Membaca Petunjuk, Memahami Allah Al Hadiy

Dilema. Bingung atas berbagai pilihan. Galau kata anak jaman sekarang. Sepertinya kita sering mengalami perasaan tersebut. Tua atau muda, pria atau wanita semua menghadapi dinamika perasaan seperti itu.

Ya, hidup memang rangkaian pilihan satu ke pilihan berikutnya. Mulai dari bangun tidur sampai kita tidur kembali kita melakukan aktivitas memilih. Dari sekian banyak episode pemilihan tersebut, terdapat waktu-waktu tertentu dimana kita terjebak dalam dilema. Apakah saya harus melakukan A atau B? Apakah saya harus menolak atau menerima? Benarkan dia pilihan tepat? dan sebagainya.

Pertanyaannya, bagaimana kita mengatasi dilematika seperti itu?

Mari kita ingat tentang Allah Al Hadiy, Allah Yang Maha Memberi Petunjuk. Pada dasarnya “petunjuk” itu tersebar di sekitar kita, terhampar dalam rangkaian kejadian demi kejadian. Namun, sayangnya kita seringkali tidak menyadarinya. Tuhan Maha Baik, kadang kita dicolek supaya sadar dengan petunjukNya. Namun, tetap saja kita tak menyadarinya.

Hmm, mungkin disinilah pangkal masalahnya. Petunjuk telah disiapkan olehNya, tetapi kita terus berkutat dengan dilema karena kita tidak peka. Dan, rasa-rasanya ketidakpekaan tersebut disebabkan oleh hati kita tumpul, mata hati kita rabun. Ya, hati kita tidak lagi menjadi cermin yang dapat memantulkan refleksi kejadian yang sejatinya petunjuk buat kita.

Jika demikian, prioritas kita jika ingin membaca petunjukNya yang hebat itu adalah dengan membersihkan hati …

Hanya Keselamatan dan Kebaikan yang Datang dariNya (As Salaam)

Ketika kita belajar mengenali Tuhan melalui asmaulhusna Al Malik, terbayang oleh kita Sang Raja yang kekuasaannya tidak tertandingi. Dia tidak sekedar menguasai makhluk, tetapi Dia juga menguasai kejadian dan takdir yang meliputinya. Bayangkan jika sifat Al Malik tersebut melekat pada manusia, mungkin kita akan khawatir adanya penyalahgunaan kekuasaan. Sejarah membuktikan betapa banyak penguasa yang dzalim karena kekuasaannya yang tidak terkendali.

Nah, Allah adalah As-Salaam. Dengan kekuasaan yang tidak terbatas tersebut, Dia mengajarkan kepada kita tentang salah satu julukanNya yang menyejukkan, yaitu As-Salaam. Allah sebagai As-Salaam bermakna bahwa hanya keselamatan dan kebaikan sajalah yang datang dariNya. Segala perbuatanNya akan terhindar dari keburukan dan kejahatan. Dari sini kita memahami Tuhan sebagai sumber keselamatan dan kebaikan. Tidak ada dalam takdirNya yang mengandung keburukan bagi makhluk-makhlukNya.

Bukan sekedar kebetulan Asma As-Salaam ditempatkan di urutan keenam setelah Al Malik dan Al Quddus. Semacam sebuah garansi, bahwasannya Dia yang Maha Kuasa dan Maha Sempurna itu tidak akan mengijinkan sesuatu yang terjadi atau tercipta dengan KekuasaanNya melainkan sebuah kebaikan dan keselamatan. Dengan pemahaman ini, semakin kokohlah keyakinan kita untuk selalu berbaik sangka kepada Allah.

Pada tingkat pemahaman berikutnya, As-Salaam memberikan pengertian bahwa Dia tidak sekedar melahirkan kebaikan dan keselamatan, tetapi dariNya lah bersumber segala kebaikan di muka bumi ini. Maka, Salaam dalam arti kebaikan, keselamatan dan kesejahteraan yang terkait pada manusia (baik sebagai subyek maupun obyek) pasti berasal dari Allah. Jika menginginkan keselamatan dalam kehidupan ini, mintalah kepada Allah, karena Dialah sumber keselamatan itu. Jika mendambakan kehidupan yang bermanfaat dengan menjadi sumber kebaikan buat manusia lain, mintalah kepada Allah, karena Dialah sumber segala keselamatan dan kebaikan.

