Tentang Jodoh atau Pasangan Hidup atau Garwa

Menurut saya, sumber kegalauan terbesar di dunia saat ini adalah masalah JODOH. Inilah pertanyaan yang terus relevan di sepanjang usia manusia, dalam berbagai bentuk dan perspektif. Inilah masalah yang misterinya tidak akan pernah habis dibahas dalam ratusan seminar.

Banyak diantara kita yang bertekad, “Saya mau pasangan yang benar-benar mencintai diri saya”. Beberapa di antara kita berkata, “Saya mau pasangan yang good looking“. Beberapa lainnya “Saya ingin pasangan hidup yang potensial”. Ada juga yang berkata, ” Saya mau pasangan yang siap”. Di beberapa tempat ada juga yang berkata, “Nggak penting seperti apa pasangan saya, yang penting setelah menikah nanti saya nggak mau mikir berat-berat lagi”. Ada juga yang penuh determinasi mengatakan, “Saya mau pasangan yang sholeh, yang bisa mengajak bersama2 ibadah”.

Tidak dapat dipungkiri, kita memiliki gambar di alam bawah sadar kita tentang pasangan idaman. Pengalaman hidup, latar belakang keluarga, ilmu yang diserap, tetangga yang diamati, gosip yang didengar, semuanya membentuk gambar tentang bagaimana seharusnya pasangan itu. Maka, hampir dapat dipastikan setiap individu di dunia ini memiliki persepsi, gambaran atau perceived value yang berbeda-beda.

Pertanyaannya, apakah gambaran pasangan ideal yang kita miliki itubenar-benar sesuatu yang terbaik buat kita?

Ketika seseorang mengatakan jatuh cinta pada seseorang yang lain, jangan-jangan yang jatuh cinta adalah matanya karena melihat sesuatu yang menarik mata di diri seseorang tersebut. Atau jangan-jangan yang jatuh cinta adalah telinganya karena mendengar buaian kata dari seseorang tersebut. Bisa jadi pula yang jatuh cinta adalah logikanya karena semua hal logis yang dibangun tentang pasangan ideal ada di seseorang tersebut. Atau, mungkin yang jatuh cinta adalah perasaannya??

Sejatinya, bicara jodoh adalah bicara hati. Hati disini bukan sekedar liver, tetapi Qolb, sebuah radar dalam diri kita yang berisi banyak sekali informasi berharga. Kita sering mendengar ungkapan, “dengarlah kata hatimu”, karena dari hatilah muncul suara terjernih dan termurni tentang segala yang terbaik buat kita. Kok bisa begitu? karena melalui hatilah Tuhan berbicara dengan kita. Tetapi sayangnya, seringkali kita tidak dapat mendengar suara hati kita sendiri, karena terlalu bising oleh suara mata, suara telinga, suara perasaan, dan sebagainya.

Ya, bicara jodoh adalah bicara tentang suara hati. Tuhan Maha Baik. Dialah yang tahu persis pasangan terbaik buat kita itu seperti apa, baik fisiknya maupun mentalnya. Inilah yang disebut dengan jodoh sebagai takdir. Tapi Tuhan tidak ‘egois’, Dia yang Maha Baik itu sebenarnya telah mengkomunikasikan hal tersebut dalam hati kita. Radar hati lalu tanpa lelah memancarkan gambaran tersebut. Namun sayang, kita sering menulikan dan membutakan diri sendiri dengan cintanya mata, cintanya telinga atau cintanya perasaan tadi.

Akibatnya, sering kita merasa capek urusanjodoh ini. Kita mencari dan mengejar yang bukan jatah kita. Alangkah beruntungnya kita yang jatuh cinta pada seseorang dan jatuh cintanya itu selaras dengan pancaran radar hati tadi. Sebaliknya, alangkah sengsaranya seseorang jika dia jatuh cinta pada seseorang tetapi tidak sesuai dengan frekuensi radar hati, karena pasti jatuh cintanya itu tidak berujung pada perjodohan. Bisa jadi kita akan tersesat, jatuh cinta sama jodohnya orang lain. Hmm, betapa galaunya fenomena ini …

Maka, sebelum kita jatuh cinta, jagalah pandangan dan pendengaran kita. Jika kita mampu menjaga panca indera kita dengan baik, maka tidak akan terdapat banyak ‘noise’ yang menganggu radar hati kita.

