ngaji

Tidak Perlu Kaya untuk Kaya

Tidak perlu kaya untuk kaya …

Hmm, mungkinkah?

Ungkapan itu sebenarnya sebuah ungkapan tauhid. Bahwa jika Allah SWT berkehendak, apapun bisa terjadi dan terwujud. Apapun kebutuhan kita, seberapa pun besarnya itu, jika Allah berkehendak akan terpenuhi juga, dengan cara apapun, dari arah yang tidak terduga-duga.

Permasalahan muncul ketika kita mengunci skenario kehidupan kita ini sesuai versi kita, meyakini itu skenario terbaik, bahkan terkadang memaksanya.Terutama sekali adalah skenario kepemilikan. Harus punya BB untuk berkomunikasi, harus punya mobil untuk berkendara, atau harus punya rumah untuk berteduh.

Sebagai contoh, kita memiliki kebutuhan atas kendaraan untuk mengantarkan kita pergi ke tempat kerja. Lalu skenario kita tetapkan bahwa kebutuhan itu secara ideal akan terpenuhi jika kita memiliki mobil. Skenario itu kita yakini sedemikian rupa sehingga ketika Allah SWT menghadirkan tetangga yang baik hati yang mau share kendaraannya, tetap saja kita merasa kebutuhan kita belum terpenuhi.

Inilah yang dimaksud dengan ungkapan “tidak perlu kaya untuk kaya”. Percaya bahwa Allah SWT akan memenuhi kebutuhan kita dengan cara terbaikNya. Bekerja keraslah sebagai upaya mengumpul amal shaleh, untuk memberi kemanfaatan sebesar-besarnya bagi manusia lainnya. Kemudian, sekali lagi, biarkan Allah Yang Maha Tahu memilih jalan terbaik untuk memenuhi segala keperluan hidup kita.

Kita ‘hanya’ perlu Allah saja …

???????????????????????????????

Siapakah Yang Mendominasi Hati?

PENTING untuk memantau siapa atau apa yang memdominasi hati kita karena dialah yang benar-benar menjadi penguasa hidup kita. Ketika yang mendominasi hati adalah seseorang tertentu maka di setiap waktu yang kita ingat adalah orang tersebut. Kebahagiaan kita bergantung pada orang tersebut, begitu pula kesedihan kita.

Ketika yang mendominasi adalah benda tertentu, fokus perhatian kita jadi benda tersebut. Keberadaannya terus kita pikirkan. Bahagia dan sedihnya kita pun ditentukan oleh apakah benda tersebut baik-baik saja.

Sesuatu yang mendominasi hati bukanlah sesuatu yang sembarangan. Sesuatu yang mendominasi hati pastilah sesuatu yang istimewa bagi kita. Pertanyaannya,siapakah atau apakah yang mendominasi hati kita?”

Alangkah beruntungnya jika yang mendominasi hati kita adalah ALLAH SWT. Itulah seseorang yang berhasil menempatkan Allah SWT sebagai yang terpenting dalam hidup ini.

Seseorang yang hatinya dipenuhi ALLAH benar-benar akan sangat beruntung karena Allah SWT jelas berbeda. Jika hati kita dipenuhi seseorang maka sudah pasti kita akan memikirkan orang tersebut tetapi belum tentu orang tersebut memikirkan kita. Allah SWT jelas memikirkan dan mengurus kita, setiap saat, setiap keadaan, bahkan ketika kita melupakanNya.

Betapa istimewanya kita yang berhasil menjadikan Allah saja yang ada di hati karena Dia adalah Al Kariim, Yang Maha Mulia dan Maha Memuliakan. Di setiap pergerakan yang diingat adalah Allah. Di setiap kebutuhan sandarannya adalah Allah. Bahkan di setiap cinta semuanya dari Allah.

whbs333

Mengandalkan yang Paling Hebat Saja

Kalau kita mengandalkan otak, maka akan selalu ada yang lebih pintar dari kita. Kalau kita mengandalkan otot, maka akan selalu ada yang lebih kuat dari kita. Kalau kita mengandalkan uang, maka ingatlah akan selalu dan selalu ada yang lebih kaya dari kita.