Maka, pantaslah jika kita pancangkan doa di setiap selesai shalat, Allahumma Antassalaam (Wahai Allah, Engkaulah As-Salaam), Wa Minkassalaam (dariMu bersumber As-Salaam), Wa Ilaika Ya’udussalaam (kepadaMu kembalinya As-Salaam), Fahayyina Rabbana Bissalaam (maka Hidupkanlah kami dengan As-Salaam), Wa Adkhilnal Jannata Daarassalaam (dan masukkanlah kami kelak ke surga, negeri As-Salaam).

Dia Yang selalu Menemukan Kita (Al Waajid)

Ketika sebuah masalah menghimpit ruang dada, perasaan yang paling sering kita rasakan adalah kesendirian. Kita merasa tidak ada kawan yang menemani, tidak ada pula sahabat yang menyertai. Padahal, sebenarnya kita tidak pernah sendiri, karena selalu ada Allah Al Waajid.

Al Waajid adalah salah satu nama Allah (asmaul husna) yang berarti “Maha Menemukan”. Dimanapun dan bagaimanapun permasalahan yang kita alami, Dia akan Menemukan keberadaan kita. Tidak hanya itu, Dia akan membawa solusi yang bahkan seringkali tidak kita sadari.

Konteks terbaik untuk memahami Al Waajid adalah Surat Adh-Dhuha dalam Al Quran. Ketika itu, saat Sang Rasul gundah gulana karena wahyu yang tidak kunjung datang. Beliau khawatir Tuhan telah meninggalkannya. Lalu, turunnya turunlah Surat Adh-Dhuha dimana beliau mendapat jaminan bahwa dirinya tidak akan pernah ditinggalkan olehNya.

Sang Rasul diminta tidak pernah sangsi lagi tentang kehadiran Allah. Hal ini disampaikan melalui kalimat retoris dalam Surat Adh-Dhuha itu sebagai berikut:

Bukankah Dia ‘menemukanmu’ sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia ‘menemukanmu’ sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk? Dan Dia ‘menemukanmu’ sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan?

Mari kita renungkan hidup yang telah kita jalani. Betapa berulang kali kita berada pada kondisi kekurangan atau kebingungan, toh ternyata semua itu dapat kita lewati dengan baik. Solusi selama ini mungkin berwujud berupa kehadiran seseorang tertentu atau sumber rizki tertentu, namun jika kita renungkan lebih dalam, mata hati kita akan melihat adanya campur tangan Allah di setiap kejadian itu.

Jika kita telah memiliki keyakinan mendalam tentang Al Waajid, maka kita akan melihat betapa pasang surut peristiwa yang kita alami selalu diwarnai dengan kehebatan skenario Allah dalam merancang kejadian-kejadian. Terlihat jelas betapa Dia tidak pernah absen dalam kehidupan kita, Dia selalu hadir, menemukan kita, dimanapun, bagaimanapun keadaannya.

Jika sudah demikian, mengapa sekarang kita harus bermuram durja, ketika ada manusia lain mengecewakan kita. Mengapa kita harus bersedih ketika sebuah peristiwa luput dari ekspektasi? Tegaskan keyakinan tentang Al Waajid, optimis Al Waajid menemani kita, bukankah setiap kejadian terjadi atas ijinNya?

Asy Syakuur

Asmaul Husna Asy Syakur termasuk yang jarang kita dendangkan, setidaknya berdasar pengalaman hidup saya. Namun, setelah mempelajari maknanya, subhanallah, Allah memang Maha baik …

Asy Syakur banyak diartikan sebagai Yang Maha Mensyukuri, dalam konteks Dia yang Selalu membalas perbuatan baik hamba-hambaNya dengan lebih baik dan lebih banyak. Selangkah mendekat padaNya, seribu langkah Dia mendekat pada kita. Dalam berbagai ayat Quran pun sering difirmankan, setiap perbuatan baik yang kita lakukan, Asy Syakuur selalu melipatgandakan balasanNya.