Akhirnya, kunci dari segalanya adalah berdialog dengan Tuhan. Berdoalah. Dahulukan berkomunikasi denganNya dibandingkan memanjakan perasaan. Prioritaskan mematuhi perintahnya dibandingkan mengurusi hal-hal lainnya. Kalau sudah demikian, pasti kita akan jodoh mendekat, kebahagiaan didapat.

Membangunkan Anak Sebelum Mereka Tidur

Suasana heboh di pagi hari saat membangunkan anak-anak mungkin menjadi suasana khas di rumah kita masing-masing. Terutama bagi yang kita yang anak-anaknya sudah memasuki usia sekolah. Salah satu hal yang sering menjadi concern kita adalah “susahnya” membangunkan anak-anak di pagi hari. Dari mulai cara lemah lembut, sampai pakai ancaman. Atau beberapa pakai asmaul husna (in a bad way), maksudnya teriak2 menyebut nama Allah karena si anak tidak bangun2 juga.

Nah, ada sebuah tips yang saya pelajari yang saya ingin bagi dalam tulisan ini. Sebuah kiat bahwa untuk membangunkan anak2, yaitu “bangunkanlah mereka sejak sebelum tidur”. Maksudnya apa? Simak selanjutnya …

Pada saat anak-anak meredup alias ngantuk di malam hari, ajaklah bicara tentang esok hari. Tentu saja dengan penuh excitement ala anak-anak sesuai umurnya. Misal, ajak ngobrol “kakak, adek … kalian tahu nggak, bulan purnama tuh kalau titik paling terangnya pas subuh loh. ada yang mau lihat besok pagi??”, begitu muncul eagerness, sambung lagi, “besok pagi siapa yang mau dibangunin ayah?”, acung tangan deh semua. Kalau sudah begitu, dijamin ketika pagi menjelang, cukup dengan bisikan saja anak-anak itu sudah terbangun.

Ada banyak hal yang bisa jadi bahan untuk membangunkan anak2 sebelum tidurnya. Kadang saya juga menggunakan teknik “self-recognition“. Teknik tersebut dimulai dengan dialog menjelang tidur tentang siapa diri kita sebenarnya. Salahsatunya dengan membahas bahwa kita adalah hamba Allah dan kebahagiaan terbesar bagi kita adalah ketika disayang oleh Allah, tentu saja harus dengan penuh kreativitas sesuai umur anak. Lalu sambung dengan pertanyaan, “siapa anak ayah yang mau jadi kesayangan Allah?”, lalu mereka akan berebut acung tangan. Nah, paginya, kita membangunkan dengan sebuah trigger, “Adek, tahu nggak, anak kesayangan Allah itu bangunnya pas ada adzan shubuh loh”.

Ada juga pendekatan reward. Kalau yang ini, yang disentuh adalah pendekatan perilaku. Dalam pendekatan ini, kita buat kontrak di malamnya. Misalnya, kita menjanjikan sesuatu bagi yang bangun pagi, atau sebaliknya kita berikan punishment jika bangun melewati jam 06.00, dan sebagainya.

Silahkan dipilih dan dikombinakasikan beberapa contoh di atas, karena contoh-contoh tersebut merepresentasikan pendekatan perilaku, pendekatan nilai dan pendekatan hati. Ini berlaku untuk semua umur ya, termasuk bayi yang masih merah, karena melek pada saat shubuh adalah sesuatu yang luar biasa. Pastikan semua orang di rumah kita terbangun pada waktu shubuh itu.

Yang pasti, orang tua harus sangat kreatif, mampu menyelami pikiran anak dan FOKUS.

Merenungi Anak-Anak, Tentang Siapa yang Sebenarnya Mengurus Mereka …

Anak-anak adalah anugerah yang luar biasa. Wajah yang berseri-seri dan buncah kegembiraan di dada, selalu menyambut kelahiran mereka di hari pertamanya. Di sisi lain, anak adalah amanah, titipan yang sangat besar dari Tuhan. Dengan pemahaman itu, kita mengurus sang anak tentu harus sesusi keinginan Tuhan, bukan semata keinginan kita.