Pesan sang Guru ini di penghujung rapat di suatu malam menjadi renungan saya. Hmm, sepertinya penyebab segala kegelisahan selama ini adalah salah bersandar. Salah bekingan.

Ibarat berdiri bersandar di kursi, selamanya ga akan tenang karena khawatir kursinya diambil orang lain atau kursinya patah. Lain halnya kalau bersandar ke tembok yang lebih kokoh, hati akan lebih tenang.

Selama ini gelisah karena terlalu banyak bersandar ke 3 hal tadi, otak, otot dan duit. Padahal ketiganya rentan, tidak pernah memberikan jaminan kemenangan dan kesuksesan yang sebenarnya.

Pertanyaan adalah, “bagaimana mengatasi keterlanjuran ini?”. Susah betul sepertinya melepaskan ketergantungan pada tiga hal tadi. Mulai sejak kecil sampai dewasa, doktrin yang diterima adalah, “kalau mau sukses harus pinter, kuat dan kaya”.

Sepertinya harus ada upaya sistematis nih. Mulai latihan melepaskan diri dari ketiga unsur tersebut. Mulai menajamkan keyakinan bahwa ALLAH sajalah tempat bergantung …

Bismillah

kakbah

Adakah Lagu yang Lebih Indah Dibandingkan Senandung Quran?

Komposisi Quran itu indahnya bukan main, apalagi jika dilantunkan oleh seorang yang terpilih dengan suara indah. Bahkan tanpa mengerti maknanya saja sering membuat airmata meleleh, apalagi ketika didengar dengan pemahaman, Subhanallah

homeland4

Keindahan lantunan Quran yang tembus ke hati biasanya menghadirkan tangis yang khas, sebuah tangis yang menghadirkan sakinah di hati. Rasa-rasanya hanya Quran yang bisa melakukan sentuhan ini, tangis dengan sensasi yg menyesakkan dada, namun berujung sebuah ketenangan jiwa. Ya betul, ketenangan yang konon sekarang-sekarang ini semakin mahal harganya.

No song better  than Quran recital

Ketika kita sudah menggemari Quran, maka tidak akan ada lagi lagu yang lebih indah dibandingkan senandungnya. Bukan karena kita tidak mau mendengarkan musik apapun, tetapi hati ini yang tidak lagi tertahankan untuk selalu mendengar kalam Ilahi tersebut.

Masjidil Haram

Masjidil Haram

???????????????????????????????

Beribadah

MISI kita yang paling utama sebagai manusia adalah BERIBADAH. Dari waktu ke waktu, hari demi hari, yang kita lakukan adalah rangkaian ibadah.

Sebagai sebuah misi yang harus ditunaikan maka 3 pertanyaan mendasar adalah WHAT, HOW dan WHY. Kalau 3 pertanyaan mendasar itu terjawab, kesempurnaan kita menjalankan ibadah pasti akan terangkat.

WHAT. Ibadah merupakan kepatuhan dan ketundukan. DI dalamnya terdapat sebuah pengakuan dari seorang yang inferior (hamba) kepada “sesuatu” yang superior.

HOW. Cara ibadah adalah dengan mengikuti contoh yang diberikan oleh seseorang yang memang diutus oleh Sang Superior. Dalam hal ini adalah Rasulullah Muhammad SAW.

WHY. Ada beberapa alasan mengapa kita harus beribadah. Salah satu alasan utama adalah seperti yang dinyatakan dalam QS AL Baqarah ayat 21, “Hai seluruh manusia, beribadahlah kepada Tuhan yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa“. Jadi, alasan mutlak kita beribadah adalah karena Dia yang Superior itu adalah pencipta kita, mutlak bahwa kita mempunyai ketergantungan kepada Yang Menciptakan kita. Alasan tujuan dalam ayat tersebut menjelaskan bahwa kita beribadah dalam rangka mencapai status takwa, sebuah predikat yang kemudian membedakan para the winner dengan the looser.

