sebagai orang tua yang amanah, yang setiap ikhtiar pengasuhannya bersandar pada Allah, karena Allah dan untuk Allah.  Itulah makna ketika kita mengatakan, “Nak, aku mencintaimu karena Allah”.

Manusia, dititipi lalu lupa diri …

Andi memiliki 2 buah mobil di rumahnya. Andi berpikir, dengan aktivitas yang ada, keberadaan mobil yang satu kurang terpakai (unutilized). Singkat cerita Andi memutuskan meminjamkan salah satu mobilnya itu ke tetangganya, gratis, nggak perlu uang sewa.

Suatu hari, Andi membutuhkan mobil tambahan untuk mengantar seorang tamu keluar kota. Lalu dia bilang ke tetangga tadi, “Mas, saya pinjam dulu ya mobilnya besok, mau antar tamu”. Namun si tetangga menjawab, “Waduh, gimana ya, besok dipakai buat anak saya sekolah tuh”. Okay, Andi pun akhirnya mencari alternatif lain untuk antar tamu tersebut.

Beberapa masa kemudian, kembali Andi punya kebutuhan tambahan mobil. Kali ini anaknya sakit, sedangkan mobil yang biasanya terlanjur dipakai perjalanan bisnis ke luar kota. Andi pun mengetuk pintu rumah tetangga, “Mas, bisa pinjam mobilnya? Saya perlu sekarang nih soalnya anak saya sakit”. Si tetangga pun menjawab, “Wah, hari ini agak repot nih kalau kami nggak ada mobil. Saya harus bolak balik ke beberapa tempat, belum lagi antar jemput anak sekolah. Mungkin anak sampeyan bisa ke RS naik taksi, ini saya bantu no telpnya, 021xxxxxx”

Bagaimana perasaan kita seandainya kita menjadi Andi dalam ilustrasi cerita sederhana tersebut? Mungkin sebagian dari kita akan menumpahkan kemarahan kepada si tetangga. Bahkan, mungkin sebagian kita akan dengan serta merta menarik mobil yang dipinjamkan tersebut dari tangan si tetangga yang tidak tahu diri itu …

***

Belajar dari cerita di atas, kita percaya bahwa perilaku “lupa diri” itu menyebalkan sekali. Namun, pernahkah kita berkaca, jangan-jangan kita juga sering berprilaku “lupa diri” seperti yang diperankan oleh si tetangga itu?

Mari kita renungkan segala sesuatu yang kita miliki. Semua harta kekayaan kita, termasuk kekayaan yang kita genggam, tidak lain tidak bukan, semuanya adalah titipan dari Allah. Kita terlahir di bumi ini tidak punya apa-apa, tidak berbekal apapun, lalu Allah Yang Maha Kaya menitipkan kekayaan, sebagai sebuah kenikmatan hidup di dunia, sekaligus sebagai amanah yang harus dimanfaatkan untuk kebaikan.

Lalu, setiap hari, Allah mengetuk pintu kita, “adakah yang bisa kalian pinjamkan untukKu?”. Allah mengetuk melalui anak yatim yang kita jumpai, melalui si fakir yang kita lalui, atau melalui berbagai pengumuman ladang wakaf masjidNya yang silih berganti.

QS Al Hadiid, ayat ke-7, “Berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya . Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar”

Sayangnya kita sering tidak bergeming. Allah mengetuk pintu kita setiap hari, tetapi kita menulikan telinga kita. Allah memberitahu kita setiap hari tetapi kita membutakan mata kita sendiri. Kadangkala kita sok sibuk, seperti dicontohkan si tetangga tadi, lupa bahwa yang meminjam adalah pemilik aslinya. Padahal, jika kita meminjamkan apa yang kita miliki (yang sejatinya milik Allah itu), Allah yang Maha Baik pun pasti akan mengembalikannya dalam keadaan utuh, bahkan lebih baik.

QS Al-Baqarah ayat ke-245, “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak …”

Ah, sungguh luar biasa Tuhan kita ini. Dia yang memiliki segala perbendaharaan harta di semesta ini, lalu dia menitipkan kepada kita, sampai disini seharusnya malu kita ini. Dia Sang Malik sebenarnya tidak perlu meminjam, kalau mau ambil terserah saja kehendakNya. Itupun seringkali kita keberatan untuk meminjamkannya, sampai-sampai Dia memberikan insentif bagai umatNya yang bersedia memberikan pinjaman …

Sungguh tragis perilaku kita ini. Selalu saja ada alasan untuk menunda infaq, wakaf, sedekah, atau segala macam bentuk pinjaman yang baik di jalan Allah. Lupakah kita bahwa pada hakikatnya kita sedang berada dalam antrian untuk bertemu dengan malaikat maut, dan kita tidak pernah tahu kita berada di antrian nomor berapa …

QS Al Munafiqun …

9. Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu & anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi

10. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan padamu sebelum datangnya kematian kepada salah seorang diantaramu; lalu ia berkata, “Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan kematianku, sehingga aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh”

11. Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan kematian seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.

Semoga Allah Yang Maha Sayang tak henti melimpahkan hidayahNya untuk kita semua …