Perumpamaan [nafkah yang dikeluarkan oleh] orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan [ganjaran] bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas [karunia-Nya] lagi Maha Mengetahui. QS Al Baqarah: 261

Asy Syakuur juga terwujud secara presisi. Setiap amal kebaikan, sedetail dan sekecil apapun, terang atau tersembunyi, semua pasti mendapatkan ganjaran dan balasan kebaikan. Tidak ada yang luput, tidak ada yang terabaikan.

Mengenal Asy Syakuur, membuat kita tidak pernah ragu lagi untuk beramal. Bahkan kita tidak bisa meremehkan lagi amal-amal kecil yang tampaknya sepele, karena sebenarnya kita tidak pernah tahu dari amal yang mana keberkahan dan rahmat Allah berasal.

Wakilkan kepada Sang Wakiil

Mari kita berhenti sejenak, lalu merenungkan kekuasaan Allah sebagai Al Malik. Dialah penguasa makrokosmos yang mendesain dan memberi energi pada langit, bumi dan segala isinya. Dialah pula yang menguasai mikrokosmos yang menciptakan dan menghidupkan sel, mengatur proses fotosintesis pada tumbuhan dan juga yang mengalirkan darah dalam tubuh kita dalam jumlah yang sangat presisi …

Dengan kasih sayang Ar-Rahman, kekuasaan Sang Malik tersebut dapat kita rasakan dalam berbagai kebaikan dan kemaslahatan di sekitar kita, tanpa peduli orang baik atau jahat. Kita menghirup udara segar, kita beraktivitas tanpa tahu mekanisme kerja sel & otot dalam diri kita. Kita menyantap hidangan makanan dan minuman, setiap hari, tanpa memikirkan rantai ekosistemnya …

Jika sedemikian besar yang bisa Allah lakukan, pertanyaannya adalah mengapa dalam penyelesaian berbagai macam urusan kita tidak minta tolong saja kepada Allah untuk menyelesaikannya?? Mengapa seringkali kita terlalu “PeDe” untuk menyelesaikan segala hal sendiri?? Mengapa seringkali kita “ngotot” menyelesaikan segala sesuatu dengan cara kita sendiri?? bukankah Allah adalah juga penguasa kejadian? bukankah tidak ada kejadian terjadi tanpa ijinNya?

Maka, marilah kita libatkan Allah di setiap tarikan nafas kita. Karena Dia adalah Al Wakiil, yang akan menyempurnakan segala apapun yang kita mulai …

Ketika kita berniat atas sebuah amal tertentu, mungkin ada cacat dalam niat itu, maka kita perlu campur tangan Allah untuk meluruskannya. Ketika kita melakukan ikhtiar, bisa jadi banyak kekurangan sehingga tujuan yang ditetapkan terancam tak tercapai, maka kita perlu intervensi Sang Penguasa Kejadian untuk menyempurnakan … Namun, dalam kenyataannya, seringkali kita tidak menjadikan Allah sebagai ‘backup’ utama, lalu kita terjebak dalam stress karena mentok … padahal sesungguhNya ada Allah Al Wakiil yang senantiasa siap membuka jalan dan memberi pertolongan

Itulah yang disebut dengan tawakal, ketika kita memiliki pengenalan kepada Allah sebagai Al Wakiil, sedemikian rupa sehingga di setiap tarikan nafas kita selalu mengandalkan Allah dalam setiap penyelesaian segala sesuatu …

Rabb, tolong ya Rabb, hadirkan selalu kesadaran dalam diri kami untuk selalu bertawakal kepadaMu … hanya kepadaMu …

Menjadi Abdul Malik

Kekuasaan Allah meliputi segala hal, meluas dan mendalam. Maka, segala sesuatu yang ada dalam semesta ini tunduk kepadaNya. Dengan kemurahanNya, Allah kemudian memberikan kekuasaan kepada kita. Mari kita simak beberapa ayat QS. AL Hajj berikut ini:

64. Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. dan Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

65. Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya. dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.

66. Dan Dialah Allah yang telah menghidupkan kamu, kemudian mematikan kamu, kemudian menghidupkan kamu (lagi), Sesungguhnya manusia itu, benar-benar sangat mengingkari nikmat.

