Hadiah

Memberi hadiah adalah perilaku para pencinta. Demi yang dicintainya, sang pencinta mempunyai fokus segala apa yang disukai oleh yang dicintai. Hampir dapat dipastikan pencinta akan mengerahkan segenap sumber daya yang dimilikinya untuk memberikan hadiah terbaik untuk yang dicintai.

Saat paling menyedihkan dari kehidupan para pencinta adalah ketika yang dicintainya meminta namun dirinya gagal memberikan hadiah terbaik itu. Perasaan menjadi manusia paling tak berguna mendominasi relung hati. Penyesalan tiada ujung.

*ketika seorang hamba gagal menyelesaikan riyadhohnya*

Ampuni Hamba Ya Rabb

Rabb,
Hambamu ini ingin teriak
dengan teriakan yang memecah langit

Rabb,
Hambamu ini meremas diri
menjadi kepingan tanpa makna

Rabb,
Rasa malu ini memenuhi ruang jiwa
Menjejal jejal dinding kalbu

Rabb,
Meski sampai kering air mata ini
rasanya penyesalan ini tak akan sampai

Rabb,
Kadang otak dangkal ini hadirkan sebuah logika
tentang hadiah yang bertukar dengan dosa
Nyatanya, hadiah terbaikku pun tak setitik nilainya

Rabb,
ampuni hamba Ya Rabb
Ampuuuuniiiiii Hambamuuuuu ini Ya Raaabbbbb

Ketika mulut tak mampu berdoa …

Inilah catatan ketika keperluan hidup menghimpit dada,
satu sama lain meminta perhatian & prioritas

Inilah saat ketika otak tak mampu menalar lagi
Inilah ketika lidah kelu, tak mampu mengucap doa sepatah pun
karena benak tak sanggup lagi mengimajinasi solusi

Inilah saat terbaik
untuk tawakal
karena memang tiada kekuatan selain dariNya

Tentang Keinginan Terdalam

(13) Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. (14) Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui [yang kamu lahirkan dan rahasiakan]; dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui? ~QS. Al Mulk~

Ketika qalbu dipenuhi oleh sebuah keinginan yang tidak mudah dipahami oleh orang lain, maka yakinlah bahwa Allah Yang Maha Agung itu mendengar dan memahaminya.

Ketika pergumulan hati tidak dapat dicerna oleh logika dan tidak dapat dijelaskan oleh sebuah argumentasi biasa, percayalah bahwa Allah Yang Maha Hebat mampu mencerna segala argumentasi yang mbulet sekalipun, yang bahkan si empunya tak mampu mendefinisikannya dalam kata-kata.

Ketika keinginan terdalam yang tulus itu terhadang tembok di sana sini, percayalah bahwa Allah As Syakur itu tidak akan pernah mengecewakan. Dia akan membuka jalan pada waktu terbaik dan juga cara terbaik.

(19) Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya [di udara] selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu ~QS. Al Mulk~

Jalan Sepi Seorang Pejuang

Ketika tak satupun orang di sekitar yang memahami pembicaraan, maka dialog dalam hati akhirnya menjadi satu-satunya pilihan. Maka, segala gundah pun akhirnya tersimpan rapat, hanya untukMu, Wahai Sang Maha Pendengar Sejati.

Ketika apa yang dianggap penting tidak lagi menjadi prioritas banyak orang, maka keteguhan hati menjadi sandaran. Aku bekerja untukMu, Wahai Sang Pemilik Semesta.

Mungkin inilah yang disebut jalan sepi seorang pejuang. Ketika investasi harta tak bisa diukur ROInya. Ketika setiap ikhtiar disambut dengan kesangsian. Ketika lambat laun kemudian frekuensi pikiran ini benar-benar berbeda dengan yang lain.

Mungkin inilah yang disebut ujian persistensi dalam perjuangan. Ujian Istiqomah. Seberapa kuat raga ini menopang. Serapa kokoh hati ini bertahan. Seberapa jauh kaki ini melangkah.

Rabbii, sungguh, ketika ribuan setan mengeroyok & mencoba merobohkan pertahanan, cukuplah satu Engkau sebagai penjaga hati ini.

 

Belenggu

Terbelenggu …

Ketika kanan dan kiri adalah tembok. Tidak ada ruang gerak sama sekali. Buntu. Hanya pikiran ini saja yang masih liar berlari.

Ketika berdiam diri seakan berdiri di atas bara api. Tetapi jika melangkah berarti terjatuh dalam jurang yang dalam. Sekali lagi hanya angan yang masih bebas loncat sana sini tak berbatas.

