Belenggu

Terbelenggu …

Ketika kanan dan kiri adalah tembok. Tidak ada ruang gerak sama sekali. Buntu. Hanya pikiran ini saja yang masih liar berlari.

Ketika berdiam diri seakan berdiri di atas bara api. Tetapi jika melangkah berarti terjatuh dalam jurang yang dalam. Sekali lagi hanya angan yang masih bebas loncat sana sini tak berbatas.

Terbelenggu. Inilah ujian kepemimpinan. Ujian terberat bagaimana membaca lifesign yang diberikan oleh Dia Sang Maha Pemberi Petunjuk.

Disiplin adalah Nafasku

Dalam terjemahan bebas, disiplin adalah sebuah dorongan dalam diri untuk melakukan sesuatu yang seharusnya pada waktu dan tempat yang tepat dengan cara yang seharusnya.

Dengan demikian, terdapat empat dimensi dalam berDISIPLIN:

1. RIGHT  THING. Wacana disiplin hanya relevan untuk misi yang benar dan dilakukan dengan cara yang seharusnya. Maka, tindak penyelewengan, meski dilakukan dengan tepat, tidak dapat dikategorikan sebagai tindakan disiplin.

2. RIGHT TIME. Sesuatu yang benar juga harus dilakukan pada waktu yang tepat. Shalat adalah hal yang baik, tetapi menjadi useless jika dilakukan tidak pada waktu yang ditentukan, begitu juga dengan bekerja, mengajar dan lain-lain. Seseorang yang berdisiplin akan mempunyai dorongan untuk selalu tepat waktu, itulah embrio dari manajemen waktu yang handal.

3. RIGHT PLACE. Disiplin juga memperhitungkan dimensi ruang atau tempat. Segala sesuatu yang tepat tapi disampaikan atau dilakukan di tempat yang salah bisa berakibat fatal. Maka seorang yang berdisiplin akan memiliki energi untuk mendorong dirinya selalu memperhatikan ketepatan tempat.

4. RIGHT WAY. Disiplin mendorong diri seseorang untuk senantiasa menggunakan cara yang benar, dalam situasi apapun. Berdisiplin berarti mempunyai cukup energi untuk mencegah diri kita atas segala pilihan shortcut yang tidak bertanggungjawab. Maka, seseorang yang berdisiplin pantang baginya untuk mencontek, memanipulasi, dan sejenisnya.

Itulah tentang DISIPLIN. Kadang kita memahami disiplin dalam arti sempit, hanya dalam bentuk tidak terlambat, dan sejenisnya. Mari kita pahami DISIPLIN secara lebih komprehensif, lalu tancapkan tekad untuk selalu dan selalu berdisiplin, seperti semboyan yang terbaca oleh penulis 17 tahun lalu di Akademi Militer, “Disiplin adalah Nafasku”.

Momentum Maulid Nabi untuk Hidupkan Sunnah dalam Kebiasaan Kita

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيّدنامُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سيّدنا مُحَمَّدٍ

Rasulullah SAW adalah role model kita semua. Singkat cerita, kalau mau sukses dunia akhirat caranya mudah, ikuti cara hidup yang dicontohkan Rasulullah. Dan, manual kehidupan yang dicontohkan Sang Rasul itu sudah sangat lengkap, beberapa ditegaskan dalam prinsip-prinsip, sebagian lainnya dicontohkan sampai teknis.

Maulid Nabi adalah momentum terbaik bagi kita untuk instropeksi diri, sejauh mana kita telah melaksanakan sunnah-sunnah yang diajarkan dan dicontohkan oleh beliau. Maka, peringatan maulid sebaiknya kita awali dengan inventarisasi amalan sunnah apa yang telah kita lakukan secara konsisten. Dilanjutkan dengan program diri untuk memperbaiki atau menambahnya.

Ayo kita buat program “Hidupkan Sunnah” dalam perilaku dan kebiasaan kita sehari-hari. Bukan untuk siapa-siapa, melainkan untuk diri kita sendiri. Pilih salah satu sunnah utama yang selama ini jarang kita lakukan, lalu tekadkan diri untuk melakukannya, SETIAP HARI, selamanya.

Bagi yang serius membuat program ini, berikut beberapa tips sederhana supaya program yang didesain oleh dan untuk kita ini tidak hanya hangat seminggu dua minggu.

1. PILIH sesuai kemampuan. Jika selama ini jarang tahajud, tetapkan program tahajud setiap hari, mulai dengan 2 rakaat. Bagi yang jarang dhuha juga begitu. Sebaiknya hindari loncatan2 yang ‘dramatis’. Atau hal yang sederhana, bertekad untuk selalu berdoa sebelum makan apapun. Intinya sesuai kemampuan.

2. Tancapkan TEKAD dan dokumentasikan. Tekad menjadi tumpuan energi. Tanpa tekad program perbaikan diri seperti ini akan cepat layunya. Nah, salah satu cara untuk membuat tekad selalu membara adalah mendokumentasikannya. Bisa menuliskannya lalu tempel di dinding. Atau bisa juga dengan menceritakan ke keluarga atau teman terdekat.

3. Lakukan BERKELOMPOK. Ajak orang-orang yang ada di rumah kita untuk membuat program yang sama. Bisa juga ajak teman-teman di kantor. Melalui kebersamaan akan muncul energi untuk saling menguatkan dan mengingatkan.