Begitulah Allah menganugerahkan kekuasaan kepada kita dengan cara ditundukkanNya alam raya ini sebagai infrastruktur kehidupan kita. Beberapa penegasan tentang hal itu dapat juga kita lihat dalam beberapa ayat di QS. Yaasiin sebagai berikut:

33. Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, Maka daripadanya mereka makan.

34. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air,

35. Supaya mereka dapat Makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka Mengapakah mereka tidak bersyukur?

36. Maha suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.

……..

71. Dan Apakah mereka tidak melihat bahwa Sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka Yaitu sebahagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami sendiri, lalu mereka menguasainya?

72. Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka; Maka sebahagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebahagiannya mereka makan.

73. Dan mereka memperoleh padanya manfaat-manfaat dan minuman. Maka Mengapakah mereka tidak bersyukur? 

Bayangkan jikalau dalam kehidupan ini kita tidak memiliki kekuasaan atas binatang ternak dan tanaman. Maka, dengan kekuasaanNya, Allah tunduk itu semua untuk kita. Bahkan beberapa manusia pilihan diberikan kekuasaan lebih sebagai Raja Dunia … Misalnya seperti yang dinyatakan dalam QS. Al Anbiyaa  …

 

78. Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu,

79. Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat)[966]; dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan Hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. dan kamilah yang melakukannya.

80. Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu; Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah).

81. Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami telah memberkatinya. dan adalah Kami Maha mengetahui segala sesuatu.

82. Dan Kami telah tundukkan (pula kepada Sulaiman) segolongan syaitan-syaitan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain daripada itu, dan adalah Kami memelihara mereka itu, 

Semoga kita semua menjadi Abdul Malik, hambaNya yang penuh amanah melakukan kemanfaatan atas segala kekuasaan yang diberikan Sang Raja … 

Sang Raja

Dalam kehidupan ini kita mengenal istilah Raja untuk menggambarkan seorang yang memiliki kekuasaan. Raja disebut juga dalam berbagai sebutan seperti Kaisar, Ratu, Sultan, dan sebagainya. Dalam arti luas, di jaman demokrasi ini, Presiden dan Perdana Menteri dapat pula dikategorikan sebagai Raja. Orang-orang yang digelari Raja tersebut memiliki kekuasaan melakukan sesuatu yang mempunyai sifat “paksaan”, dalam arti mereka memiliki infrastruktur sehingga apa yang diperintahkan atau diinginkan mudah untuk dilaksanakan. Dengan kondisi tersebut, Sang Raja ini langsung maupun tidak langsung memiliki kendali atas kehidupan kita.

Dalam Asmaul Husna kita juga mengenal Asma Allah sebagai Sang Raja, yaitu Al Malik. Namun, Allah sebagai Sang Raja sangat jauh berbeda dengan persepsi kita tentang Raja seperti yang biasa kita lekatkan ketika kita berpikir tentang Raja-Raja manusia. Perintah seorang raja manusia bisa saja tidak ditaati atau dibantah. Kehendak raja manusia juga memiliki kekuatan terbatas sampai kadar tertentu. Tetapi, keterbatasan itu tidak ada pada Sang Raja Allah SWT, karena dialah Sang Raja yang mutlak kekuasanNya.

Allah Al Malik memiliki makna yang luar biasa, yang jika makna tersebut merasuk dalam qolbu, kita akan tersungkur menyadari betapa tidak berdayanya diri ini.

Dalam memahami Al Malik, kita dapat mengambil hikmah dari cuplikan firman Allah yang kerap diulang dalam AL Quran, yaitu “Wa Huwa ‘Alaa Kulli Syai in Qadiir” yang bermakna Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Allah Al Malik memiliki kekuasaan atas segala sesuatu. Secara meluas, makna penguasaan atas segala sesuatu disini menunjukkan penguasaan atas keseluruhan obyek yang ada di alam semesta, mulai dari yang besar seperti galaksi sampai yang terkecil seperti sel. Semua isi langit dan bumi berada dalam genggamanNya. Maka ketika kita melihat apapun di dunia ini, dalam benak kita seyogyanya tertanam “makhluk atau benda ini dalam genggaman kekuasaan Allah”

