Tidak perlu kaya untuk kaya …
Hmm, mungkinkah?
Ungkapan itu sebenarnya sebuah ungkapan tauhid. Bahwa jika Allah SWT berkehendak, apapun bisa terjadi dan terwujud. Apapun kebutuhan kita, seberapa pun besarnya itu, jika Allah berkehendak akan terpenuhi juga, dengan cara apapun, dari arah yang tidak terduga-duga.
Permasalahan muncul ketika kita mengunci skenario kehidupan kita ini sesuai versi kita, meyakini itu skenario terbaik, bahkan terkadang memaksanya.Terutama sekali adalah skenario kepemilikan. Harus punya BB untuk berkomunikasi, harus punya mobil untuk berkendara, atau harus punya rumah untuk berteduh.
Sebagai contoh, kita memiliki kebutuhan atas kendaraan untuk mengantarkan kita pergi ke tempat kerja. Lalu skenario kita tetapkan bahwa kebutuhan itu secara ideal akan terpenuhi jika kita memiliki mobil. Skenario itu kita yakini sedemikian rupa sehingga ketika Allah SWT menghadirkan tetangga yang baik hati yang mau share kendaraannya, tetap saja kita merasa kebutuhan kita belum terpenuhi.
Inilah yang dimaksud dengan ungkapan “tidak perlu kaya untuk kaya”. Percaya bahwa Allah SWT akan memenuhi kebutuhan kita dengan cara terbaikNya. Bekerja keraslah sebagai upaya mengumpul amal shaleh, untuk memberi kemanfaatan sebesar-besarnya bagi manusia lainnya. Kemudian, sekali lagi, biarkan Allah Yang Maha Tahu memilih jalan terbaik untuk memenuhi segala keperluan hidup kita.
Kita ‘hanya’ perlu Allah saja …















