Prof. Quraish Shihab menejalaskan dalam Tafsir Al Misbah, bahwa jika sebuah ibadah dipahami lalu dikerjakan dengan benar, indikator keberhasilannya akan tampak dalam 3 hal. Pertama, akan terhunjam dalam hati kita bahwa tidak ada “kepemilikan” sekecil apapun pada diri kita karena semuanya MilikNya. Kedua, aktivitas dan tindakan kita pun akhirnya berkisar pada apa yang diperintahkan dan disukai olehNya. Ketiga, kita selalu memastikan bahwa apa yang kita tunaikan memang sesuai dengan khendakNya, sesuai dengan misi yang diemban.

3

Menjaga Hati

Beratnya menjaga hati ketika kita harus berbicara. Mengapa? Karena ketika kita berusaha menampilkan performance terbaik, sejatinya kita berdiri di tengah persimpangan jalan, yang satu menuju penilaian manusia, yang satu lagi menuju keridhoan Allah SWT.

Di persimpangan pertama, serangan pertama muncul, “mencari pujian”. Serangan pertama berhasil dipatahkan, mucul serangan kedua, “ga mau terlihat jelek”. Serangan kedua ini luar biasa, memberondong pertahanan hati kita mulai dari persiapan, selama proses bicara dan bahkan terus menguntit sampai sesudahnya. Biasanya hati ini takluk di serangan kedua. Kalaupun berhasil, akan menanti serangan ketiga yang sangat haluuss, bisikan bangga telah berhasil lolos dari jerat penilaian manusia.

Persimpangan kedua adalah jalanan terjal. Kita harus mendakinya. Butuh kekuatan yang lebih untuk dapat merayapinya. Tapi, kalau berhasil sampai ujung, subhanallah, sorga nan indah menanti disana. Untuk bisa menapaki persimpangan kedua ini, diperlukan 3 level keyakinan yang masing-masing level sekaligus menjadi alat penangkis beberapa jebakan di persimpangan pertama tadi. Pertama, keyakinan bahwa pujian manusia itu semu, tidak memberikan kebahagiaan yang sebenarnya. Kedua, keyakinan bahwa apa yang dilakukan adalah bagian dari misi yang diberikan Allah, tunaikan saja sesuai requirement-Nya, tidak perlu risau dengan penilaian. Ketiga, keyakinan bahwa kita ini NOL, ga punya kekuatan apapun, bahkan untuk sekedar menggerakkan lidah, karena semua kekuatan adalah milik Allah SWT.

Shalat itu Penjaga

Shalat itu benar-benar penting!!

Setiap shalat yang kita lakukan itu seakan kita menanam sebuah benih, yang akan tumbuh menjadi pagar penjagaan dalam kehidupan kita. Shalat demi shalat akan membuat pagar tersebut semakin kokoh. Apalagi jika kemudian kita menambahkannya dengan shalat-shalat rawatib, qabliyah dan ba’diyah, pasti semakin rapat pagar penjagaan itu.

Ada yang mulai meragukan fadhilah shalat yang dilakukannya, katanya kok tidak dirasakan hal-hal positif setelah sekian lama dirinya melakukan shalat. Ya jelas saja tidak merasakan, karena dirinya berada dalam pagar rapat yang menghadang gempuran marabahaya yang datang.

Ada yang berani tidak shalat? Mungkin yang berani itu adalah mereka yang memang udah mempersiapkan diri untuk menghadapi musibah, lilitan hutang atau tidak sakinahnya keluarga … Naudzubillah …

Jadi … Ayo shalat, jangan ditunda-tunda …

Dualisme Cinta

Manusia selalu mencari cinta. Itu sudah kodratnya, karena dengan menemukan cinta kita akan menemukan kebahagiaan. Sakinah hati, damai dalam menjalani hidup ini.

Masalahnya adalah, seringkali kita tidak menemukan cinta di setiap area tempat kita berjuang sehari-hari. Ada yang menemukan cinta di rumah, tetapi tidak di kantornya. Ada yang punya cinta di kantor, di sekolah, tetapi di rumahnya sendiri malah kering akan cinta. Inilah yang disebut sebagai ambiguitas kehidupan, kita memiliki beberapa frekuensi cinta dalam hidup. Akibatnya, bisa jadi kita akan memeiliki beberapa kepribadian, berlaku dengan gaya tertentu di rumah, bertindak gaya lain di kantor.