Kita sebagai orang tua kadangkala sesumbar bahwasanya kitalah yang membesarkan & mengasuh anak-anak kita. Kita juga mengklaim kitalah yang mengajari dan mendidiknya. Bahkan, atas segala prestasinya, kita sering nebeng kebanggaan. Melalui tulisan ini, mari kita merenung, apa yang sebenarnya sudah kita lakukan? Kontribusi apa yang telah kita berikan untuk pertumbuhan mereka?

Lihatlah paras mereka. Apa yang sudah kita lakukan untuk mempercantiknya? Apakah kita menyumbang ide tentang bentuk wajahnya? Apakah kita ikut merancang tekstur rambutnya? Apakah kita mendesaian komposisi organ-organ di wajahnya? Maha Hebat Tuhan yang menciptakan keelokan & kecantikan pada anak-anak kita.

Kemudian, mari kita perhatikan tumbuh kembangnya. Apa yang sudah kita lakukan utk menumbuhkan tulang dan ototnya? Kontribusi apa yang telah kita berikan utk membuatnya mampu berbicara & berbahasa? Apa yang kita perbuat sehingga pencernaannya berkembang, beradaptasi dengan beragam makanan & minuman? Sistem motorik kasar dan halusnya berkembang baik, apakah kita ikut menyempurnakannya?

Lalu, mereka berprestasi. Satu demi satu pelajaran di sekolah dilahapnya. Surat demi Surat di Quran pun dihafal. Apa kontribusi kita dalam perkembangan otaknya? Sungguh luar biasa perkembangan memori mereka. Apakah kita turut serta melakukan upgrade pada neuron-neuron syarafnya?

Lihatlah betapa kasih sayang Allah melimpah ruah. Jutaan informasi, baik dan buruk, bertebaran dalam berbagai media. Tidak seluruh waktu kita bersama anak-anak kita. Tetapi, anak-anak itu terjaga dari pengaruh jahat. Mereka tumbuh positif. Ya, informasi-informasi itu terfilter. Apa kontribusi kita dalam hal ini? Dialah yang menggerakkan semuanya sedemikian rupa sehingga anak-anak itu berada dalam pergaulan yang tepat.

Ya betul, memang kita yang menyiapkan susunya sewaktu bayi. Kita merancang asupan gizinya seideal mungkin. Berjibaku kita bekerja untuk menafkahi kebutuhannya. Tapi semua yang kita perbuat itu, rasa-rasanya tidak ada seujung kuku dibandingkan kehebatan Tuhan mendesain kornea mata sang anak.

Kita pula yang memilih sekolah & memfasilitasi guru les di rumah. Tidak sembarangan, semua dengan penuh perhitungan. Kita memberi wejangan setiap hari. Tapi sepertinya semua itu tak secuilpun berbanding dengan kemurahan Tuhan menanamkan iman di hati sang anak.

Tuhan mendesain anak-anak itu dalam ukuran yang paling tepat dan presisi. Dialah Sang Arsitek itu. Lalu Dia mengurusnya, seringkali bahkan tanpa kita sadari. Lalu kita ini siapa? Kita adalah salah satu makhluknya yang diberikan kesempatan luar biasa untuk mengelola titipannya. Tak ada kesulitan sedikit pun bagi Tuhan untuk mengarahkan anak-anak kita itu menjadi apapun yang dikehendakiNya, namun kita diberi kesempatan untuk mengelola ladang amal, menghadirkan ikhtiar-ikhtiar yang menjadi trigger berkembangnya sang anak menuju pada perkembangan yang diinginkan Tuhan.

Kehebatan Tuhan mengurus anak-anak kita sekaligus menunjukkan betapa lemahnya diri kita. Bayangkan, ketika mereka tidur, untuk menjaga dari gigitan nyamuk saja kita tidak mampu. Maka, hal paling krusial dalam mengurus anak bukan terletak pada bagaimana memberi mereka makan atau memberi penjagaan secara fisik, karena kalau fokusnya ini dipastikan kita tidak akan mampu. Kita tetap meletakkan ikhtiar secara proporsional sebagai sebuah amal shaleh, namun dengan semuanya dalam bingkai kesadaran bahwa Tuhan sajalah Dzat terhebat yang menjamin rizki dan memberi penjagaan paling sempurna.