Terbelenggu. Inilah ujian kepemimpinan. Ujian terberat bagaimana membaca lifesign yang diberikan oleh Dia Sang Maha Pemberi Petunjuk.

Aku Tahu

Aku tahu engkau sedang menyiapkan sesuatu untukku, sesuatu yang memang merupakan permintaanku sendiri. Inilah jawaban atas mintaku agar engkau menjadikan aku sebagai manusia bermanfaat.

Aku tahu engkau masukkan diriku dalam kepompong. Sebuah episode dimana himpitan2 begitu menyesakkan dada karena hal2 baru datang silih berganti menyergap setiap hari. Itulah caramu menyempurnakan karya-karya kami, untuk menjadi lebih bermanfaat.

Aku juga tahu engkau mulai mengabulkan keinginanku yang paling spesial. Ya, engkau mulai mengijinkan aku mencintaimu. Sebuah cinta termurni, tak tercampur cinta-cinta yang lain.

Aku tahu engkau tahu bahwa aku tak sanggup mengenyahkan berhala-berhala sainganmu. Maka, engkau dengan baik hati mulai menghancurkan berhala2 itu, satu demi satu.

Aku tahu, setelah segala apa yang engkau telah lakukan, kini aku sangat merindukanmu.

Ketika Dia Mengutus Ibrahim

Bersiaplah ketika Dia mengabulkan doa kita …

Ketika kita merasakan keteduhan seorang ‘alim, diam-diam dalam hati kita menyelidik apa gerangan yang membuat tutur kata dan gesturnya begitu menyejukkan. Lalu, terjawablah, bahwa kesejukannya itu tidak lain karena keyakinannya yang sangat tegas dan lurus bahwa Dia segala-galanya.

Setelah pengalaman itu, munajat doa selalu menyelipkan keinginan khusus. Berbisik meminta tiada cinta lain kecuali cintaNya. Merintih tak ada keinginan terbersit selain keinginanNya. Meratap tak sabar menantikan kedekatan denganNya.

Kenyataannya terdapat gap yang sangat besar. Doa terucap, keyakinan membara, munajat pun terujar, tapi hati, pikiran dan lisan begitu akut men-Tuhan-kan segala yang selain Dia. Memang bersyahadat, tapi hati mengimani sumber ketentraman adalah Uang. Memang tangan selalu mengantar takbir, namun setelah itu tangan terampil sekali bergerak memainkan alat buatan manusia, mengantar hati untuk larut menjadikan alat ini sebagai Tuhan.

Maka, ketika Dia mengabulkan doa tersebut, gap itu harus dikikis. Benar saja, kini Dia seakan-akan mengirimkan Nabi Ibrahim dengan kapaknya, memasuki ruang-ruang kehidupan kita, menghancurkan satu per satu berhala itu.

Tak mudah menyaksikan berhala-berhala itu dirobohkan. Perih di dada ketika Tuhan lain yang selama ini telah menjadi kenyamanan itu dirampas. Sakit rasanya ketika alat tempat bergantung itu dijauhkan. Tetapi, dengan penuh kesadaran, kita harus meyakini, inilah saatnya doanya diuji. Sungguh-sungguhkah diri kita meminta cintaNya? hanya cintaNya?

Mengapa tak bersandar hanya padaNya??

Siapa yang menguasai jiwa kita? Allah
Siapa yang memberi kemampuan kita bicara? Allah
Siapa yang menyempurnakan organ gerak tubuh kita? Allah
Siapa yang menguasai bumi dan langit? Allah
Siapa yang menguasai udara dan cuaca? Allah
Siapa yang menguasai jiwa orang2 sekitar kita? Allah
Siapa yang menguasai pikiran & kehendak anak2 kita, pegawai kita, atau klien kita? Allah
Apakah Allah berkuasa membobak-balik hati mereka? Pasti

Lalu …

Mengapa tak bersandar hanya padaNya??

Betapa Merana Perasaan Ditinggal Sang Terkasih

Rabbii …

Betapa merana perasaan akan ditinggalkan sang terkasih …

Meradang karena ketidakpastian akan bersua kembali ..

Menyesal karena kesia-siaan saat bersama ..

Rabbii, Engkaulah sang penguasa kejadian …

Ijinkan di penghujung ini kami mengikat janji

Untuk kami bertemu kembali ..