Secara mendalam, penguasaan atas segala sesuatu digambarkan sebagai penguasaan  secara mendetail atas apa-apa yang terdapat dalam setiap obyek yang ada di alam semesta.  Allah menguasai bumi, dan lebih dari itu Sang Malik menguasai sistem rotasi bumi, siklus iklimnya, juga cara kerja atmosfirnya. Maka, ketika kita mengatakan Allah menguasai diri seorang manusia, Allah juga menguasai metabolismenya, peredaran darahnya, juga sistem mekanistik gerak tubuhnya …

Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. 57:2)

Demikianlah, kekuasaan Allah sebagai Sang Malik benar-benar mutlak. PerintahNya tak terbantahkan, kehendakNya tak terhalangi. Jika Allah menghendaki sesuatu pasti akan terjadi, karena semua obyek di semesta ini berikut semua sistem dan sub sistem kehidupan berada dalam genggamanNya, semuanya takluk dan tunduk kepadaNya.

Mari kita semua meletakkan segala harapan hanya kepada Allah, Sang Malik yang perintahNya tak terbantahkan dan kehendakNya tak terhalangi …

Tawakal adalah menjadikan Allah sebagai Al-Wakiil ..

Suatu waktu dalam hidup, kita pasti pernah mengalami suatu kondisi “sempit” dimana kita merasa “mentok”, kita tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Segala cara telah dicoba, beberapa alternatif telah dijalani, begitu pula semua tenaga telah dikerahkan. Namun, entah mengapa kita tidak berhasil mencapai titik akhir yang kita tuju …

Di suatu waktu yang lain, kita pasti akan mengalami suatu keadaan “lapang” dimana kita merasa puas atas apa yang telah kita lakukan. Target telah terlampaui, tujuan telah tercapai, atau harapan-harapan telah terpenuhi. Pada saat demikian kita merasa telah berhasil …

Dalam dua kemungkinan tersebut, sebenarnya kita tidak pernah mengetahui pada kondisi yang mana kita telah mencapai kesempurnaan atas apa yang kita lakukan. Kita mempunyai ekspektasi tentang suatu kesempurnaan, namun belum tentu ekspektasi tersebut disukai Allah. Padahal, kesempurnaan yang hakiki adalah segala hal yang disukasi Allah dan membuatNya ridha …

Keterbatasan kemampuan dan pengetahuan membuat kita hampir tidak mungkin mencapai kesempurnaan tanpa bantuan “tangan” lain yang paham betul tentang kesempurnaan itu. Kita membutuhkan Allah untuk menyempurnakan pekerjaan kita.

Maka, ayo kita jadikan Allah sebagai Wakil kita untuk menyempurnakan segala urusan yang kita punyai. Bukankah demikian kehendak Allah? Seperti dinyatakan dalam ayatNya “Hasbunallah Wa ni’mal Wakiil

Allah Al Quddus

Allah yang Maha Quddus adalah Allah yang sangat sempurna. Kesempurnaan paripurna, kesempurnaan yang berada pada tingkat yang paling tinggi. Sempurnanya Sempurna.

Allah yang Maha Quddus adalah Allah yang Maha Suci (dari segala imajinasi makhluk). “Saking” sempurnanya, kesempurnaanNya itu tidak dapat dibayangkan oleh manusia, tidak terjangkau oleh indera, tidak dapat dikhayalkan oleh imajinasi, tak tertebak oleh dugaan bahkan tidak pernah terlintas dalam nurani dan pikiran.

Itulah Allah, Sang Quddus, yang tiada alasan bagi kita untuk tidak memuja dan mengabdi hanya untukNya.

Dia yang Kasih SayangNya tak terhingga

Mungkin kita sering kita berpikir betapa hebatnya kasih sayang ibu kepada kita. Sembilan bulan mengandung, menyusui, dan mengajari bicara. Ibu kita juga yang berpeluh menjaga kita, kadang berhutang untuk membelikan sepatu buat kita. Sungguh luar biasa kasih sayang ibu.  

Kini, mari kita merenung sejenak. Jika kasih sayang ibu saja sebesar dan sehebat itu, seberapa dahsyat sebenarnya kasih sayang Allah??