Hal paling krusial dalam mengurus anak terletak pada pengenalan Tuhan itu sendiri. Itulah kenapa warisan yang ditinggalkan Luqman kepada anak-anaknya adalah nasehat tauhid, bukan harta benda. Setelah itu, fokus berikutnya adalah pemahaman tentang kehidupan dan cara belajar.

Mudah-mudahan melalui renungan ini kita semua tergolong sebagai orang tua yang amanah, yang setiap ikhtiar pengasuhannya bersandar pada Allah, karena Allah dan untuk Allah.  Itulah makna ketika kita mengatakan, “Nak, aku mencintaimu karena Allah”.

Misi Pendidikan

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu” (At-Tahrim : 6)

Menentukan misi pendidikan dalam keluarga tidaklah mudah, apalagi mengimplementasikannya. Berbagai pengaruh kondisi dunia memberikan jebakan-jebakan tersendiri. Jika tidak berhati-hati, kita akan salah menempatkan prioritas, yang pada gilirannya akan menjadikan pendidikan salah arah. Kalau pendidikan keluarga salah arah, maka generasi mendatang dikhawatirkan menjadi generasi yang ambigu, sebuah generasi yang mungkin cerdas secara intelektual namun gagap secara spiritual, atau sebaliknya.

Beberapa hal yang perlu diwaspadai sebagai sebuah “jebakan” dalam menetapkan misi pendidikan adalah:

  • Salah pandang terhadap “apa yang penting”. Apa “skill of life” yang paling dibutuhkan anak-anak kita?
  • Salah perspektif tentang waktu. Anak-anak kita tidak akan hidup pada waktu kita, tetapi pada waktu mereka. Dalam hal ini, kemampuan membaca situasi masa depan akan sangat menentukan perspektif yang kita punyai

Misi pendidikan bisa apa saja. Namun, sejatinya kita harus membekali anak-anak kita dengan sebuah keahlian dasar dan fundamental, yang dengan keahlian itu apapun masalahnya dia dapat menyelesaikan dengan baik. Apakah keahlian itu? yaitu keahlian untuk merasakan kehadiran Tuhan, kemampuan berdialog denganNya dan menjadikanNya sebagai satu-satunya sandaran.

Wallahualam

Permata Dunia

Sungguh indah permata dunia, intan mutu manikam emas dan berlian yang memikat hati … Namun tiada indah seindah bunga, wanita shalihah harapan agama. Mencipta rumahnya seindah surga, menjaga akhlaknya sebening mata, Qanaah selendangnya dalam rumah tangga, sejuk di qalbunya, tunduk pandangnya …

~~lirik salah satu lagu Suara Persaudaraan~~

Sungguh luar biasa seorang wanita yang tergolong sebagai wanita shalihah.  Keindahannya tidak bisa diukur dengan perhiasan atau intan berlian semahal apapun di dunia ini. Mengapa? karena akhlak seorang wanita shalihah begitu indah dan akan menjadi penghias kehidupan dunia.

Seorang wanita shalihah yang mendampingi seorang suami yang berkarya adalah kesayangan Allah. Mereka menjaga kehormatan rumahnya, menjadi penyejuk dan pengharum setiap penjuru rumahnya …

Kita mungkin tidak banyak mengenal mereka, karena kebanyakan namanya tidak pernah diliput media, tetapi meski demikian dipastikan kiprahnya menjadi pembicaraan di langit sana …

Di kamar bidadariku …

Malam ini malam takbiran idul qurban. Saya baru pulang dari denpasar malam itu, penat memenuhi raga setelah perjalanan yang cukup melelahkan. Ingin segera merebahkan diri, namun saya putuskan mampir sejenak ke kamar anak2 ….

Jam menunjukkan 00.15 ketika saya memasuki kamar anak2. Kamar ini tidak luas, namun cukup untuk menampung sepasang bed ukuran anak2 yang didesain kompak, jika satu tidak digunakan bisa didorong ke dalam kolong bed satunya sehingga mencipta ruang yang lumayan lega.