Ideal adalah ketika kita memiliki frekuensi kehidupan yang sama, baik di rumah, di kantor, di pasar, di klien, dan dimana pun kita berada. Kita selalu memiliki cinta yang sama. Inilah ketika kita memiliki kehidupan yang utuh, satu kepribadian, tidak terbelah-belah.

Nah, cinta yang frekuensinya sama dimanapun ia berada hanyalah cinta Allah, cintanya orang-orang yang mencintai dan dicintai Allah. Jika semua tempat memiliki atmosfir cinta jenis ini, kebahagiaan karena konsistensi cinta otomatis kita rengkuh.

Maka, kita harus proaktif untuk menyamakan frekuensi cinta ini. Mulailah dengan doa dengan sebuah doa yang diajaran oleh Rasulullah SAW, “Ya Allah karuniakan kepadaku kecintaan kepada-Mu, kecintaan kepada orang yang mencintai-Mu dan kecintaan apa saja yang mendekatkan diriku pada kecintaan-Mu”.

Selanjutnya, memilih kantor tempat bekerja, menentukan pekerjaan yang akan ditekuni, bahkan memilih tempat rekreasi sekalipun, kita harus menempatkan kesamaan frekuensi cinta ini sebagai filter utama. Jangan memilih sesuatu hanya berdasar cinta atas hal-hal yang nampak dan duniawi semata. Pahami dan hayatilah sebuah doa indah di QS AL Mukminun, “Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat.”

Untuk yang Merindukan SOLUSI

Siapa di antara sahabat semua yang saat ini sedang tidak punya masalah? Adakah? Hmm, rasa2nya hampir semua dari kita berada dalam pusaran masalah, entah besar atau kecil, entah sederhana atau rumit. Ada mahasiswa yang pusing karena skripsi tak kunjung usai, ada pemuda yang galau jodoh, ada ibu yang berhari2 ga tenang tidur karena biaya sekolah anak, ada pula seorang direktur perusahaan yang pening memikirkan hutang yang terus melilit.

Semua kita yang bermasalah merindukan perjumpaan dengan dia yang menamakan dirinya SOLUSI.

Tak jarang, kita sudah berjibaku sana sini, namun pemecahan masalah tak ditemukan juga. Berputar-putar aja kita, seperti terkurung dalam sebuah ruangan bertembok tebal tak berpintu, tidak ada jalan keluar.

Ternyata … Ternyata …

Ternyata, yang namanya solusi itu ga jauh dari tempat dia berdiri. Solusi itu dari kemarin ada di tempatnya berada, ga kemana2. Hanya saja, antara kita dan solusi terpisahkan oleh sebuah tembok. Itulah tembok taubat dan tawakal.

Ternyata, itulah rahasianya. Anda bermasalah? Segera lakukan taubat, inventarisir dengan serius dosa2, istighfari benar2. Lalu bertawakallah, nol-kan diri, percaya sama Allah, sandarkan segalanya padaNya. Berdialoglah, curhatlah hanya pada Dia Yang Maha Mendengar.

Kalau sudah taubat & tawakal, berarti kita telah berhasil melewati hadangan tembok penghalang tadi. Selamat menemukan SOLUSI

Alangkah Indahnya

Alangkah indahnya jika langkah demi langkah kita dibimbing oleh Dia Yang Maha Tahu seluk beluk kehidupan ini. Ketika bertemu marabahaya langkah kita dibelokkan. Ketika bertemu kesempatan, langkah kita dimantapkan.

Alangkah indahnya jika pikiran, ide dan gagasan kita dibimbing oleh Dia Yang Maha Pandai atas segala ilmu. Ide-ide cemerlang dimunculkan, mendobrak segala kebuntuan yang ada. Hikmah-hikmah jitu pun dibuka, menjadi pembelajaran terbaik di setiap kejadian.

Alangkah indahnya jika keinginan kita dibimbing oleh Dia Yang Maha Menguasai Kejadian. Itulah ketika segala keinginan akan bertemu dengan takdirnya.