Kuingin Memberi Hadiah

Tak pernah terputus kasih sayangnya
Tak terhenti perhatiannya
Tak terhitung pemberiannya
Itulah cintanya yang luar biasa itu

Kini kuingin membalas cinta agung itu
tapi yang ada hanya gundah
karena hadiah dariku hanya sebuah noktah tiada arti

sembahyang yang jarang khusyuk
puasa sunnah seadanya
baca Quran sesempatnya
itulah hadiah-hadiah dariku

kadang aku menyisihkan harta
lalu kepuasan kurasakan ketika bersedekah
memalukan sungguh,
kumerasa hebat hanya dengan sedekah uang sisa itu

Kuingin memberi hadiah,
sebagai ungkapan terima kasih & cintaku
hadiah yang tak biasa
semoga …

Titik Nol

Ingin berada pada titik nol
Ketika tidak ada lagi keinginan selain keinginannya
Ketika kehadiran dunia bukan lagi pemicu tawa
Ketika pujian manusia tak lagi menyilaukan

Ingin berada pada titik nol
Ketika kedekatan tidak lagi terhijab
Ketika dekapannya terasa nyata dalam hadir
Ketika bisikan namanya menjadi dendang terindah

Ingin berada pada titik nol
Ketika tidak punya apa-apa selain yang dihadiahkan untukku
Ketika dapat sepenuh hati dapat berkata
“Sungguh, hidupku & matiku hanyalah untukmu”

Maaf, Kuketuk PintuMu dengan Tergesa Memaksa

Maafkan aku kekasih, karena aku mengetuk pintuMu malam ini. Aku tersadar, ribuan bahkan jutaan kali Kau mengetuk pintu kesadaranku tapi tak kuhiraukan. Malam ini, ketika hati ini gerimis, dengan egois aku mengetuk pintu-Mu dengan tergesa memaksa.

Maafkan aku kekasih, karena aku merengek malam ini. Aku tersadar ribuan kali rengekan anak jalanan, anak yatim, dan mereka semua yang papa lewat begitu saja bagai angin lalu buatku. Malam ini, ketika dunia tak bersahabat, aku tanpa malu merengek dekapan-Mu, menghiba kasih sayang-Mu, mengharap belaian lembut-Mu itu.

Maafkan aku kekasih …

Kepemimpinan (sebuah curahan hati)

Terdapat pergulatan batin dalam diri saya, tentang sebuah pertanyaan, “Apakah pantas saya ikut memperebutkan sebuah kepemimpinan?”. Terpatri dalam benak saya bahwa kepemimpinan adalah amanah dan untuk menjalankannya dibutuhkan sebuah keikhlasan. Nah, keikhlasan ini menjadi pertanyaan kuncinya, rasa-rasanya tidak ada dari kita yang mampu mengukur kadar keikhlasan untuk kemudian meyakini bahwa dirinya layak memimpin.

Bicara keikhlasan dalam bentuknya yang paling sederhana berarti bicara tentang motif. Dalam pemahaman saya, orang yang ikhlas menjalankan amanah kepemimpinan ditandai dengan tidak adanya motif apapun selain ingin memberikan kemanfaatan bagi yang dipimpinnya. Tidak ada motif materi, motif popularitas, motif politik atau motif-motif lain yang berujung ingin menguasai, ingin dipuji, dan ingin dihargai.

Ah, beratnya me-manage hati. Pada kenyataannya, hati ini senang ketika ada testimoni yang positif. Hati ini sedih ketika ada yang meremehkan. Hati ini gembira ketika tepuk tangan membahana. Hati ini gundah ketika dukungan berkurang. Ah, ternyata fluktuasi hati ini masih mengikuti motif-motif yang egosentris. Jika memang fluktuasi hati sedemikian rapuhnya, layakkah diri kita ikut memperebutkan tampuk kepemimpinan?

Rabb, maafkan hamba jika langkah2 ini tidak Engkau sukai …

Wahai Sang Penguasa Hati, lindungi hamba, lindungi hamba …

 

Ketika tak ada lagi tempat berlabuh …

Ketika tak ada lagi tempat berlabuh di dunia fana ini, semakin aku merindumu. Ketika semua makhluk di sekitarku berperilaku sendiri-sendiri, untuk kepentingan sendiri-sendiri, semakin terasa betapa aku mendambamu …

Duhai kekasih, engkaulah tempat terbaikku, yang selalu mendengar serumit apapun curahan hatiku. Duhai cinta, engkaulah penghiburan terbaikku, melalui untaian kata dalam surat-surat cintamu nan agung dan mempesona …

Dalam letih ini, dekaplah jiwaku dengan kehangatan selimutmu. Dalam lelah ini, ijinkan aku menangis untuk segala gundah & kerinduan … ijinkan aku … ijinkan …