Rasulullah pernah bersabda : “Allah SWT menjadikan rahmat itu 100 bagian, disimpan disisiNya 99 bagian, dan diturunkanNya ke bumi ini 1 bagian. Yang satu bagian inilah yang dibagi ke seluruh makhluk, (yang tercermin antara lain) pada seekor binatang yang mengangkat kakinya dari anaknya terdorong oleh kasih sayang, kuatir jangan sampai menyakitinya” (HR. Muslim)

Bayangkan di bumi ini ada 100 milyar makhluk, mulai dari manusia, binatang, tumbuhan, bakteri dan segala macam baik yang kita ketahui maupun tidak kita ketahui. Jika seorang ibu adalah 1 dari 100 milyar makhluk itu, berarti ibu tersebut mewarisi 1 per 100 per 100 milyar atau 1 per 10 Trilyun atau 0,00000000001 % kasih sayang Allah.

Begitu juga ketika dada kita membuncah ketika mengagumi kasih sayang yang ditunjukkan seekor gajah, burung, atau makhluk aneh di dasar laut. Ternyata itu hanyalah 0,00000000001 % kasih sayang Allah. Bagaimana gemuruhnya perasaan kita kalau suatu saat kelak berjumpa dengan Allah dan merasakan langsung kasih sayangnya yang 99% ….

Ya Rabb, aku rindu bertemu denganMu …

Dia Yang Selalu Menutupi Keburukan …

Sungguh mendamaikan hati, mengenali Allah sebagai Al Ghaffaar …

Kalau saja kita mau jujur dan apa adanya, rasa-rasanya malu diri ini berada di depan banyak orang, karena begitu banyak cela melekati diri ini. Ingatlah betapa sering perintah Allah kita tinggalkan, absen shalat, malas puasa, enggan zakat karena cinta harta. Belum lagi dosa karena durhaka atau aksi-aksi maksiat yang beraneka rupa, pandangan yang tak terjaga, mulut yang berdusta atau pikiran kotor yang memenuhi benak. Dengan berbagai atribut dosa itu, seharusnya kita tidak lagi memiliki kewibawaan

Tapi ternyata toh kita masih bisa berdiri tegak, melangkah dengan gagah di depan banyak kolega kita. Mereka semua ternyata tidak tahu menahu tentang segala atribut dosa yang kita miliki. Ternyata, segala kekurangan, cela, dan dosa kita tertutupi. Istri kita tidak tahu betapa buruknya kemampuan kita menjaga pandangan, teman kerja kita tidak sadar betapa gemarnya kita bergunjing tentang mereka, atasan kita bahkan sering tertipu kalau di balik muka lugu dan penurut ini tersimpan jiwa konspirasi yang siap menjatuhkan dirinya. Tetangga mengangguk hormat setiap kali kita lewat, tidak tahu mereka siapa  kita sebenarnya ..

Itulah indahnya mengenali Allah sebagai Al Ghaffaar … 

Ternyata, Dia, Al Ghaffar yang melakukan itu semua. Allah menutupi segala keburukan kita, sedemikian rupa sehingga istri, teman, dan siapapun yang ada di sekitar kita tetap mengenali diri ini sebagai pribadi yang baik-baik saja. Allah yang menyembunyikan kekuarangan diri kita, yang membuat diri kita tetap terhormat di depan anak-anak kita …

Ah, ternyata, segala “kehebatan” yang kita anggap kita punyai ini bukan karena prestasi kita. Ternyata segala popularitas yang kita miliki bukan karena pribadi ini baik-baik amat. Ya, ternyata, itu semua karena segala kenistaan diri ini ada yang menutupi … Allah yang menutupi!!

Bayangkan jika Allah membiarkan kita dengan segala dosa yang ada dan semua orang tahu perilaku dan kualitas diri kita yang sebenarnya, maka tiadalah guna segala gelar, jabatan, dan harta yang kita punya …  

Al Ghaffar. Itulah nama mulia yang terambil dari kata “ghafara (menutup)”, yang menurut Imam Ghazali berarti “Yang menampakkan keindahan dan menutupi keburukan”. Hujjatul Islam ini menjelaskan ada tiga hal yang ditutupi Allah. Pertama, jasmani manusia yang tidak sedap dipandang mata, ditutupi dengan keindahan lahiriah. Kedua, segala suara hati yang buruk yang berseliweran dalam benak manusia. Seandainya suara-suara itu tidak ditutupi Allah, dan terbaca oleh manusia lain, entah bagaimana kekacauan yang akan terjadi. Ketiga, dosa dan pelanggaran manusia …

