Dualisme Cinta

Manusia selalu mencari cinta. Itu sudah kodratnya, karena dengan menemukan cinta kita akan menemukan kebahagiaan. Sakinah hati, damai dalam menjalani hidup ini.

Masalahnya adalah, seringkali kita tidak menemukan cinta di setiap area tempat kita berjuang sehari-hari. Ada yang menemukan cinta di rumah, tetapi tidak di kantornya. Ada yang punya cinta di kantor, di sekolah, tetapi di rumahnya sendiri malah kering akan cinta. Inilah yang disebut sebagai ambiguitas kehidupan, kita memiliki beberapa frekuensi cinta dalam hidup. Akibatnya, bisa jadi kita akan memeiliki beberapa kepribadian, berlaku dengan gaya tertentu di rumah, bertindak gaya lain di kantor.

Ideal adalah ketika kita memiliki frekuensi kehidupan yang sama, baik di rumah, di kantor, di pasar, di klien, dan dimana pun kita berada. Kita selalu memiliki cinta yang sama. Inilah ketika kita memiliki kehidupan yang utuh, satu kepribadian, tidak terbelah-belah.

Nah, cinta yang frekuensinya sama dimanapun ia berada hanyalah cinta Allah, cintanya orang-orang yang mencintai dan dicintai Allah. Jika semua tempat memiliki atmosfir cinta jenis ini, kebahagiaan karena konsistensi cinta otomatis kita rengkuh.

Maka, kita harus proaktif untuk menyamakan frekuensi cinta ini. Mulailah dengan doa dengan sebuah doa yang diajaran oleh Rasulullah SAW, “Ya Allah karuniakan kepadaku kecintaan kepada-Mu, kecintaan kepada orang yang mencintai-Mu dan kecintaan apa saja yang mendekatkan diriku pada kecintaan-Mu”.

Selanjutnya, memilih kantor tempat bekerja, menentukan pekerjaan yang akan ditekuni, bahkan memilih tempat rekreasi sekalipun, kita harus menempatkan kesamaan frekuensi cinta ini sebagai filter utama. Jangan memilih sesuatu hanya berdasar cinta atas hal-hal yang nampak dan duniawi semata. Pahami dan hayatilah sebuah doa indah di QS AL Mukminun, “Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat.”

SAM_0618

Senyum Terindah

Ini sebuah kisah, 13 tahun yang lalu …

Saat itu hari tasyrik … semuanya diawali ketika saat dini hari yang dingin itu saya memutuskan duduk bersandar di sebuah tiang di Masjidil Haram, mengistirahatkan tubuh setelah melakukan tawaf. Sengaja memilih sebuah tiang yang searah dengan multazam agar sambil beristirahat masih bisa memandang Ka’bah di titik yang paling mustajab. Belum sempat doa-doa terpanjatkan, kantuk yang berat membuat kesadaran seketika turun pada level gelombang alfa. Tertidurlah saya dalam posisi duduk bersila di masjid suci tersebut.

Tiba-tiba suasana Masjidil Haram berubah. Saya masih tetap duduk di tempat yang sama, tapi suasana dan atmosfirnya jauh jauh lebih bersih, sangat sangat syahdu. Waktu melihat sekeliling saya terheran, kenapa jadi lowong begini, kemana semua orang yang tadinya memenuhi masjid. Saya bingung dengan perubahan itu, berputar-putarlah diri ini dalam pusaran berbagai pertanyaan tentang masjidil haram yang seakan pindah dimensi. Tapi kebingungan itu nggak lama, karena saya segera sadar bahwa saya dalam dunia MIMPI.

Aroma wangi yang asing menyergap dari berbagai penjuru. Tiba-tiba, belasan orang berdatangan, mengambil posisi duduk bershaf, seakan bersiap mengikuti sebuah pengajian. Belum sempat terjawab pertanyaan tentang darimana orang-orang itu, kekagetan luar biasa kembali menghinggap karena sekonyong-konyong ada sebuah mimbar di jarak sekitar 3 meter dari tempat saya duduk, entah darimana.

Semua orang berdzikir & bertasbih, masing-masing terkoneksi dengan Allah Sang Penguasa Alam Raya. Dalam dengung dzikir itu, tiba datanglah seorang lelaki dari sisi kiri. Badannya tegap, wajah khas arab dengan gurat yang mempesona, rambut ikal sebahu, dan seakan ada cahaya menyertainya. Sang lelaki ini berjalan perlahan menuju mimbar, penuh wibawa sambil menebar senyum ke sekitarnya.

Entah mengapa, mata saya tak bisa lepas dari pesonanya. Dada berdegup kencang, lidah pun kelu, dzikir pun terhenti, lidah seperti kelu, tak mampu mengucap sepatah kata. Anehnya, saya merasa sangat sangat mengenal lelaki ini. Seakan-akan sudah lama bersahabat. Tapi, siapa? siapakah dia sebenarnya?