Malam itu, kaka ayasha tidur di atas, sementara ade hafa di bed bawah. Keduanya lelap dalam mimpinya, tidak menyadari keberadan ayahnya yang telah hampir setengah jam duduk di tepian bed atas memandangi wajah mereka satu per satu bergantian.

Saya berdiam, bersholawat dalam hati, sambil menebarkan pandangan di setiap inci dinding kamar ini. Tergambar aktivitas sang medina dan sang mecca dalam berbagai coretan, gambar, dan berbagai tempelan dinding. Memang mereka saya biarkan kreativitasnya tercurah di kamar ini …

Tiba-tiba air mata menggenang melihat sebuah gambar tulisan kaka yang berisi “5 nasehat ayah” yang bersebelahan dengan gambar yang sejenis berisikan “5 pantangan”. Sang kaka yang beranjak besar mulai terbiasa mendokumentasikan apa saja peristiwa yang dialaminya dalam bentuk gambar atau tulisan …

Lima Nasehat Aset

Lima Pantangan

Di sudut yang lain, di sisa ruang yang sempit, saya buatkan mereka sebuah meja belajar ala kadarnya, sebagai sebuah simbol perpustakan mini dan sebuah “reminder” pada mereka bahwa kita harus belajar tiap hari. Saya ingin mengatakan kepada mereka bahwa ilmu adalah kekayaan yang abadi, dengan ilmu itulah kita mengenal Sang Pencipta dan dengan ilmu pulalah kita bisa berkarya & bermanfaat  …

Meja belajar

….

Jam menunjukkan pukul 00.55 ketika ade hafa menggeliat merengek secara khas dengan mata tetap terpejam, sebuah rengekan haus minta minum. Dengan setengah meloncat tanpa bersuara saya meraih botol (dot) yang ada di meja di sisi kamar yang lain, menakar jumlah bubuk susu di dalamnya, lalu meraih sebuah termos kecil yang memang sudah disiapkan. Dengan sekali pencet, air keluar bergemiricik dari bibir termos dengan pelan. Dengan sengaja saya sodorkan jari untuk mengukur tingkat panasnya air itu, hmm .. sudah tidak terlalu panas, seketika saya putuskan menambah jumlahnya dari yang seharusnya 50 ml menjadi 100 ml. Sebuah kocokan kecil melarutkan bubuk susu itu, untuk akhirnya aqua 80 ml menyempurnakan susu buat ade hafa malam itu …

Dengan tetap terpejam, sang ade menghisap susu melalui botol kesayangannya. Saya ingin mengiringi tidur mereka dengan bacaan Quran, tetapi serangan kantuk setelah penerbangan yang melelahkan membuat saya tak sanggup melakukannya. Maka, sebelum beranjak, saya keluarkan Ipod dari kantong, menyalakannya .. dan sejurus kemudian terdengar senandung indah Surat Al Anam oleh Syeikh Suraim memenuhi ruangan, menemani bidadari2 itu di sisa malam …

Tradisi

Tradisi berasal dari kata “traditio” dari bahasa latin yang bermakna “diteruskan”. Dalam pemahaman yang sederhana, tadisi bermakna kebiasaan, tata cara, atau nilai yang dilakukan terus menerus secara konsisten dalam kurun waktu yang lama.

Enam tahun yang lalu, menjelang berpulangnya, almarhum papa mertua saya memberikan pesan tentang kelanggengan keluarga. Beliau mengatakan bahwa keberlangsungan sebuah keluarga salah satunya ditentukan oleh tradisi yang berhasil dibangunnya. Tradisi itulah yang akan membangun nilai yang disepakati bersama, juga membangun pilar yang menyatukan segala perbedaan, serta memberikan “ruh” pada rumah yang akan membuat anggota keluarga selalu kembali ke rumah.