Oh, sungguh mendamaikan hati, mengenali Allah sebagai Al Ghaffar …

Dia Yang Selalu Memaafkan

Sungguh mendamaikan hati, mengenali Allah sebagai Al Ghafuur …

Bagaimana tidak, diri ini setiap hari mengalami kegelisahan yang sangat, karena dosa-dosa yang terus saja tercatat, dari yang kecil sampai yang besar, yang sengaja maupun tidak sengaja. Akibatnya, hati ini tertutup terhadap ayat-ayat Allah yang tersebar begitu banyak di sekitar kita. Cermin hati tidak lagi bening, karena tebalnya debu-debu yang menempelinya, sehingga cerminnya tidak mampu lagi memantulkan cahaya Allah yang suci, terang dan menerangkan. Akhirnya, hati tak lagi tergetar mendengar nama Allah, kering rasanya …

Begitulah kegelisahan itu hadir, mengalirkan rasa takut akan hilangnya kasih sayang Allah, menghembuskan hawa kecemasan akan terputusnya rizki dari sang Maha Kaya, dan di ujungnya menghadirkan putus asa!!

Sungguh mendamaikan hati, mengenali Allah sebagai Al Ghafuur …

Dialah yang selalu memaafkan segala dosa, bagi siapa saja yang menyesali kesalahannya. Dia mengajarkan dan mengajak kita untuk selalu bermohon, karena sungguh ampunanNya sangat luas. “Dan mohonlah ampunan kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampung (Al Ghafuur) dan Maha Penyayang (Ar Rahiim)” (QS. Al-Muzzammil; 20). Bahkan dengan kasih sayangNya, dosa-dosa dijadikan hikmah, sehingga bagi pelakunya menjadi momentum perbaikan diri ..

Pantas saja Syaikh Ibnu Athoillah di dalam kitabnya, Al Hikam, menasehatkan, “Jika terlanjur berbuat dosa maka janganlah hal itu sampai menyebabkan patah hatimu untuk mendapatkan istiqamah kepada Tuhanmu. Sebab, kemungkinan yang demikian itu sebagai dosa terakhir yang telah ditaqdirkan bagimu.”

Memahami Tuhan sebagai ILLAH & RABB …

Allah SWT mengajarkan dua jenis “positioning” keTauhidan kepada kita semua melalui penyebutan Illah dan Rabb. Kedua kata tersebut secara bergantian digunakan sebagai kata ganti nama Allah, baik dalam kalimat-kalimat di Al Quran maupun dalam lantunan doa-doa yang diajarkan oleh Rasulullah dalam hadist-hadistnya.

Menarik bagi kita semua untuk kemudian memahami kandungan makna dalam kata Illah dan Rabb, agar meingkatkan kualitas dzikir hati kita di setiap saat kita menyebut kata-kata tersebut. Kedua kata tersebut merujuk pada kata Tuhan, tetapi dengan penekanan yang berbeda.

Illah menunjuk pada makna Allah sebagai Tuhan yang Maha Sempurna. Tuhan yang memiliki kekuasaan tiada batas. Raja Diraja, King of The King, yang berada di tahta tertinggi. Dia tidak tersentuh. Kesempurnaan dan Kekuasaannya tidak mampu kita lukiskan dalam imajinasi.

Rabb menunjukkan Tuhan yang keberadaannya senantiasa hadir dalam kehidupan kita, mengatur peredaran tata surya, menumbuhkan berbagai flora dan menghadirkan hujan. Rabb adalah Tuhan yang merasuk dalam diri kita, mendetakkan jantung, mengalirkan darah bahkan dalam pembuluh-pembuluh sempit. Dialah Tuhan, yang tanpaNya tiadalah kehidupan ini.

Maka, dengan pemahaman tersebut, kita akan menemukan betapa indah ukiran pujian untuk “Illah” dan “Rabb” yang diukir dalam kalimat hamdalah. Alhamdu-Lillahi-Rabbil ‘Alamiin, sebuah ungkapan syukur yang bermakna sangat dalam. Secara substansial kalimat hamdalah tersebut kita maknai, “Segala bentuk puja-puji (baik yang bisa kita berikan maupun bentuk lain yang tak sanggup kita ungkapkan) hanyalah untuk Tuhan sang Illah yang luar biasa yang bertahta di singgasananya, Tuhan sang Rabb yang menguasai, mengatur dan memelihara alam semesta raya“.