Sejurus kemudian, lelaki itu menatap saya, tersenyum … dan … Subhanallah … Allahu Akbar … baru kali ini saya melihat senyuman yang begitu menggetarkan. Entah perasaan apa yang saya rasakan, tapi semuanya freezing, dunia pun seakan berhenti berputar.

Beberapa detik kemudian, orang-orang saling berteriak bersahutan, “Assalamualaika Ya Rasulullah … Assalamualaika Ya Nabi …”. Terhenyak. Berteriak diri ini dalam hati, “Rabbiiiii, inikah kekasihmu itu? Benarkah ini Kanjeng Nabi Muhammad? Inikah manusia termulia itu?”

Sang Rasul terus berjalan perlahan menuju mimbar, tak melepas senyumnya sesaat pun. Sesaat setelah mampu menguasai diri, saya berpikir tidak boleh menyiakan kesempatan emas ini. Saya merangsek ke depan. Saya ingin memeluknya, saya ingin melepaskan kerinduan yang membuncah ini, saya mau mencium takzim tangan surgawinya.

Sang Rasul sudah diatas mimbar, berbicara sesuatu dalam bahasa arab, sambil tetap tenang melihat gerakan saya merangsek ke arahnya, tetap dengan senyumnya. Tapi, belum sampai diri ini mendekati Sang Rasul, Allah Yang Mengusasi setiap jiwa membangunkan diri ini. Saya pun terbangun dalam keadaan menggigil dengan sebuah kenangan yang terpatri seumur hidup saya, kenangan senyum indah Rasulullah Muhammad SAW.

Mendamba Rindu

Apa yang kau cari dari sebuah kerinduan?
Perjumpaan kembali, bukan?

Apa yang kau cari dari sebuah cinta?
Kedamaian hati, bukan?

Wahai para pecinta Muhammad,
Sudahkan kau menemukan rindumu?

Atas kerinduan itu,
Pujilah Tuhanmu dalam syahdu,
Lalu sampaikan shalawat terindah
Terbungkus sujud khusyuk khas seorang hamba

Jika kau masih mendamba rindu itu,
Carilah di sunnah-sunnah yang berserakan
Di antara deru waktu sibukmu

Sungguh, manusia teragung itu
Tak henti mencintaimu

Untuk yang Merindukan SOLUSI

Siapa di antara sahabat semua yang saat ini sedang tidak punya masalah? Adakah? Hmm, rasa2nya hampir semua dari kita berada dalam pusaran masalah, entah besar atau kecil, entah sederhana atau rumit. Ada mahasiswa yang pusing karena skripsi tak kunjung usai, ada pemuda yang galau jodoh, ada ibu yang berhari2 ga tenang tidur karena biaya sekolah anak, ada pula seorang direktur perusahaan yang pening memikirkan hutang yang terus melilit.

Semua kita yang bermasalah merindukan perjumpaan dengan dia yang menamakan dirinya SOLUSI.

Tak jarang, kita sudah berjibaku sana sini, namun pemecahan masalah tak ditemukan juga. Berputar-putar aja kita, seperti terkurung dalam sebuah ruangan bertembok tebal tak berpintu, tidak ada jalan keluar.

Ternyata … Ternyata …

Ternyata, yang namanya solusi itu ga jauh dari tempat dia berdiri. Solusi itu dari kemarin ada di tempatnya berada, ga kemana2. Hanya saja, antara kita dan solusi terpisahkan oleh sebuah tembok. Itulah tembok taubat dan tawakal.

Ternyata, itulah rahasianya. Anda bermasalah? Segera lakukan taubat, inventarisir dengan serius dosa2, istighfari benar2. Lalu bertawakallah, nol-kan diri, percaya sama Allah, sandarkan segalanya padaNya. Berdialoglah, curhatlah hanya pada Dia Yang Maha Mendengar.

Kalau sudah taubat & tawakal, berarti kita telah berhasil melewati hadangan tembok penghalang tadi. Selamat menemukan SOLUSI

Alangkah Indahnya

Alangkah indahnya jika langkah demi langkah kita dibimbing oleh Dia Yang Maha Tahu seluk beluk kehidupan ini. Ketika bertemu marabahaya langkah kita dibelokkan. Ketika bertemu kesempatan, langkah kita dimantapkan.

Alangkah indahnya jika pikiran, ide dan gagasan kita dibimbing oleh Dia Yang Maha Pandai atas segala ilmu. Ide-ide cemerlang dimunculkan, mendobrak segala kebuntuan yang ada. Hikmah-hikmah jitu pun dibuka, menjadi pembelajaran terbaik di setiap kejadian.

Alangkah indahnya jika keinginan kita dibimbing oleh Dia Yang Maha Menguasai Kejadian. Itulah ketika segala keinginan akan bertemu dengan takdirnya.