Selama lebih dari enam tahun ini saya mencoba membangun tradisi keluarga saya. Melalui berbagai perenungan dan dialektika, saya mencoba membangunnya dalam 3 tingkat tradisi. Tingkat pertama adalah perilaku, yaitu tradisi yang berbentuk perbuatan, sebuah kesepakatan atas rutinitas. Tingkat kedua adalah nilai, yaitu melembaganya nilai-nilai tertentu, baik dalam setiap diri keluarga saya maupun dalam keluarga sebagai sebuah kelompok. Tingkat ketiga adalah tradisi hati, yang berimplikasi pada terbangunnya sebuah “reflek” dalam menyikapi sebuah kejadian, yang berakar pada pengenalan atas Allah Sang Penguasa Kejadian.

Itulah tradisi yang semoga senantiasa menyatukanvisi keluarga kami. Tradisi yang membentuk pola pikir dan pola sikap istri dan anak-anak saya. Sebuah tradisi yang menjadikan tahajud sebagai titik start mulainya hari, tradisi yang membentuk sistem pengasuhan ala Nordiawan, tradisi yang membentuk kami sebagai pekerja keras, serta tradisi yang membuat anak-anak berseru “terima kasih Ya Allah” setiap mendapat kesenangan atau berbisik “tolong kami Ya Allah” setiap menghadapi himpitan …

6 Juni 2008 : Hari ini Istriku Ulang Tahun …

Ini adalah sebuah catatan tentang istriku …

Aku mengenalnya di FEUI, sebagai mahasiswa tingkat 1 yang ternyata alumni TN. Dia tampak cerdas dari cara bicaranya, tapi aku ragu mendekatinya. Karena dia begitu gemerlap sebagai anak jakarta dengan HP, mobil dan gaya hidupnya. Kayaknya aku nggak cocok berdekatan dengan gadis seperti itu. Aku anak desa, yang datang ke kampus dengan baju seadanya, sepatu kats kualitas terbatas bahkan sandal jepit. Tapi entah kenapa, wajahnya berkelebat beberapa kali pada saat aku bermunajat di Multazam di tanah suci. Mungkin dia jodohku. Bermodal itulah, aku mendekatinya dan beberapa waktu kemudian memberanikan diri untuk mengajaknya menikah …

Di sinilah awal tercatatnya sebuah kisah keteguhan hati dan kelapangan jiwa seorang gadis bernama Hertin. Dia bersedia menikah dengan seorang pemuda dengan status pengangguran, bahkan berhutang 50 juta atas bisnisnya yang tak kunjung jelas. Dia ternyata bukan gadis kota kebanyakan karena ternyata mampu mengurus sendiri suaminya yang terbaring sakit selama 8 hari tepat seminggu setelah pernikahan. Dia mampu mengurus rumah tangganya sendirian mulai masak sampai bersih2, tanpa pembantu, meskipun dirinya memiliki keterbatasan fisik yang signifikan. Sambil tetap ikhlas dengan pendapatan suami yang tetap tak kunjung menentu …

Ketika desakan ekonomi menguat, dia kemudian rela menjual mobil Lancer kesayangannya, pemberian almarhum papanya tercinta. Kita hidup pas-pasan saja, semboyan kita waktu itu, semoga pas butuh pas ada. Sungguh sebuah keadaan yang tidak terbayangkan setahun sebelumnya, ketika sebelum menikah dimana dirinya hidup serba berkecukupan (pas mau pasti ada), tiba2 bandul takdir membuatnya hidup dalam ketidakjelasan dalam hutang ratusan juta, impian sekolah S2 dan mimpi2 lain pun dibuang jauh2. Aku menyaksikan tangisan2nya dalam tahajud dan aku bertekad jikalau ada kelebihan suatu saat nanti biarlah itu untuknya …

Allah Maha Baik. Sang Khalik memberikan sinyal dengan me-skenariokan kelahiran Ayasha dalam keadaan istriku puasa Asyura. Dan ayasha pun menjadi tonggak. Perusahaan mulai menghasilkan profit signifikan untuk membuat hutang terselesaikan sampai akhirnya kita pindah ke rumah sendiri …

“Aku tidak sempurna, lalu ngapain aku menuntut orang lain sempurna”, itulah resepnya untuk selalu kembali menemukan kehidupan setelah tersakiti. Betapa sering suaminya melakukan kesalahan, tetapi entah bagaimana pintu maafnya selalu terbuka … dia sangat pemaaf, katanya mau meneladani sebuah kisah nabi tentang sahabatnya yang menjadi ahli sorga karena setiap malam menjelang tidur melepaskan semua beban dan memaafkan semua orang yang menyakitinya …. 