4. Pupuk terus ILMUnya. Ilmu adalah pupuk amal. Salah satu motivasi keistiqomahan adalah dengan mengetahui fadhilah amal. Melalui majelis ilmu pula kita akan mendengar banyak pengalaman dari guru dan sahabat-sahabat yang lain.

Jadi, apa programmu? apa tekadmu?

 

Shalat Berjamaah Tepat Waktu itu Karunia BESAR

Bersyukurlah bagi kita yang berkesempatan untuk shalat berjamaah tepat waktu. Apalagi jika itu dilakukan secara konsisten dan istiqomah. Sungguh itu adalah sebuah karunia besar. Sebuah karunia yang sering kita sepelekan dan kita anggap remeh.

Mari kita telisik, betapa banyak orang yang berkeinginan shalat berjamaah tepat waktu tetapi terhalang oleh kesibukan pekerjaan yang begitu menyita. Betapa banyak mereka itu kemudian justru akhirnya shalat sendirian, di pojok musholla sempit, di akhir waktu pula.

Mari kita perhatikan, betapa banyak orang yang berkeinginan shalat berjamaah tepat waktu namun terhalang oleh kesehatan yang tidak memadai. Mulai dari kaki bengkak, demam, sampai sakit-sakit tertentu yang membuat mereka tak mampu bangkit dari tempat tidur.

Mari juga kita simak pengalaman diri kita masing-masing, betapa tidak kurang ilmu kita ini. Kita sudah tahu betul bagaimana Allah SWT memuliakan hambaNya yang shalat berjamaah tepat waktu. Namun, seringkali kita tidak tergerak ketika Adzan berkumandang. Ilmu ada, tetapi tekad entah kemana.

Maka …

Mari kita bersyukur sepenuh hati ketika kita diijinkan Allah untuk shalat berjamaah tepat waktu. Itulah saat ketika Allah Yang Maha Baik memberi kita karunia yang besar, karena di dalamnya terangkum nikmat kelapangan, nikmat kesehatan, hidayah, tekad, juga pada kondisi tertentu taubat.

Menjadi Pribadi NOL

Untuk mengarungi kehidupan kita membutuhkan KEKUATAN, setuju?? Kekuatan untuk survive, kekuatan untuk menafkahi keluarga, kekuatan untuk berkarya, juga kekuatan untuk memimpin. Pertanyaannya, sudahkah kita mempunyai kekuatan yang kita butuhkan?? Jika belum, bagaimana kita dapat memperolehnya?

“Sesungguhnya kekuatan kita tidak terletak pada melimpahnya harta atau banyaknya pasukan. Kekuatan terbesar justru akan kita dapatkan ketika kita berhasil menjadi NOL lalu menyandarkan segela penyempurnaan urusan padaNya”

Menjadi NOL adalah menjadi pribadi yang menyadari betul bahwa tidak ada kekuatan pertolongan selain ALLAH. Sebuah kesadaran yang tidak hanya dibentuk oleh akal, apalagi hanya dinyatakan oleh lisan. Inilah kesadaran yang dibentuk oleh keseluruhan akal, hati, jiwa dan raga secara bersama-sama. Kesadaran yang dengan tegas menyatakan bahwa diri kita ini NOL, nothing, tidak berdaya sama sekali, kecuali ada intervensi dari Dia Sang Penguasa Alam Raya.

Kesadaran yang menyatakan bahwa yang paling tahu kebutuhan kita adalah Allah yang Maha Tahu. Kemampuan ilmu, kekuasaan, dan harta kita sejatinya tidak cukup untuk mengurus kebutuhan kita sendiri, apalagi mengurusi kebutuhan keluarga dan orang lain. Inilah pemahaman dasar menuju pribadi NOL.

Jika diri kita telah menjadi pribadi NOL, maka otomatis prioritas orientasi kita akan berubah. Pasti itu. Langkah demi langkah kita akan berubah, dari yang sebelumnya pengumpul harta berubah menjadi pemburu ridha Ilahi. Kita bekerja bukan lagi untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup, karena yang memenuhi kebutuhan hidup adalah Allah, dengan cara-cara terbaiknya. Bekerja adalah untuk mengumpulkan amal, untuk menunaikan tugas-tugas kekhalifahan di muka bumi, bukan sekedar memenuhi kebutuhan hidup. Profesionalisme pun bukan sekedar tuntutan kerja melainkan ikhtiar meneladani Sang Rasul, kekasihNya.

Kalau sudah demikian, Allah Sang Muhaimin pasti akan mengurus kehidupan kita, lebih presisi dan lebih hebat dibandingkan jika kita yang mengurus diri kita sendiri. Dia akan memenuhi kebutuhan kita. Jika kita butuh kaya, Dia akan memberi kaya. Jika kita butuh mobil, Dia akan menyiapkan mobil. Jika kita butuh periode miskin, Dia akan ambil beberapa harta kita. Dan seterusnya …

Manakah yang kita pilih, keperluan kita diurus oleh kita atau diurus oleh Allah? Maka, menjadi Pribadi NOL, inilah cita-cita kita.

إن شاء الله

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,170 other followers