Bertasbih & Bertahmid

Ada sebuah rahasia besar dalam ungapan Tasbih  (Subhanallah) dan Tahmid (Alhamdulillah) ..

Lihatlah Al Quran Surat Al Hijr (15) ayat 97-98, ketika Nabi mendapati kesedihan dan himpitan dada karena perilaku orang-orang di sekitarnya, perintah yang turun adalah BERTASBIH dan BERTAHMID. QS 15 ayat 97-98: Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan. Maka bertasbihlah dengan memuji TuhanMu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud.

Pada saat kesulitan menimpa kita atau ketika berbagai cobaan serasa menghimpit dada, anjuran yang muncul adalah bertasbih. Dan ternyata, anjuran itu tidak hanya muncul pada saat kita mengalami kesusahan, sebaliknya juga pada saat kelapangan …

Lihatlah Al Quran Surat An Nashr (110), ketika Nabi mendapatkan kemenangan besar seiring dengan penaklukan Mekkah, bukan perayaan yang dilakukan, tetapi BERTASBIH baru kemudian BERTAHMID. QS 110 ayat 3 : Maka bertasbihlah dengan memuji TuhamMu dan mohonlah ampun kepadaNya …

Jadi, apapun yang menimpa kita, episode apapun yang kita alami dalam hidup, cara menata hati untup siap menghadapi adalah dengan bertasbih dan bertahmid …. 

Mengapa demikian?

Ungkapan “Subhanallah” sering diartikan dengan Maha Suci Allah. Tetapi, terdapat makna yang jauh lebih dalam dan indah. Subhanallah mempunyai makna bahwa Allah terjaga, terjauhkan, terhindarkan dan tersucikan dari segala bentuk kesalahan. Maka, ciptaanNya pasti sempurna, skenarioNya pasti tiada cela, dan hamparan kejadian yang ditakdirkan untuk kita pastilah kebaikan sesuai kondisi kita.

Dengan pemahaman itu, maka seharusnya tidak ada kata lagi yang bisa terucap dalam kondisi apapun selain “subhanallah”. Tidak akan ada kesedihanyang terlalu mendalam dan kegembiraan yang berlebihan dalam episode-episode hidup kita, karena kita memiliki sebuah kesadaran bahwa apapun yang terjadi semuanya dalam bingkai ke-Maha Suci-an Allah.

Jikalau demikian, memang sudah sepantasnya jika batin ini secara refleks mengucap “Alhamdulillah” dalam segala situasi …

Wallahualam

Asmaul Husna

Dalam Islam, pengenalan atas Tuhan ditempatkan sebagai suatu proses penting dalam kehidupan. Pengenalan atas Tuhan diharapkan akan menghasilkan pemahaman komprehensih tentang kehidupan, tentang manusia yang menjalani hidup, dan akhirnya tentang Tuhan sendiri sebagai yang menciptakan hidup.

Salah satu cara untuk lebih mengenal Tuhan adalah dengan memahami “Asmaul Husna” atau nama-nama yang baik untuk Allah yang sebenarnya menunjukkan sebagian kecil karakter dan pensifatan Tuhan yag bisa dijangkau oleh akal pikiran manusia. Para Ulama mendokumentasikan setidaknya terdapat 99 nama mulia untuk Allah yang kesemuanya terabadikan dalam Al Quran. Nama-nama tersebut antara lain Ar Rahman, Ar Rahiim, Al Malik, Al Qudduus, As Salaam, Al Mukmin, dan seterusnya.

Proses pengenalan atas Tuhan asmaul husna dimulai dari pemahaman kita terhadap arti dari nama-nama tersebut ditinjau dari segala aspek mulai dari semantik, pembentukan kata, sampai sejarahnya. Dilanjutkan dengan proses kontemplasi dan perenungan, untuk kemudian diwujudkan dengan perubahan pola sikap dan pola pikir kita sebagai upaya meneladani segala keagungan yang terindah dari nama-nama tersebut.