Aku tahu, istriku berusaha sangat keras memahami suaminya, yang penuntut dan perfeksionis urusan tradisi rumah tangga. Dia betul2 tahu, apa yang membuat suaminya marah, sedih atau tertawa. Dia mencatat resep2 makanan favoritku, memasaknya meskipun dia harus nggak makan karena bukan seleranya. Istriku ini menyiapkan baju, kaos kaki, ngecharge HP, menyiapkan dompet, sampai duduk manis menemani makan … tak terputus setiap hari!!

Istriku pun seorang akuntan intelektual. Ketika tuntutan pekerjaan memuncak, membuat tiada beda siang dan malam, istriku menjadi penyelamat, dia menjadi partner diskusi dan penulis laporan yang handal …

Itulah istriku … yang kini bersama ayasha dan hafa menjadi sumber kesejukan mata dan jiwa …

Selamat Ulang Tahun Istriku, aku yakin pengabdianmu pada suami membuat Allah semakin mencintaimu …

Mensyukuri Mutiara Ilahi

masjid2.jpg   Medina Ayasha - Hafisha Mecca

dsc00127.jpg seragam-jumat3.jpg

Menatap mereka, istri dan anak-anak, selalu mengundang sejuta rasa. Bahagia, gundah, dan ketakutan teraduk jadi satu dalam bungkus yang juga beraneka ragam, kadang tawa, kadang tangis.

Bahagia dan tawa karena anak-anak inilah yang selalu menjadi penyejuk mata dan hati, penghibur kala nestapa, yang meramaikan ruang, yang menjadi salah satu alasan bagi ayahnya untuk kembali beranjak bekerja demi sebuah kehidupan yang lebih baik, sekaligus pada saat bersamaan selalu menjadi tameng dan pengingat bagi orang tuanya untuk tidak mengambil jalan yang salah. Mereka seakan malaikat-malaikat Allah yang kadang kala hadir dan berkata, “Jangan engkau ambil harta itu wahai Ayahku, jangan suapi kami dengan harta haram …”

Tapi, gundah kemudian menyeruak, sudahkah diri ini bersyukur kepada sang Khalik, yang menghadirkan bidadari-bidadari ini? Sudahkah diri ini beribadah lebih khusyuk, seperti halnya Rasulullah yang lebih banyak bersujud sebagai ungkapan terimakasih atas cinta Allah yang sedemikia besar? Gundah hati ini, karena ternyata diri ini lebih sering merasa semua ini adalah karya seorang hamba, lupa bahwa mereka semua dengan segenap kebahagiaan yang terbawa semata-mata dihadirkan oleh Dia, Sang Pengasih, Dzat yang Maha Tahu isi hati …

Kini, bahkan membuncah sebuah ketakutan, mampukah diri ini mengemban amanat mulia ini? Mendidik mereka, menjadikannya ahli ibadah, dan membimbingnya mengenal Tuhan beserta cintaNya yang tak bertepi itu, untuk kemudian bersama-sama dalam sinergi berkarya mencipta kemanfaatan. Terkadang, pecah tangis ini, membayangkan jikalau diri ini tidak mampu mengemban amanah ini, atau tersandung sehingga gagal melewati ujian ini …

Wahai Allah, Engkaulah sang Penguasa, yang melapangkan dan menyempitkan segala sesuatu, juga yang merendahkan dan meninggikan segala sesuatu .. Tiada pernah Engkau melimpahkan sebuah kejadian, baik kelapangan maupu kesempitan, kecuali Engkau jadikan itu sebagai ladang bagi kami untuk berlomba mengumpulkan amal kebajikan. Juga, tiada pernah Engkau tinggalkan hambaMu sendirian tanpa pertolongan dan kekuatan, Engkaulah yang ada dimanapun kami berada, selalu hadir dengan cinta, kelembutan dan kasih sayang ..

Tolong ya Rabbi, bukalah tabir hati ini, untuk selalu sadar akan keberadaanMu …